Berita Bethel
Penulis: Pram (30/04/2015)
Pendidikan dan Tata Nilai


Pendidikan merupakan bagian yang integral dalam upaya pengembangan nilai dan tata nilai dalam kehidupan ini. Baik dalam kehidupan keluarga, gereja dan bermasyarakat hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu upaya yang strategis dan utama membentuk nilai-nilai (values) adalah implementasi pendidikan. Pendidikan dalam konteks ini harus dipahami secara luas, bukan saja hanya pendidikan formal, melainkan non-formal bahkan juga informal.



Makna Tata Nilai. Dalam beberapa tesis yang dijelaskan oleh B.S Sijabat yang mengutip uasan Linda dan Richard Eyre menyebutkan bahwa nilai melandasi perangai, sikap dan pemikiran seseorang terhadap diri sendiri maupun orang lain. Lebih lanjut menurutnya bahwa nilai dikemukakan sebagai berikut:” By values we mean the standards of our actions and the attitude of our heart and minds that shape who we are, how we live, and how we treat other people. Good values, of course shape better people, better lives and better treatments of others.” Secara sederhana dapat diartikan bahwa nilai merupakan ukuran kta dalam bertindak, bersikap dan berpikir yang membentuk diri kita, cara kita hidup dan memperlakukan sesama manusia, juga terbentuk dari tata nilai.



Nilai-nilai yang baik akan membentuk pribadi dan kelompok yang baik pula, dan hal ini akan berdampak pada hidup yang kebih baik dalam relasi dengan sesama dan diri sendiri. Dengan penjelasan di atas, maka jelas dapat kita pahami bahwa pendidikan merupakan alat untuk menata nilai dalam diri kita. Upaya pendidikan dalam menerapkan pengembangan tata nilai, pada prinsipnya sangat terkait dengan bagaimana pendidikan dilakukan, diterapkan dan diupayakan secara seksama. Pendidikan adalah usaha sengaja yang membelajarkan semua peserta didik dalam segala lapisan umur, mereka menerima dan mendapatkan proses pengajaran yang teratur dan terencana, dengan tujuan yang pasti dalam pengembangan karakter masing-masing indivu tersebut.



Hirarkis Enam Nilai.  Salah satu pendidikan Kristen, Robert Pazmino mengemukakan bahwa nilai-nilai dalam hirarkisnya dapat digolongkan dalam enam kategori yakni pertama, nilai teknis terkait dengan pentingnya pengendalian, efektivtas dan efisiensi kehidupan. Kedua, nilai politis berhubungan dengan masalah kekuasaan dan penguasaan sistem agar mencapai tujuan yang diharapkan. Ketiga, nilai ilmiah yakni makna yang lahir dari pertimbangan dan sudut pengetahuan sebaai hasil dari penelitian empiris.



Empat, nilai esteris, penghargaan yang berhubungan dengan makna simbolis dari objek atau subjek, kreativitas dan imaginasi yang dilahirkannya. Lima, nilai etik terkait dengan hal-hal yang baik dan jahat, benar dan salah, dan kesemuanya ini berhubungan dengan etika kehidupan. Dan yang terakhir ialah nilai spiritual yakni nilai yang bersumber pada kedalaman relasi dengan Tuhan. Dari keenam nilai-nilai yang di atas, hal yang sangat bertalian dengan pendidikan secara khusus  pendidikan iman dalam keluarga Kristen dan gereja, ialah nilai etika dan spiritual.



Kedua hal ini menjadi sangat prinsip diperhatikan dalam kerangka mengembangkan pola prilaku dan karakter yangmenyenangkan Tuhan. Terkait dengan nilai etis, maka pendidikan agama Kristen baik yang dilakukan di rumah, gereja, sekolah dan masyarakat harus mampu membawa semua peserta didik, mengalami transformasi atau perubahan karakter. Lebih lanjut maka hal yang mendasar dalam konteks ini ialah bagaimana proses penanaman nilai-nilai itu berjalan dengan baik, bukan sekedar mengajarkan aturan dan norma-norma, melainkan mengimplementasikan dengan utuh dalam kehidupan sehari-hari.



Pendidikan dan Roh Kudus dan Firman Tuhan. Lebih lanjut terkait dengan nilai spiritual, maka pemaknaan dan juga pemahaman serta persekutuan antar orang percaya dengan Tuhan, melahirkan pemahaman yang benar, penghargaan yang tepat dan juga pengabdian pribadi yang benar pula. Hal ini hanya bisa dimungkinkan jika kedalaman relasi dan persekutuan antara kita dengan Tuhan berjalan dengan baik dan seimbang. Lebih special lagi jika persekutuan itu bukan hanya sekedar pemenuhan jadwal-jadwal ibadah dan kebaktian, melainkan perenungan pribadi yang mendalam bagaimana karya Tuhan telah mengubah dan membaharui kehidupan kita.



Dalam rangka mengefektifkan peran pendidikan dalam mengembangkan nilai-nilai etis dan spiritual dalam kehidupan keluarga, gereja dan masyarakat, maka beberapa hal yang sangat mungkin dikerjakan antara lain: pertama, upaya pendidikan dan pengembangan tata nilai harus dilakukan berbasis Firman Tuhan. Pendidikan yang dikerjakan berdasarkan nilai-nilai firman Tuhan (Alkitab) akan membawa perubahan yang radikal dalam diri anak-anak Tuhan; lebih special jika dihubungkan dengan keluarga kristen yang tidak memberi ruang gerak nilai-nilai lain, meskipun agaknya bernilai positif.



Nilai Firman Tuhan merupakan penekanan yang paling utama dan absolut. Kedua, para pendidik dan pelaku pendidikan praktis, baik di gereja, sekolah dan keluarga haruslah mereka yang telah mengalami dan membuktikan diri membuahkan perubahan tata nilai. Tidak mungkin pendidikan mampu mengembangkan tata nilai jika hanya bertitik tumpu pada kemampuan teknis, ketrampilan dan pengalaman dalam mengajarkan. Keteladanan dan perihal panutan dalam berbagai aspek adalah bagian yang sangat prinsip dan tidak boleh dilupakan. Ketiga, upaya pendidikan dan strategi pendidikan dilakukan dengan mengedepankan kuasa Roh Kudus.



Siapapun yang mengerjakan pendidikan, baik formal maupun informal, pada hakekatnya hal itu tidak mungkin lepas dari peran serta dari Roh Kudus. Oleh karena itu dalam melaksanakan pendidikan, pengajaran dan pembimbingan dalam banyak hal, ruang gerak terhadap kuasa Roh Kudus harus diberi peluang yang seluas-luasnya. Pendidik tidak boleh hanya menekankan metode yang humanistic belaka, juga tidak boleh membatasi hanya pada metode yang terbiasa, melainkan inovasi berdasarkan kuasa Roh Kudus harus dapat dilaksanakan.



Persekutuan dan Relasi Pendidik - Tuhan Yesus. Pendidikan sebagai upaya pengembangan tata nilai harus terbuka kepada pola-pola pengembangan yang baru, baik mengenai isi dan metode, termasuk juga strategi dan pola pelaksanaannya. Untuk alasan pengembangan nilai-nilai yang menyangkut spiritual, hendaknya setiap pendidik mengedepankan bagaimana persekutuan atau relasi dengan Tuhan Yesus sebagai bagian yang utama. Persekutuan dengan Kristus akan membawa setiap peserta didik (dari segala lapisan umur), mampu mengalami pembaharuan dan pengembangan tata nilai.



Pendidik (guru, orang tua, praktisi pendidikan) haruslah memahami berbagai dimensi nilai yang dikembangkan, secara khusus pada aspek-aspek rohani (batiniah). Dengan demikian sebagai orang- orang percaya kepada Kristus, semua hal yang menyangkut kebenaran Firman Tuhan, harus diaplikasikan. [Ketua Departemen Pendidikan dan Latihan BPH GBI 2014-2018 dan Puket 1 STT Bethel Indonesia Jakarta - Pdt. Dr. Purim Marbun]