Berita Bethel
Penulis: Pram (22/09/2019)

Toleransi dan Keterbukaan adalah Kunci Kemajuan Suatu Bangsa

Presiden Presiden Republik Indonesia,  Ir. H. Joko Widodo memberikan sambutan pada acara Forum Titik Temu Kerjasama Multikultural Untuk Persatuan dan Keadilan di DoubleTree Hilton Hotel Jakarta [Rabu, 18/9]. Sekitar 500 orang lebih dari berbagai organisasi keagamaan dan komunitas sosial hadir pada acara ini. Sementara itu, para nara sumber terdiri dari Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, M. A., Omi Komaria Nurcholish Madjid, Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid.

Dalam sambutannya di acara Forum Titik Temu, Presiden RI menyampaikan bahwa Toleransi dan Keterbukaan adalah Kunci Kemajuan Suatu Bangsa. Keberhasilan sebuah negara dan masyarakatnya sangat ditentukan oleh kemampuan untuk menerima dan mengelola kemajemukan. Semakin masyarakat dapat mengelola kemajemukan dan perbedaannya, maka akan semakin matang pula kedewasaan sehingga mendorong inovasi yang mengarah pada kemajuan bangsa.

Presiden mengatakan bahwa kemajemukan itu adalah sebuah kebutuhan karena kemajemukan akan membuat kita menjadi kaya imajinasi untuk berinovasi. Kemajemukan membuat kita akan semakin matang, akan semakin dewasa, dan kemajemukan itu akan menjadi satu bagian tak terpisahkan dari sebuah kemajuan ekonomi.

Pada dasarnya, kemajemukan dan kemampuan suatu negara dalam memanfaatkan keterbukaan menjadi kunci bagi lompatan kemajuan. Presiden mengatakan, banyak contoh negara yang bertransformasi menjadi negara maju dengan kemajemukan tersebut, salah satunya Persatuan Emirat Arab (PEA).

Menurut Presiden, Indonesia bisa mengambil contoh dari Persatuan Emirat Arab (PEA) yang berhasil melompat menjadi sebuah negara maju karena sikap terbuka dan kemampuannya mengelola perbedaan.Empat puluh tahun yang lalu Uni Emirat Arab (PEA) merupakan negara yang tertinggal. Tingkat melek hurufnya rendah, budaya pendidikannya tertutup dan tradisional. Namun, Uni Emirat Arab sekarang menjadi negara yang sangat makmur dan maju.

PEA diketahui juga tidak memiliki sumber daya alam sebanyak Indonesia namun dapat tumbuh menjadi negara maju dan modern. Saat bertemu dengan Syekh Mohamed (Putra Mahkota Abu Dhabi), Presiden Jokowi mencoba mencari tahu rahasia kemajuan negara tersebut.

Menurut Presiden salah satu kunci utamanya adalah keterbukaan dan toleransi. Beliau dapatkan langsung hal itu dari Syekh Mohamed, bahkan tahun ini di sana dikenal dengan Tahun Toleransi.Kepala Negara menjelaskan, keterbukaan dan toleransi tersebut misalnya bisa terlihat dari keberanian mereka mengundang talenta-talenta besar dunia untuk menjadi pucuk pimpinan perusahaan dan tenaga ahli di negaranya, yang kemudian pada saatnya secara bertahap digantikan oleh warga asli PEA. Tak hanya itu, mereka juga berani mengundang puluhan rektor, dosen, dan guru-guru hebat dari perguruan tinggi dunia.

Dengan kata lain, isu kemajemukan bukan semata-mata isu sosial atau politik. Penerimaan terhadap kemajemukan juga menjadi isu pembangunan ekonomi. Tanpa adanya penerimaan terhadap kemajemukan, tanpa adanya penerimaan terhadap anggota warga dengan latar belakang yang berbeda-beda, maka masyarakat tersebut akan menjadi masyarakat yang tertutup dan tidak berkembang.

Kepala Negara sendiri mensyukuri bahwa Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara terlahir dengan kemajemukan sejak awal berdirinya. Meski berbeda-beda, sambungnya, bangsa Indonesia memiliki semangat untuk bersatu dalam perbedaan sebagaimana semboyan negara, Bhinneka Tunggal Ika.

Pesan Presiden Jokowi, marilah kita kembalikan lagi kepada semangat berdirinya negara ini, yaitu Bhinneka Tunggal Ika, yang mampu mengelola kemajemukan di internal bangsa kita, yang bisa menjadi teladan, menjadi panutan dunia dalam merawat toleransi dan persatuan, dan juga berani terbuka untuk kemajuan bangsa.

Untuk diketahui, Forum Titik Temu merupakan tempat berkumpulnya masyarakat yang berorientasi pada gerakan kultural, yang diselenggarakan oleh Nurcholish Madjid Society, Jaringan Gusdurian, dan Maarif Institute. Acara ini digelar sebagai penegasan kebutuhan masyarakat Indonesia untuk terus bekerja sama dan berjalan beriringan dengan berpedoman pada Pancasila.

Dalam Forum Titik Temu Bapak M. Quraish Shihab menyatakan tiga sebab utama yang sangat berpotensi menghambat lahirnya Persaudaraan Kemanusiaan : 1. Kesalahpahaman tentang ajaran agama. 2.Emosi Keagamaan yang berlebihan. 3. Peradaban umat manusia saat ini.

Ibu Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid memaparkan keberagaman merupakan kenyataan yang harus diterima oleh warga bangsa Indonesia. Sejak lahir di dunia, setiap warga bangsa harus menghadapi berbagai perbedaan, seperti etnis, agama, bahasa, tradisi, dan kondisi sosial yang berbeda. Beliau mengatakan bahwa emosi keagamaan yang berlimpah ini diarahkan menjadi cinta akan sesama manusia.

Ia mengatakan, Indonesia tidak sekadar taman sari, yakni tempat tumbuhnya berbagai macam bunga dan pepohonan yang berbeda, di mana setiap bunga berhak tumbuh dan hidup bersama mengembangkan keindahan dan keharuman. Lebih dari itu, Indonesia merupakan sebuah danau peradaban atau tempat dapat menampung sekaligus menjadi titik temu dari berbagai jenis mata air. Ibu Hj. Sinta Nuriyah mengatakan ini artinya bangsa Indonesia harus memiliki jiwa yang kokoh, hati yang lapang, dan pemikiran yang dalam agar bisa hidup bersama saudara sebangsa yang berbeda dengan tulus dan ikhlas.

Omi Komariah selaku Ketua DPP Nurcholis Majid Society menegaskan pula pentingnya mengembangkan toleransi untuk merajut kemerdekaan Indonesia yang adil dan demokratis. Toleransi adalah kunci untuk keluar dari persekusi dan intoleransi. Tugas Pemerintah sipil memberi perlakuan dan hak yg setara kepada setiap warga negara.Turut mendampingi Presiden Joko Widodo yakni Mensesneg dan Tri Sutrisno. [Laporan Biro Humas dan Pemerintahan BPH GBI - Pdt. Ariasa H. Supit]. Keterangan foto inzet kiri bawah : Pdt. Ariasa H. Supit dan Omi Komaria Nurcholish Madjid].