Berita Bethel
Penulis: Pram (12/03/2019)

Jangan Menjadi Bodoh !

Saudara-saudaraku  sekalian,  tahukah saudara  bahwa lebih banyak manusia yang bodoh dari pada yang tidak. Kebodohan yang saya maksud di sini adalah kebodohan yang seperti ditunjukan Tuhan kepada orang kaya dalam Injil Lukas 12, orang yang berjerih lelah mengumpulkan harta kekayaan yang pada akhirnya tidak dapat dinikmati dalam waktu yang panjang.

Untuk itu bagaimana seharusnya kita mengisi hari-hari hidup kita yang singkat ini ?.  Saya rasa kita semua setuju bahwa hari-hari yang Tuhan berikan kepada kita adalah hari-hari untuk mengabdi, melayani dan mempersembahkan diri bagi kerajaan-Nya.

Sebab dengan cara demikianlah kita mengumpulkan  harta yang abadi. Harta yang dapat kita nikmati dalam keabadian. Tetapi kenyataannya tidak banyak orang sungguh- sungguh yang menyambut dan meresponi sekalipun hati kita telah digempur berulang kali dengan kebenaran  tersebut. 

Kita tidak mau mengubah cara hidup, kalaupun kita mengubahnya, kita hanya mengubahnya dengan sedikit sekali. Lalu kita berusaha untuk menenangkan  diri kita dalam ketenangan  semu dalam sedikit perubahan yang telah kita lakukan tersebut.

Padahal sesungguhnya  yang dikehendaki Tuhan adalah perubahan yang lebih radikal dari apa yang telah kita lakukan selama ini. Itu sama seperti orang bodoh yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri tapi tidak kaya dihadapan Tuhan.

Lebih banyak orang yang bodoh dihadapan  Tuhan. Tanyakan diri sendiri dengan cermat bahwa di hadapan Tuhan aku ini bodoh atau bijaksana ?. Di hadapan Tuhan apakah aku ini kaya atau miskin ?.

Jika kita mau jujur, sebenarnya kita ini bodoh, miskin dan telanjang. Selama ini ternyata kita hanya mengumpulkan har ta hanya untuk diri kita sendiri. Kita kerja dari pagi sampai  sore, berkarier dari muda, sekolah pada masa kanak-kanak, pindah dari satu keletihan ke keletihan lain, hanya untuk sesuatu yang akhirnya kita tinggalkan dan tidak bisa nikmati lagi.

Dalam Wahyu  14:13, perbuatan yang dimaksud dalam ayat ini  adalah perbuatan positif yang menyer tainya, yaitu segala keletihan dan kelelahan yang dilakukan untuk Tuhan. Mati dalam Tuhan yang dimaksud di sini juga adalah mati dalam persekutuan dan pengabdian dengan Tuhan. Dan pengabdiannya itu akan diingat Tuhan dalam keabadian.

Kalau saudara-saudara mengenal kebenaran ini dan memilikinya, seberat dan sebesar apapun jerih lelah dan pengorbanan yang saudara lakukan untuk pekerjaan-Nya, tidak akan menjadi berat dan membuat saudara bersungut-sungut.

Dalam  Filipi 1:20-22, Alkitab mengatakan “Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti  sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. 

Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.” Di sini kita akan menemukan gelora dari hati yang mengasihi Tuhan dan dari kehidupan yang diabdikan kepada Tuhan. Bagiku hidup adalah Kristus berarti kita harus melakukan sesuatu yang terbaik untuk Tuhan, supaya hari-hari yang kita lalui tidak menjadi sia-sia.

Dan mati adalah keuntungan berarti berbahagia. Jadi maksud dari kalimat “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.  Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi  buah.”

Nats ini dapat diartikan sebagai “Bagiku hidup adalah kerja keras untuk Tuhan dan pensiun adalah kebahagiaan.”  Dengan kata lain, jika kita kerja keras untuk Tuhan, kita matipun akan menjadi kebahagiaan.  Tetapi jika kita tidak mau kerja keras untuk Tuhan, kita matipun malah menjadi sebuah kecelakaan. Jangan menjadi Kristen bodoh: Kristen yang tidak bekerja untuk Tuhan. [Sumber :R.A.B - Pdt. Timotius Bakti Sarono / Foto : Istimewa].