Berita Bethel
Penulis: Pram (01/02/2019)

Demokrasi dan Kesejahteraan Ekonomi : Untuk Siapa ?

Roma 3:26 Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.

Busur kebaikan universal bertumpu pada siku keadilan – Marthin Luther King, Jr.Dalam perjalanan sejarah agama Kristen (tentu di semua agama-agama yang lain) kita menjumpai dua wajah keagamaan yang kontradiktif.

Satu sisi agama telah banyak berperan dalam mempelopori perdamaian, kasih sayang antar sesama dan hal lain yang bersifat kemanusiaan. Akan tetapi di sisi lain, atas nama agama juga telah tertoreh radikalisme dan kejahatan-kejahatan kemanusiaan yang mengerikan.

Reformasi gereja dilakukan untuk menjawab kebutuhan sekaligus hasrat sekelompok radikal yang bosan terhadap dunia dan hanya mengharapkan kenyamanan surga turun menggantikan dunia yang penuh dengan ketidakadilan nan sengsara kesengsaraan dan perih ini.

Lalu ‘surga’ tersebut tak disadari berubah menjadi sebuah ‘candu’ yang menawarkan kenyataan buatan yang sekarang manis bak madu lalu sebentar kemudian segetir ipuh ketika realitas itu di depan mata.

Gereja menjadi kehilangan sensitivitas untuk merengkuh perih yang disebabkan ketidak-adilan, dosa sosial tak lagi dikenali, lalu sibuk dengan kesalehan pribadi. Ditambah cara memandang teks-teks Alkitab yang menyuburkan tindakan diam atau “aktif di dalam kepasifan” karena teologi “nerimo” terhadap persoalan ketidak-adilan ekonomi sosial, sehingga menyulap gereja menjadi institusi gemuk yang lihai menghimpun kekuatan finansial untuk kemuliaan allah dengan program-program ilahinya.

Dinamika kehidupan bergereja dan ekonomi membelah varian gereja yang melahirkan gereja yang anti terhadap dunia pasar (karena dunia pasar penuh dengan intrik kenajisan ekonomi) dan ‘gereja pasar’ yang sungguh-sungguh kawin-mawin dengan prinsip-prinsip dagang dan “Klerikal kapitalisme”.

Dalam kesempatan kali ini saya mengajak melihat bahwa masalah gereja saat ini bukanlah gereja mana yang anti terhadap pasar atau gereja mana yang berdagang, karena baik gereja yang anti pasar maupun tidak sama-sama memiliki kekayaan finansial dan aset yang luar biasa (baik greja-greja mainline maupun Pentakostal).

Dalam dunia kita saat ini yang berubah begitu cepat dan massive ini, bagaimana kita memaknai ulang gereja sehingga menghadirkan wajah gereja yang menjadi salah satu ‘cahaya sosial’ yang memberikan inspirasi dalam keadilan ekonomi, yang begitu lihai mempertanggung jawabkan kekayaan dan kekuatan finansial dalam pekerjaan mendistribusikan keadilan kepada umat (masyarakat).

Gereja tak lagi menepi dari dunia pasar demi untuk menunjukkan keadilan ekonomi, namun terjun dalam demokrasi sosial yang membawa obor keadilan ekonomi. Dengan begitu gereja menjadi representasi Allah yang mendemonstrasikan keadilan bernuansa Kristiani.

Sudah saatnya Gereja tidak lagi bergerak di dalam spektrum yang hitam dan putih, namun bergerak kepada penghayatan yang dinamis antara fiqih biblis dan humanisme.Sekalipun tak sederhana dalam pengaplikasiannya, namun apa yang Stuart Mill maksudkan tentang keadilan yang utilitarian perlu menjadi perenungan gereja perihal demokrasi dan keadilan ekonomi: 

Pertama, apakah kekuatan kekuatan finansial yang dimiliki gereja berhasil menyajikan kebahagiaan (bahagia dalam pemaknaan seluas dan sesempit mungkin) bagi umat?.

Kedua, apakah kebaikan umum (baca:masyarakat) telah menjadi pertimbangan gereja dalam menjalankan visi dan misinya ?. Ketiga, metode-metode keadilan yang konkret apa yang dimiliki gereja dalam rangka menemani umat dalam merespon kesulitan ekonomi umat ?.

Keempat. Suara-suara mimbar seperti apa yang mampu dihasilkan gereja untuk memperlengkapi dan menyemangati umat untuk mengusahakan keadilan sosial dan pemerataan ekonomi ?.

Dalam ranah oikumenis saya rasa perlu melihat ajakan Ratzinger yang mengatakan bahwa masing-masing agama dapat dan memang harus bertemu satu sama lain untuk bersama-sama mempelajari lebih dalam lagi tentang kebaikan bersama (baca: umum), dan masalah sosial sehingga agama tidak menyerah begitu saja atas berbagai perbedaan yang ada. Skeptisisme tidak mempersatukan, begitu juga dengan pragmatisme belaka .

Dalam hal ini, Kekristenan seharusnya tak sekedar mengkritik namun menyediakan tindakan-tindakan solutif bagi keadilan dan demokrasi artifisial yang ternyata hanya untuk sekelompok tertentu saja, karena kurangnya penghayatan keadilan ekonomi di dalam gereja dan kekristenan itu sendiri.

Jika kekristenan berhasil membuat gambaran keadilan ekonomi untuk umat di dalam dinamika bergereja maka tidak ada lagi kebenaran dan keselamatan di luar ekonomi itu sendiri. Keadilan ekonomi untuk dan demi umat, yang mana Pemiliknya bersemayam bersamanya.

Apa yang kita bisa harapkan dari dunia yang semakin terlabeli dengan harga bukan nilai, selain keadilan ekonomi ?. Jika gereja memegang lentera keadilan ekonomi, janganlah takut untuk berjalan dan merangkul gelapnya pasar, maka iklankan gerejamu, usahakanlah income gerejamu, aturlah aset gerejamu, niscaya tentramlah jiwa seluruh pelayan serta umat.

Pertanyaan pembantu : 1.Seberapa efektif kekuatan finansial gereja kita dalam menjawab isu-isu keadilan sosial ?.2.Hak umat apa yang telah dipenuhi oleh gereja kita saat gereja kita menerima manfaat ekonomis dari umat ?.

3.Sudahkah kita memasarkan program-program gereja yang menyentuh isu ekonomi umat ?.4.Apakah peran gereja kita dalam ‘urun rembug’ dalam dinamika pasar ?.

Nara sumber : Rev. Junifrius Gultom, M.Si, Ph.D [foto kiri] selaku Direktur Pascasarjana STTBI Petamburan, Jakarta-Pusat [Seminari Bethel]. Ia berbicara pada sesi Pendalaman PA MPL PGI di Safari Hotel, Cisarua, Kabupaten Bogor [Rabu, 30 Januari 2019].

Keterangan foto kanan atas : Pembukaan acara oleh Menteri Agama RI dengan didampingi oleh Ketua Umum BPH GBI [tuan rumah], Ketua Umum PGI, Dirjen Bimas Kristen,Gubernur Sulawesi Utara dan Ketua Panitia. Foto kanan bawah : Ketua Umum BPH GBI menyerahkan sebuah Alkitab ukuran besar kepada Ketua Umum PGI [Senen, 28 Januari 2019].