Berita Bethel
Penulis: Pram (13/01/2020)

Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang

Uskup Keuskupan Agung Jakarta yang juga Ketua Konferensi Waligereja Indonesia, Mgr Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo menyebutkan adanya tanda-tanda zaman yang membesarkan hati di negeri tercinta Indonesia.

“Ada kesadaran akan tanggung jawab memelihara alam ciptaan sehingga semakin tumbuh menggembirakan. Juga, kerelaan untuk berbagi dengan saudara-saudari kita yang mengalami bencana, kekurangan, menderita, terus terpelihara,” kata Ignatius Suharyo dalam Renungan Natal Nasional 2019 di SICC Bogor, Jawa Barat, Jumat, 27 Desember 2019.

“Pun, ada kesadaran merawat untuk cinta terhadap tanah air dan persaudaraan sesama warga masyarakat serta warga bangsa juga sangat kentara,” tambah dia.

Meski begitu, lanjut Ignatius Suharyo, sehubungan dengan semangat cinta tanah air dan persaudaraan diantara warga masyarakat dan bangsa, ada juga tanda-tanda kurang baik.

Ia mencontohkan munculnya kosakata baru. Dimana pada masa 10-15 tahun lalu belum banyak digunakan, bahkan belum ada.“Ada kata ujaran kebencian yang sekarang banyak dipakai. Kata intoleransi dan kata politik identitas yang sering juga dipakai. Pertanyaan kita umat Kristiani yang merayakan Natal adalah melalui tanda-tanda zaman seperti itu, Allah mau bicara apa kepada kita,” tegas dia.

Lebih lanjut Ignatius Suharyo mengutarakan itulah yang dijawab melalui pesan Natal bersama Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) bersama Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang dirumuskan dengan sangat menantang yakni “Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang”.

“Pertanyaan berikutnya mampukah kita?” ujar dia.Lebih lanjut Ignatius mengatakan, “Kita semua tahu dan yakin hanya Yesus, Sang Manusia, yang bisa menjadi sahabat bagi semua orang. DIA menjadi sahabat bagi orang miskin dan kaya, menjadi teman bagi pendosa bahkan mendoakan musuh.”

Karena itu, menurut Ignatius, tema Natal tahun ini hendaknya direnungkan baik-baik, yaitu ajakan untuk hidup sebagai sahabat sebagai semua orang adalah ajakan untuk semakin setia untuk mengikuti Yesus, Sang Raja Damai, yang telah merobohkan tembok-tembok pemisah yakni perseteruan.

“Ajakan ini adalah ajakan untuk mengembangkan dan merawat untuk memikul tanggung jawab sejarah, merawat dan mengembangkan persaudaraan dalam rangka membina rasa cinta tanah air,” kata dia.

“Mari kita ungkapkan rasa cinta tanah air dengan memikul tanggung jawab sejarah dan berusaha mengikuti Yesus Kristus menjadi sahabat bagi semakin banyak orang,” tandasnya.Diakhir renungannya, Ignatius mengajak semua yang hadir untuk menyanyikan bersama lagu “Satu Nusa Satu Bangsa”.[VIC]