Berita Bethel
Penulis: Pram (06/05/2019)

Jurnalis Musti Bersinar dan Jangan Halangi Terang !

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang [Matius 5:16]. merupakan tema renungan Firman Tuhan yang disampaikan Pdt. Gomar Gultom [Sekum PGI] pada sesi ibadah Pengukuhan dan Doa Pengutusan DPP Perwamki [Perkumpulan Wartawan Media Kristen Indonesia].

Acara digelar di Graha Bethel, Jakarta [Senen, 6/5]. Hadir Ketua Umum BPH GBI, Pdt. Dr. Japarlin Marbun yang juga sebagai Penasehat Perwamki periode 2019-2023, Antonius Natan [Sekum PGLII DKI Jakarta], Pdt. Mulyadi Sulaiman [PGPI Pusat] dan Sekum MUKI [Mawardin Zega].

 

Pdt. Gomar Gultom mengatakan bahwa orang Kristen diperintahkan untuk menjadi terang, artinya menjadi seperti Kristus. "Kita merefleksikan sinar terang Kristus. Terang yang bersinar dari diri orang Kristen adalah terang dari Kristus yang bersemayam di dalam diri kita," ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan Kristus yang menyalakan terang di dalam diri orang percaya. "Kita tidak bisa jadi terang untuk diri sendiri, keluarga kita, tapi bagi dunia. Terang untuk memberikan arah, menuntun di tengah kegelapan, menjadi pusat kebaikan," tegasnya.

Namun, Pdt. Gomar Gultom menambahkan bahwa Gereja, bahkan diri sendiri bisa menghalangi terang Kristus. "Seorang jurnalis berada dalam pilihan  apakah ia akan menjadi terang atau menghalangi terang itu ?," ujarnya dengan nada bertanya.

   

Ia berpandangan bahwa orang di sekitar akan melihat perbuatan orang percaya yang baik. Menurutnya, orang percaya diselamatkan oleh anugerah Allah. Berbuat baik bukan agar seseorang selamat. Perbuatan baik [kalos] adalah perbuatan baik sebagai ucapan syukur, bukan minta imbalan agar orang lain melihat dan menjadi percaya. "Jangan berbuat baik tapi ada itung-itungannya [untung atau rugi]," pesannya.

   

Soal perbuatan baik, menurutnya musti lahir dari hati yang bersyukur. Tema ini adalah komitmen Perwamki untuk kedepankan suluh [terang] di tengah masyarakat. "Media dikuasai hoax secara gencar. Sulit membedakan mana opini, mana fakta. Mana yang benar dan mana yang bohong. Media televisi ada juga yang tampilkan acara mirip 'adu jangkrik'.Dikemas hanya demi rating semata. Masyarakat 'terkecoh' seolah-olah ini berita, padahal cuman entertainment [hiburan]," ujarnya dengan nada prihatin.

 

Sekum PGI kembali mengingatkan bahwa media mempunyai peran strategis untuk melaksanakan reformasi 1998. Bila publik menelan mentah-mentah suatu berita, bisa dibayangkan akibatnya, imbuhnya.

 

Ia berpesan Perwamki tampil dengan perbuatan baik dan mengutip pandangan Jenderal Gobbels, Menteri Penerangan zaman Hitler mempunyai teori bahwa kebohongan yang dikampanyekan secara terus-menerus akan [dianggap] sebagai suatu kebenaran. Nasionalisme terancam oleh pemberitaan yang kebablasan. "Apakah berita kita menjadi terang atau penghalang bagi orang lain untuk melihat terang itu ?," pungkasnya. Sesi dilanjutkan dengan sambutan Ketua Umum BPH GBI.

[Foto : Para Dewan Penasehat Perwamki menerima SK dari Ketua Perwamki, Stevano Margianto/paling kanan].