Berita Bethel
Penulis: Pram (29/06/2019)

Bagaimana Menjadi Terang Dunia ?

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik….” (Matius 5:16).Bulan  purnama di pedesaan yang jauh dari keramaian kota sungguh mengasyikkan. Banyak orang perkotaan mencari situasi demikian.

Mereka rela meninggalkan jauh-jauh dari kotanya dan menghabiskan banyak biaya untuk menikmati terang bulan yang sangat asri. Tetapi sesungguh bulan yang bercahaya di malam hari tidak memiliki  sinarnya sendiri.  Karena posisinya lebih dekat dengan matahari dari pada hari-hari sebelum, maka bulan mendapatkan banyak cahaya dari matahari dan memantulkan cahaya itu ke bumi.

Demikian pula  kedekatan  kita  dengan   Sumber  Terang   yang sesungguhnya,  yaitu Yesus Kristus, akan memantulkan cahaya Terang-Nya. Ketika kita jauh dari sumber terang, kita sedikit mendapatkan  sinar terang. Semakin kita dekat dengan sumber terang, maka kita mendapatkan  banyak sinar terang, dan akan banyak cahaya yang kita pantulkan.

Hal yang Pertama adalah supaya kita dapat menjadi terang dunia. Matius 4:16, mengatakan bahwa Yesus adalah  Terang yang Besar.  Di dalam Yoh.  8: 12, Yesus  berkata: “Akulah  Terang  dunia.”  Milikilah persekutuan yang erat dengan Yesus melalui doa, pembacaan kitab suci, penyembahan- penyembahan yang benar, maka kita akan memancarkan sinar terang Kristus kepada kepada sesama kita.

Semakin kita jauh dari persekutuan kita dengan Kristus, semakin cahaya kehidupan kita redup dan bahkan padam. Tidak mungkin kita akan “bangkit dan menjadi terang.”

Yang kedua adalah karakter Kristus. Charles R. Swindoll mengamat cara kerja terang, yaitu terang itu tidak bersuara, memberi arah dan menarik perhatian.  Renungan  kita hari ini menekankan  “terang itu tidak bersuara.” Sebagi saksi Kristus, kita akan menerangi orang lain, seperti terang, bukan dengan kata-kata kita saja. Yesus berkata: “hendak terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik” (Mat. 5:16).

Perbuatan baik itu berupa tindakan-tindakan yang dilandaskan pada belas kasihan dan untuk memperdamaikan orang. Belas kasihan adalah karakter Kristus, yaitu kasih yang mendalam yang memampukan seseorang merasakan penderitaan orang lain dan mendorong untuk melakukan tindakan pertolongan kepada orang lain.

Tanpa karakter Kristus, yaitu berbelas kasihan, kita tidak dapat bercahaya.  Kita hanya seperti gong yang berkumandang dan canang yang bergemerincing. Bunyinya berisik, tetapi tidak berfaedah sama sekali.

Milikilah persekutuan yang mendalam dengan Kristus, kita akan memantulkan cahaya- Nya. Lebih daripada itu, cahaya karakter Kristus akan menyusup dan tinggal dari hati kita dan menjadi bagian karakter kita. Dan karakter belas kasihan itu akan memampukan  kita untuk dapat merasakan penderitaan orang lain.

Karakter yang sama akan menggerakkan  kita untuk bertindak memberi pertolongan kepada orang lain.Jika kita memiliki persekutuan dengan Yesus dan karakter belas kasihan-Nya,tidak mungkin kita berdiam diri melihat orang menderita berada di luar keselamatan  Tuhan. [Sumber : R.A.B. - Pdt. Dr. Stephano Ambesa, MTh/Foto : Istimewa. “.....Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi” (Yosua 1:9).