Berita Bethel
Penulis: Pram (25/02/2019)

Jangan Takut dan Gemetar Menghadapi Intimidasi !

Sesungguhnya, bukan pertama kalinya Elia menerima ancaman dalam masa pelayanannya kepada Tuhan. Keadaan saat itu, nabi-nabi  Tuhan dikejar untuk dibunuh, tekanan yang luar biasa karena raja yang memerintah tidak taat kepada Tuhan. 

Bahkan  Elia menerima ancaman dan intimidasi dari nabi-nabi baal dan juga raja Ahab. Tetapi Alkitab mencatat tidak sekalipun Elia gentar dan takut, melainkan dia berhasil menunjukkan kuasa Allah melalui banyak tanda dan mukjizat.

Tetapi walaupun telah melewati banyak kesuksesan dalam pelayanannya, Elia ternyata bisa terintimidasi oleh perkataan seorang perempuan, yaitu ratu Izebel istri raja Ahab. Yang  lebih mengherankan lagi adalah perkataan ini disampaikan   oleh seorang suruhan, yang membuktikan bahwa sesungguhnya  Izebel mengancam dan mengintimidasi atau tidak dapat membunuh Elia  secara langsung.

Atas intimidasi ini Elia gentar  dan mengeluh kepada Tuhan: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”   Elia yang tadinya perkasa menjadi galau karena intimidasi  ini. Padahal  jika Elia sungguh-sungguh  ingin mati, kenapa ia tidak diam saja di sana dan menunggu pasukan Izebel mengambil nyawanya.

Mengapa  Elia yang sukses dalam pelayanannya bisa menjadi takut dan gentar terhadap ancaman izebel ?. Itu karena Elia telah beralih kepercayaannya dari apa yang Tuhan  telah lakukan kepada apa yang telah dia perbuat. Apa yang Elia lakukan  belum pernah dilakukan oleh nenek moyangnya sekalipun.

Mendatangkan api, mendatangkan hujan, membunuh 850 nabi baal dan berlari lebih cepat dari kereta raja, tidak ada yang pernah melakukannya sebelum Elia. Tetapi ternyata  Elia lupa itu semua karena pertolongan  Tuhan, Elia berpikir bahwa apa yang ia lakukan semata-mata karena kekuatannya sendiri yang sesungguhnya nihil di mata Tuhan.

Ketika kita lupa pertolongan Tuhan, tidak bergantung kepada. Tetapi ia sendiri masuk ke padang gu- run sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya : “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku” (1 Raja-Raja 19:4).

Merasa diri hebat, kita akan sangat mudahnya terintimidasi dan dikalahkan oleh masalah.Seringkali kita terjebak dalam ukuran kesuksesan menurut masyarakat, gereja, maupun standar- standar lainnya. Ketika kita mencapai  sesuatu yang melebihi harapan atau batas-batas, itu kesuksesan dan merupakan sebuah pencapaian.

Seringkali fokus kita terpaku kepada kesuksesan dan pencapaian yang kita lihat, bukannya penyertaan Tuhan. Sehingga ketika ancaman dan masalah datang, kita stress dibuatnya karena berusaha dengan kekuatan sendiri. Anda harus paham bahwa kesuksesan dan pencapaianmu  itu adalah karena penyertaan Tuhan dan kebergantungan hidupmu kepada Tuhan.

Tanpa Tuhan, anda tidak akan lebih baik dari nenek moyang anda. Tuhanlah yang membuat dan mengerjakan segala seuatu dalam hidup kita menjadi lebih baik (Rm. 8:28). Tidak ada kemustahilan  ketika kita bergantung kepada Tuhan (Mrk. 9:23). Sebaliknya, segala sesuatu menjadi rapuh dan mustahil ketika kita bergantung kepada kekuatan sendiri.

Oleh sebab itu mari kita berdiri teguh dan jangan gentar terhadap  intimidasi iblis. Masalah dan ancaman boleh datang, bahkan iblis boleh terus berkeliling mengintimidasi (1 Ptr. 5:8), tetapi orang yang mengandalkan Tuhan: “Ia akan seperti  pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan  akar- akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami  datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan  buah.” (Yer. 17:7-8).

[Sumber : R.A.B. Judul asli : Tidak Lebih Baik dari Nenek Moyang- Pdm.  Hiruniko Ruben/Foto : Istimewa].