Berita Bethel
Penulis: Pram (21/01/2019)
Ketum PGI: WPCU 2019 Momen untuk Mewujudnyatakan Keadilan dan Damai Sejahtera

Seluruh umat Kristen di dunia, termasuk Indonesia, merayakan Week of Prayer For Christian Unity (WPCU) 2019 atau Pekan Doa se-Dunia untuk Kesatuan Gereja, yang mengusung tema “Kejarlah Keadilan” (Ulangan 16:20).

Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI), yang terdiri dari Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII), Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI), Persekutuan Baptis Indonesia (PBI), Bala Keselamatan (BK), Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) dan Gereja Orthodox Indonesia (GOI), bersama Jaringan Doa Nasional (JDN), meluncurkan WPCU 2019 dan sekaligus menggelar ibadah di Gereja Bala Keselamatan Jl. Kramat Raya 55, Jakarta Pusat, Jumat (18/1).

Ketua Umum PGI, Pdt. Dr. Henriette Hutabarat-Lebang, dalam khotbahnya mengatakan bahwa WPCU 2019 mempunyai makna penting dalam perjalanan ekumenis dan kesaksian bersama gereja-gereja di Indonesia. Sebab itu, diharapkan Pekan Doa ini dirayakan bersama secara ekumenis setiap tahun di seluruh tanah air.

Selain itu, WPCU juga mengajak semua warga gereja untuk ikut dalam gerakan doa bagi kesatuan tubuh Kristus agar umat kristiani dimampukan untuk mewujudnyatakan keadilan dan damai sejahtera-Nya di dunia, khususnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

“Pertanyaannya adalah, apakah kita sendiri telah bertindak adil bagi sesama? Apakah kita diam saja ketika orang lain dirampas haknya? Apakah kita diam saja ketika suap, korupsi, penyalahgunaan wewenang terjadi? Kita harus malu ketika abai mewujudkan keadilan,” tandasnya.

Sebagai pengikut Kristus, ujar Pdt. Henriette, kita harus memohon tuntunan Roh Kudus agar mampu menjadi rekan sekerja Allah untuk meghadirkan keadilan dan damai sejahtera.

Ketua Umum PGI juga menyoroti kehadiran gereja di tengah kemajemukan Indonesia. Menurutnya, kemajemukan adalah rahmat Allah yang harus dirawat agar menjadi berkat. “Ibarat simponi musik yang berbeda-beda, tapi bisa menghasilkan suara indah.

Demikian juga kemajemukan di dalam gereja. Kita harus saling belajar dan mengenal, menghilangkan prasangka, dan lainnya. Sebab, jika kita saling membeda-bedakan di situ akan muncul kebencian dan ketidakadilan,” katanya.

Terkait Pileg dan Pilpres 2019, Pdt. Henriette mengajak umat berdoa supaya terpilih pemimpin yang memiliki integritas dan benar-benar mementingkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sekilas WPCU. Sejak tahun 1966, WPCU dipersiapkan oleh Dewan Kepausan untuk Kesatuan Umat Kristiani, Vatikan, dan Komisi Iman dan Tata Gereja, Dewan Gereja-gereja Sedunia, Jenewa. Pekan Doa ini, yang di berbagai tempat diadakan pada 18-25 Januari setiap tahun, didorong oleh kesadaran akan pentingnya peranan doa bersama untuk mewujudnyatakan kesatuan tubuh Kristus dalam melayani di tengah dunia.

Gerakan doa ini merupakan sebuah gerakan yang sudah dimulai sekitar abad ke-18, diusahakan oleh berbagai denominasi Kristen, al. Pentakosta, Katolik Roma, Anglikan.

Ketika 500 tahun Reformasi oleh Martin Luther diperingati secara global, KWI dan PGI menyadur bersama materi Pekan Doa 2017 untuk digunakan oleh gereja-gereja di Indonesia.

Dalam perkembangannya, Pekan Doa ini mendapat dukungan dari lembaga gereja aras nasional lainnya yang tergabung dalam Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI) dan Jaringan Doa Nasional (JDN).

Materi Pekan Doa 2019, yang digunakan oleh gereja-gereja di seluruh dunia, dipersiapkan oleh Tim Indonesia dari PGI dan KWI. Tema yang dipilih untuk WPCU atau Pekan Doa 2019 adalah: “Kejarlah Keadilan” (bdk. Ul. 16:20).

Tema ini dipilih oleh Tim Indonesia bertolak dengan bertolak dari kenyataan di Indonesia maupun di dunia di mana KETIDAKADILAN merupakan salah satu isu pokok yang harus ditanggulangi bersama demi kesejahteraan masyarakat dunia dan Indonesia khususnya, serta kelestarian alam semesta di tengah krisis ekologis global saat ini.[Sumber : pgi.or.id].