Berita Bethel
Penulis: Pram (13/02/2020)

Pendeta atau Pendekar ?

Jika  sepintas  kIta  mendengar istilah  judul renungan ini,  akan terkesan sebuah istilah yang maknanya hampir sama. Namun setelah diteliti secara cermat, kedua istilah di atas memiliki pengertian dan makna yang jauh berbeda.

Pendeta adalah nama lain dari seorang hamba Tuhan yang telah memiliki panggilan khusus dari Allah, atau jabatan rohani yang diberikan oleh lembaga keagamaan (gereja) kepada seseorang  yang ditahbiskan menjadi seorang  pelayan Tuhan.

Sedangkan Pendekar adalah seseorang yang kemampuannya khususnya kekuatan fisik atau otot melebihi orang lain. Selain itu, pendeta melayani untuk memuliakan Tuhan, sementara Pendekar menunjukkan kehebatannya untuk dirinya sendiri.

Pendeta lebih melihat orang lain lebih berharga dan istimewa, sedangkan Pendekar meremehkan dan menghina orang lain yang ada di sekitarnya. Dan masih banyak perbedaan lainnya yang tidak mungkin dijabarkan di sini.

Tidak  bermaksud  mencela  atau  menghakimi Pendeta, namun  perlu ditegaskan melalui renungan ini bahwa entah disengaja atau tidak, ada [oknum] Pendeta yang berpenampilan sama dengan Pendekar meskipun fisik atau ototnya tidak jauh berbeda dengan orang lain.

Hal ini dibuktikan dengan sikap dan tindakannya yang selalu merendahkan dan menjelekkan orang lain yang ada di sekitarnya sepertinya dia sendirilah yang paling kuat atau hebat, paling pintar dan paling benar di dunia ini.

Ia selalu menunjukkan kehebatan dirinya dengan sikap yang kelihatan rohani dengan khotbah sana sini namun tujuannya untuk menunjukkan kesombongan dirinya. Dengan berbagai strategi “rohani” yang menunujukkan melayani Tuhan, namun tujuannya mendapatkan uang untuk kepentingan diri sendiri dan keluarganya. Tidak ada salahnya mendapatkan uang, namun celakalah jika tujuan palayanan kita adalah uang!.

Kita tidak perlu heran jika kita melihat penampilan [oknum] Pendeta seperti Pendekar karena Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa “Hal itu tidak usah mengherankan, sebab iblispun menyamar sebagai malaikat Terang” (2 Kor. 11:14).

Kita tidak perlu menghakimi  mereka, namun jika kita sebagai orang percaya secara khusus Pendeta yang dipercayakan Tuhan sebagai hamba-Nya perlu mengevaluasi pelayanan di hadapan Allah agar kita tidak terjebak tipu daya iblis melalui penampilan, kegiatan dan pelayanan yang kelihatan “rohani”, namun terselip strategi iblis yang mengharcurkan, membunuh dan membinasakan hidup dan pelayanan kita.

Ada beberapa teladan dari Tuhan Yesus yang harus kita ketahui dan terapkan dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, khususnya pendeta yang telah dipercayakan Tuhan melayani pekerjaan-Nya di dunia ini, di antaranya : 1. Rendah hati. Kita tahu betapa rendah hatinya Tuhan Yesus  datang ke dunia untuk melayani dan menyelamatkan manusia berdosa.

Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa, “Tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus diper tahankan, Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia” (Fil. 2:6-7).

2. Mengampuni dengan tulus. Alkitab mencatat bahwa selama Tuhan Yesus  melayani selama tiga tahun enam bulan di bumi ini, tidak pernah lepas dari masalah atau tantangan, mulai dari ahli-ahli Taurat, orang Farisi, orang Yahudi dan pemuka-pemuka agama yang menolak diri-Nya bahkan murid- murid-Nya yang menyangkal dan mengkhianati-Nya. Tetapi Tuhan Yesus tidak pernah dendam melainkan mengampuni mereka dengan berkata, “Ya Bapa, Ampunilah mereka, sebab mereka tidak tau apa yang mereka perbuat…” (Luk. 23:34).

3. Melayani dan mengasihi semua orang. Tidak dipungkiri bahwa masih ada [oknum] Pendeta yang pilih kasih dalam melayani. Jika jemaat yang kaya datang beribadah, sambutan sang [oknum] Pendeta disertai senyum menghantar jemaat tersebut ke tempat duduknya.

Sementara jemaat biasa tidak pernah disambut malah sang [oknum] Pendeta menunggu sambutan. Ingat! Tuhan Yesus  tidak pernah memilih-milih dan membedakan orang. Ia selalu mengasihi dan melayani siapa pun, baik orang sakit, sehat, tinggi, pendek, kurus, gemuk maupun orang orang kaya dan miskin.Pendeta tidak sama dengan Pendekar jika hidupnya sesuai dengan Firman Allah. [Sumber : R.A.B/Pdm.  Faonasokhi Lombu, STh/Foto : Istimewa].