Berita Bethel
Penulis: Pram (16/11/2019)

Kuasailah Dirimu !

Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal,sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu ! (2 Timotius 4:5).

Paulus berpesan kepada Timotius agar menguasai  dirinya dan sabar dalam penderitaan. Mengapa ? karena ternyata menguasai  diri itu tidak mudah. Musuh terbesar dalam hidup kita adalah diri sendiri. Ketakutan, keraguan, kemustahilan, itu semua adalah area dalam diri sendiri.

Oleh sebab itu ketika kita bisa menguasai diri sendiri, pastilah bisa menguasai orang-orang bahkan lingkungan di sekitar diri kita. Menguasai  diri bukan hanya sekedar mengatur diri dalam rutinitas yang terjadwal, melainkan lebih dari itu, menguasai diri adalah menahan diri dari pencobaan-pencobaan dengan tetap melakukan  kebenaran Tuhan. Oleh sebab itu perlu penyertaan Tuhan agar kita dapat menguasai diri.

Timotius menghadapi banyak sekali pencobaan saat itu, salah satunya adalah tantangan dalam hal memberitakan Injil. Injil murni harus diberitakan walaupun dalam keadaan yang tidak baik atau menyenangkan (ay. 2a). Injil murni harus diberitakan  walaupun beritanya keras dan tidak mengenakkan telinga (ay. 2b). Injil murni  harus diberitakan walaupun tidak populer atau tidak disukai (ay. 3).

Jika kita lihat keadaan saat itu, sesungguhnya  tidak jauh berbeda dengan keadaan sekarang. Hanya bedanya adalah seringkali para hamba Tuhan tidak bisa menguasai dirinya, mereka berkhotbah tidak lagi dalam kemurnian Injil. Mereka memberitakan  Injil tetapi yang hanya enak didengar, isinya berkat dan  kemakmuran melulu.

Mereka takut menyatakan kesalahan jemaatnya berdasarkan Firman  Tuhan, malah seringkali  menakuti jemaat supaya rajin memberi persembahan, supaya lebih terkenal dan populer, lebih banyak waktu untuk up-date status media sosial dari pada mencari kebenaran Tuhan.

Dengan demikian, fokus bukan kepada  kehendak Tuhan lagi melainkan sudah kedagingannya seperti ingin terkenal, ingin populer, ingin jadwal pelayanan  yang padat, ingin fasilitas pelayanan seperti mobil, apartemen, gedung gereja yang “wah”, ingin jabatan yang tinggi. Padahal untuk apa menjadi populer di hadapan manusia tetapi ditolak Tuhan ?.

Ditolak Tuhan bukan karena pelayanannya, tetapi karena engkau melayani tetapi tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, tidak fokus kepada Tuhan (Mat. 7:21-23).Dalam dunia usaha, ketika anda tidak menguasai diri dan tidak mau sabar dalam penderitaan, pastilah anda akan berusaha mencari jalan pintas.

Budaya sogok menyogok, KKN, bahkan korupsi, itu semua disebabkan karena mereka tidak mau sabar dalam penderitaan,  tidak mau menabur dalam kesusahan dahulu. Bahkan dalam keluarga juga demikian, kesatuan, kekompakan dan kepercayaan adalah hasil dari penguasaan diri dan sabar dalam penderitaan.

Apa jadinya ketika istri tidak sabar menderita, pastilah bawel setiap hari dan hadirat neraka hadir setiap hari. Demikian juga ketika suami tidak sabar menderita, pastilah terjadi seperti lagu “bang toyib”, suami tidak pulang-pulang, saatnya pulang sudah memiliki WIL. Inilah bahaya dari tidak adanya penguasaan diri dan kesabaran menderita.

Itulah sebabnya Firman Tuhan berkata: “roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Mat. 26:41b). Supaya dapat menguasai  diri, kita harus hidup dalam Roh Tuhan. Daging yang lemah itu harus dikuasai oleh roh kita,sehingga hidup kita bukanlah seturut daging tapi hidup dalam roh, sebab semua orang yang dipimpin roh Allah adalah  anak Allah (Rm. 8:14).

Bagaimana caranya hidup dalam roh ?. Bangun hubungan yang intim dengan Roh kudus dan belajar menguasai diri, sabarlah dalam penderitaan !.  Mematikan kedagingan kita bukanlah hal yang mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa.

Kita bisa melakukannya  jika kita mengijinkan Roh kudus untuk memimpin hidup kita. Karena ketika hidup dalam Kristus, kita adalah ciptaan baru (2 Kor. 5:17), yang dipimpin oleh roh kepada kehidupan dan kebenaran (Rm. 8:10).Mari belajar menguasai  diri dan sabar menghadapi penderitaan, karena roh kudus memberi kekuatan. [Sumber : R.A.B. - Pdm.  Hiruniko Ruben/Foto : Istimewa]