Berita Bethel
Penulis: Pram (24/08/2019)

Kode Etik untuk Pendeta GBI

Soal etika kependetaan mendapatkan atensi dari BPH GBI. Atas dasar itulah,Diklat Calon Pendeta 2019 di sesi pertama diisi dengan pembekalan yang bertajuk  Kode Etik untuk Pendeta GBI.

Nara sumber adalah  Pdt. Dr.dr. Dwidjo Saputro. Sebelumnya, Pdt. Dr. Japarlin Marbun menyampaikan renungan Firman Tuhan dan membuka acara secara resmi dengan pemukulan gong. Acara bertempat di Royal Safari Hotel, Cisarua, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa-Barat, [Sabtu, 24/8], jam 14.50.

"Terdapat di addendum TTG [Tata Gereja] GBI. Ikuti aturan berorganisasi di GBI [TTG, Tata Tertib, Keputusan MPL, MD, Keputusan Gembala Jemaat]. Hidup tertib dimulai dari diri sendiri," tegas Pdt. Dr.dr. Dwidjo Saputro. Ia kemudian membacakan nats 2 Korintus 6:3 dan menjabarkan Prinsip-prinsip Beretika :

1. Mengutamakan [mengejar] integritas. Pendeta adalah pemimpin dengan posisi dan peran sebagai pemimpin [bukan provokator], maka memiliki kewajiban untuk memberikan teladan dan contoh positif. Kegagalan etis dapat menghancurkan pelayanan Pendeta.

Nara sumber mengatakan agar Pendeta GBI mampu membuat keputusan etis yang sehat, maka GBI mengembangkan Kode Etik untuk para pejabat gereja [GBI].

Ia mendefinisikan Kode Etik adalah seperangkat pedoman yang dikembangkan untuk membantu orang dalam bersikapdan mengambil keputusan serta menentukan benar atau salah ketika batasan tersebut didefinisikan dengan jelas.

Menurut pandangannya, Alkitab sebagai kode etik tertinggi. Kode Etik GBI disusun berdasarkan pada Alkitab. Tugas pelayanan Pendeta mencakup pengelolaan sistem organisasi dan pelayanan pastoral seyogyanya memiliki standar professional.

 

2. Dapat dipercaya dan hidup dengan rendah hati [I Korintus 4:2].3. Mengutamakan kemurnian [I Timotius 4:12]. 4. Menjaga kemurnian seksual. Setia dan tahan uji.  5. Akuntabilitas dalam keuangan. 6. Bersikap adil. Tepat jam 16.10 WIB pembekalan selesai.Para peserta lanjut dengan absensi dan coffee break.