Berita Bethel
Penulis: Pram (20/09/2019)

Dialog Kebangsaan Dalam Rangka Festifal Al Azhom Kota Tengerang 2019

Festival Al Azhom merupakan agenda rutin Pemerinah Kota Tangerang dalam rangka menyambut dan memperingati tahun baru Islam (1 Muharram 1441 H). Perayaan Festival Al Azhom diadakan mulai dari tanggal 31 Agustus – 12 September 2019  berpusat di Masjid Al Azhom, yang merupakan Masjid Raya Pemerintah Kota Tangerang, dan sekaligus dalam lingkungan Pusat Pemerintahan Kota Tangerang.

Festival Al Azhom tahun ini dirayakan sedikit berdeda dari tahun-tahun sebelumnya, dengan menghadirkan dan melibatkan komunitas Panitia Dialog Kebangsaan. Melalui komunitas Panitia Dialog Kebangsaan, nuansa keragamaan, kebangsaan dan kebhinekaan lebih terasa kental, karena menghadirkan 6 tokoh Agama yang mewakili unsur 6 agama yang diakui negara, yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Konghucu.

Kehadiran tokoh-tokoh agama dimulai saat digelarnya acara pawai Karnaval Sarungan Nusantara pada hari Minggu 8 September 2019 pukul 6.30 di alun-alun pusat pemerintahan kota Tangerang. Pawai dibuka oleh Bapak Walikota Tangerang, H. Arief R. Wismansyah, diikuti oleh ribuan peserta dari berbagai komponen, komunitas, lembaga, instansi, kelompok dan agama.

Hadir 6 tokoh agama dalam Karnaval Sarungan Nusantara, yaitu Bapak Jajat Sudrajat (Tokoh Islam / Ketua PAC GP Anshor Kota Tangerang), Bhikku Gunaseno, S.Pd (Tokoh Budha), Pendeta Doni Susanto, S.Th (Tokoh Kristen / Gereja Bethel Indonesia), Pastur Suwarno (Tokoh Katholik / Gereja St. Agustinus Paroki Karawaci), Ws.  Rudi Gunawijaya (Tokoh Konghucu / Matakin Banten), I Nyoman Subiksa (Tokoh Hindu / PHDI Kota Tangerang). Bersama dengan pagelaran budaya, peserta pria mengenakan sarung sebagai ciri khas budaya  Nusantara, berpawai jalan bersama mengelilingi kota Tangerang.

Setelah itu, pada hari Rabu 11 September 2019 pukul 14.00 – 15.30 bertempat di Gedung MUI, digelar Dialog Kebangsaan. Dihadiri semua komponen masyarakat, komunitas, pelajar dan mahasiswa. Dialog Kebangsaan berjudul Telor-Ansi, disertai dengan pagelaran seni dan budaya perwakilan masing-masing agama.

Dipandu dan dimoderatori oleh 2 public figure, Sdr. Herman Josis Mokalu, M.M alias Yosie Project Pop (artis dan aktivis toleransi) dan ibu Yohana Elizabeth Hardjadinata, MBA, M.Pd dari komunitas Nasionalisme Radikal, juga dikenal sebagai aktivis kemanusiaan dan budaya, serta pengisi acara di radio Heartline.

Talkshow dibuka meriah, dengan performance Sekolah PKBM Alfa Omega (mewakili Kristen) berupa Marching Band dan tarian Kolosal yang melibatkan 50 anak dari usia SD, SMP dan SMU. Setelah itu dilanjutkan dengan atraksi seni pencak silat Palang Pintu oleh Bamus Maskot, serta Musikalisasi Puisi dari STISNU dan tari Kreasi Gending Sriwijaya oleh SD Dharma Putra melengkapi kemeriahan opening acara Talkshow.

Bapak  Jajat Sudrajat - Ketua PAC GP Anshor kota Tangerang, sebagai Panitia menyampaikan susunan acara Talkshow, dan Bapak Hendra Lim – penasihat Hikmahbudhi, sebagai koordinator acara talkshow menyampaikan tujuan talkshow Dialog Kebangsaan ini didakan, yaitu untuk menyampaikan ke masyakarat dan generasi sekarang, bahwa di Tangerang secara khusus dan Indonesia secara umumnya, nilai kerukunan dan toleransi dalam kebangsaan adalah hal nyata.

Kegiatan ini salah satu cara untuk melawan in-toleransi dan radikalisme, yaitu dengan merajut menghadirkan dan menunjukkan bahwa antara 6 pemeluk agama itu harmonis, serta perbedaan budaya adalah suatu kekayaan dan keindahan.

Diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan doa bersama, acara Talkshow Dialog Kebangsaan dimulai, dengan dipandu Yossie Propject Pop dan Ibu Yohana, menghadirkan:1.Dr. H. Muhammad Qustulani, S.S, MA.Hum (Wakabid STISNU Tangerang) mewakili tokoh agama Islam. 2.Pendeta Doni Susanto, S.Th (Ketua DPA GBI propinsi Banten dan Muspija bidang Kepemudaan Banten) mewakili tokoh agama Kristen.

3.Bhikkhu Gunaseno, S.Pd mewakili tokoh agama Budha. 4.Pastur Clemens Tribawa Saksana, OSC (Gereja St. Agustinus) mewakili tokoh agama Katholik. 5.Ws. Rudy Gunawijaya (Matakin Banten) mewakili tokoh agama Konghucu. 6.I Nyoman Subiksa (Wakil Ketua PHDI Kota Tangerang) mewakili tokoh agama Hindu.

Berikut pesan toleransi dari para tokoh Agama. Dr. H. Muhammad Qustulani, S.S, MA.Hum  menjelaskan bahwa hijrah tidak seharusnya dimaknai sempit yakni sebatas peralihan dari satu tempat ke tempat yang lain, seperti dari Mekkah menuju Madinah. Hijrah harus dimaknai sebagai peralihan dari peradaban kegelapan menuju peradaban yang terang benderang, peralihan dari tradisi kebodohan menuju tradisi kecerdasan, dari pemikiran sempit menuju luas.

Makna hijrah sesungguhnya membangun peradaban moral yang mengimplementasikan nilai-nilai kemanusiaan, dari tidak memanusiakan manusia menuju memanusiakan manusia. Wujudnya adalah mengedepankan nilai-nilai toleransi dan menghormati perbedaan dalam keberagaman.

Upaya peralihan dari kebodohan menuju kecerdasan harus terus menerus dilakukan, konsistensi menjadi kunci agar perpindahan dari gelap menjadi terang akan menjadi sebuah kebudayaan yang mengembangkan rasa kemanusiaan dalam bertoleransi, pungkas Romo Clemens Tribawa Saksana, OSC.

Sesungguhnya kerukunan ini sebenarnya sudah ada dan berjalan mantap, namun kenapa masih dipermasalahkan terus ?.  Pernahkah kita bertanya mengapa Tuhan menciptakan semua agama di dunia ini? Itu semua hanyalah ujian dari sang pencipta untuk melihat kualitas kita sebagai ciptaan-Nya. Setiap agama pasti mengajarkan kasih, semuanya atas dasar cinta kasih agar kita bisa hidup berdampingan satu sama lain, sambung WS. Rudy Gunawijaya.

Pendeta Doni Susanto, S.Th menambahkan bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan itu berbeda-beda, nama bisa sama wajah bisa mirip namun kepribadian setiap individu pastilah berbeda. Oleh karena itu dibutuhkan toleransi untuk menghargai setiap perbedaan, itulah yang membentuk kerukunan. Bagaimana cara merajut toleransi, harus ditarik dari kacamata personal kemudian ke universal.

Dimulai dari kesadaran diri sendiri dahulu bahwa benar adanya kita memiliki perbedaan baik secara agama, budaya, adat dan yang lainnya, kemudian mulai menunjukkan keteladanan dalam bertoleransi dan menghargai melalui perbuatan pribadi kita. Karena keteladanan berbicara lebih keras, lebih tajam dan lebih menggema, dibandingkan sekedar teori dan retorika.

Selanjutnya toleransi dapat dibangun ke tahap berikut melalui lingkungan keluarga kita, dengan menanamkan dalam hubungan suami istri, orang tua dengan anak dan antara sanak family. Karena keluarga adalah sekolah kehidupan sesungguhnya. Setelah itu baru keluar dalam lingkup masyarakat, melalui tetangga sekitar kita. Karena itu ada Rukun Tetangga dan Rukun Warga, yang menjembatani kerukunan dan toleransi dalam bermasyarakat.

Selanjutnya kami para pemuka agama yang menjadi panutan dan contoh umat, harus selalu mencontohkan dan mengarahkan umat untuk saling hidup rukun dan bertoleransi. Sehingga umat bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu bentuk toleransi adalah memberikan ruang dan kesempatan bagi siapa saja yang akan melaksanakan ibadah, misalkan saatnya adzan dikumandangkan itu merupakan panggilan bagi yang lain untuk turut beribadah dan ingat pada Tuhan, bagai pengingat bagi saya juga untuk segera bersembahyang yang Hindu miliki di tiga waktu dalam sehari.

Ketika kita ingin menunjukkan kerukunan, marilah kita bersama-sama saling mendengar dan berdialog, apa yang terjadi disana, apa yang terjadi disini, itulah pentingnya dialog untuk menemukan keserasian dan meninggalkan rasa saling curiga. Lanjut I Nyoman Subiksa.

Indonesia sudah menerapkan kebinekaan sejak zaman kerajaan-kerajaan dahulu dimana kemajemukannya sudah dapat terlihat dari kebudayaan yang berkembang. Buddhisme membangun toleransi melalui pengembangan cinta kasih dan kasih sayang kepada semua mahkluk tanpa kecuali bahkan kepada mereka yang menghujat kita. Hal yang pertama harus kita lihat adalah mengembangkan kebijaksanaan melalui kebajikan kita untuk menunjukkan kerukunan sejati.

Hijrah dalam Buddhisme harus mampu melepaskan segala bentuk-bentuk kejahatan melewati kebencian, ketamakan dan kebodohan yang kita miliki. Tutup Bhikkhu Gunaseno, S.Pd. Dalam akhir moderasi dialog Yosi menyimpulkan bahwa toleransi itu bukanlah barang baru, kita mungkin hanya lupa namun kita percaya betul bahwa ada benih-benih pemikiran tentang toleransi yang akan dibawa pulang oleh para peserta hari ini.

Kegiatan ini terbuka untuk umum dengan mengundang peserta dari berbagai sekolah mulai dari jenjang SMP hingga SMA untuk tetap menebarkan bibit-bibit toleransi yang ada. Penutupan acara diakhiri dengan Tarian Manggarai (Flores) dari Pemuda Katolik Tangerang, tarian Sekar Jagat oleh Perhimpunan Pemuda Pemudi Hindu Tangerang dan vokal grup oleh SMA Setia Bhakti.[R/O – DS].