Berita Bethel
Penulis: Pram (22/09/2020)

Menteri PPPA : Banyak Anak-Anak Alami Gejala Depresi Ringan Sampai Berat

Keprihatinan terhadap kekerasan terhadap anak-anak baik itu melalui perkataan [verbal], fisik, sekolah, bahkan di tempat ibadah sehingga korban-korban mengalami trauma, kasus WN Perancis yang melakukan pelecehan terhadap sekitar 300 anak-anak dilontarkan oleh Ketua Umum BPH GBI [Pdt. Rubin Adi Abraham, MTh].

Ia memberikan sambutan singkat melalui zoom dan live melalui Youtube Channel : Sinode GBI Official [Selasa, 22/9, jam 10:17 WIB] pada acara Launching Gerakan GBI Sehati : Melindungi Keluarga, Anak dan Remaja.

"Tiap gereja lokal GBI diharapkan menjadi relawan GBI dalam hal pelayanan keluarga dan gereja lokal bisa menindaklanjutinya guna melindungi anak-anak dan remaja," pungkasnya.

Keynote speaker pertama pada acara ini adalah I Gusti Ayu Bintang Darmawati,SE, M.Si [Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia].

Mengawali presentasinya, Menteri mengatakan perlu sinergi Pemerintah dan melibatkan masyarakat dalam hal perlindungan anak, remaja dan keluarga sehingga menghasilkan solusi yang komprehensif. Ia kemudian menyampaikan apresiasi untuk GBI yang terlibat langsung dan memberikan solusi.

Lebih lanjut, Menteri menyampaikan tentang Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Convention on the Rights of the Child (Konvensi tentang Hak-Hak Anak). Dalam konvensi ini diatur mengenai beberapa prinsip dasar anak yakni prinsip non diskriminasi, prinsip kepentingan terbaik bagi anak (best interest for children), prinsip atas hak hidup, keberlangsungan dan perkembangan serta prinsip atas penghargaan terhadap pendapat anak. Selain itu ia menyebutkan perihal Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2020 Tentang Perlindungan anak.

Kondisi anak-anak pada masa pandemi Covid-19 di tanah air mendapatkan atensi dari Menteri. Ia mencermati bahwa anak-anak banyak yang terdampak Covid-19 karena kehilangan pengasuh utama yakni orang-tua laki-laki yang meninggal karena pandemi ini. Akibatnya, para istri kemudian menjadi pendidik dan merawat anak-anak. Padahal, usia orang-tua yang meninggal dalam kategori rentang usia 30 - 60 tahunan.

Kondisi anak-anak selama pandemi, berdasarkan survei PPPA terhadap 3.252 anak [13 persen] responden mengalami gejala depresi ringan sampai berat. Ia mencatat bahwa ada 2.905 kasus kekerasan terhadap anak dengan korban mencapai 3.236 anak-anak. "Kasus tertinggi adalah kekerasan seks dan fisik pada anak-anak," ujarnya dengan nada prihatin.

Menurut pandangannya, perlindungan anak-anak pada masa pandemi juga mencakup perlindungan terhadap kecanduan gawai, cyber bullying [pelecehan melalui internet], dan eksploitasi online.

Sebagai closing persentasinya, Menteri mengatakan berkaitan dengan Gereja Ramah Anak, Pihak Kementerian PPPA mendorong agar ruang gereja yang kosong bisa dimanfaatkan untuk anak-anak di waktu luang, mendorong gereja untuk berorientasi kepada kepentingan anak. "Banyak anak salah pilih kegiatan untuk memanfaatkan waktu luang," pungkasnya.

Pembicara lainnya masing-masing dr. Hasto Wardoyo, Sp. OG (K)  [Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).Haryati  [Ketua Pengurus Jaringan Peduli Anak Bangsa Nasional].Prof. Dr. Thomas Pentury, M. Si [Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementrian Agama Republik Indonesia].Pdt. Hengky So, M.Th [Ketua IV BPH GBI - Bidang Pembinaan Keluarga].

Acara ini terselenggara atas kerja-sama :  1. Departemen Pembinaan Keluarga  BPH GBI. 2. Departemen  Pemuda & Anak BPH GBI. 3. Departemen Wanita Bethel Indonesia BPH GBI.