Berita Bethel
Penulis: Pram (20/05/2015)

SR ke-14 CCA : Bicara Isu Praktis, Bukan Teologis


Sidang Raya ke-14 Christian Conference of Asia (CCA) dengan tema "Hidup Bersama di dalam Rumah Tangga Allah" berlangsung mulai tanggal 20-27 Mei 2015 di Ancol, Jakarta-Utara.  SR akan dibuka besok, jam 18.00 WIB (Kamis, 21/5) oleh Menteri Agama RI. Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal CCA Pdt. Henriette Hutabarat Lebang (Ketua Umum PGI) kepada wartawan media cetak dan online Kristiani di Ancol, Jakarta-Utara  hari ini (Rabu,20/5).



Acara ini merupakan kerja bareng HKBP - PGI. Sidang Raya ini dilaksanakan setiap lima tahun, dengan diawali di Parapat, Sumatera-Utara (1957) dengan tema "Tugas PI Bersama Gereja-gereja di Asia Timur" dan sebelumnya, pada tahun 2010 diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia dengan tema "Dipanggil untuk Bernubuat, Merekonsiliasi dan menyembuhkan". 



Refleksi Tema Tema SR 2015. "Hidup Bersama di dalam Rumah Tangga Allah" direfleksikan melalui empat perspektif yang berbeda namun saling terkait yaitu Rumah Tangga Allah : 1. Bersaksi Bersama sebagai Gereja Asia (Yohanes 17:21). 2. melampaui Batas Gereja (Mazmur 145:9). 3. Menatalayani dengan Bertanggung-jawab (Mazmur 95:1-7 dan Mazmur 95:8-11). 4. Menopang Ciptaan Allah (Roma 8:22, Roma 8:19, Yoel 2:12-13).



Latar Belakang Pemilihan Tema SR 2015. Tema berdasarkan realita kehidupan di Asia dan peranan gereja-gereja serta komunitas ekumenis di tengah masyarakat Asia yang berubah sangat cepat. Kondisi itu berupa peningkatan kekerasan atas dasar konflik agama, etnis, komunitas. Hal itu mengancam kedamaian dan kehidupan manusia. Selain itu, bencana alam yang kerap terjadi menimbulkan masalah bagi masyarakat, menghancurkan infrastruktur, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Gereja dipanggil untuk menjadi rekan sekerja Allah dan mempertahankan semua ciptaan Tuhan (Mazmur 24:1).



Penjelasan Sekretaris Jenderal CCA. Pdt. Lebang (Foto-Kedua Kiri) mengatakan gereja-gereja Asia terus mengupayakan budaya damai, sebab bumi adalah tempat kediaman yang aman dan alami rahmat Allah. Sembari ia menambahkan, SR ini dihadiri sekitar 400 peserta dari dalam dan luar negeri seperti China, Iran, Pakistan, Bangladesh, India, Nepal, Bhutan, Malysia, Filipina, Thailand, Selandia Baru, Australia, Burma, Laos, Kamboja, Taiwan, Hongkong, Korea Selatan, Jepang, negara-negara (Kepulauan) Pasifik, Afrika, Eropa, USA, Kanada. Peserta berasal dari 28 negara dan regional.



Pertemuan akan melaporkan pencapaian 5 tahun lalu dan membahas apa saja yang akan dikerjakan 5 tahun ke depan. Ia menekankan, SR ke-14 ini akan membahas hal-hal yang berkaitan dengan hal-hal praktis kehidupan, bukan teologis. Sebab menurutnya gereja harus hadir di tengah-tengah masyarakat tanpa membedakan golongan. Selain itu, pembahasan akan mengarah kepada publik isu seperti kebebasan beragama dan radikalisme. "Gereja hadir untuk orang tertindas dan sakit. CCA telah memberikan atensi untuk hal ini, sejak SR I (1957) yaitu Injil hadir di tengah-tengah masyarakat miskin dan menggumuli masalah-masalah kehidupan.



Nara Sumber. Para pembicara pada hari pertama antara lain Wakil Sekretaris Jenderal Gereja Sedunia (Prof. Isahel Pivii) dan Dr. Darmansyah Jumuala (Departemen Luar Negeri RI) dengan tema Geopolitical Perspective Asia. Selain itu, SR akan membahas isu-isu kontemporer gereja-gereja di Asia. Sesuai dengan jadwal acara, pembicara-pembicara dari lintas agama akan hadir besok. Tujuan mereka berbicara ialah peran serta lintas agama bisa bergandengan tangan menjawab masalah- masalah secara bersama.



Ketua Panitia (Sukur Nababan). Nababan (Foto-Ketiga Kiri) mengatakan melalui SR ini, permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan keimanan Kristen bisa mendapatkan solusi. Ia menilai, persoalan besar saat ini yaitu kebebasan beribadah dengan baik, perekonomian anak-anak Tuhan, pendidikan.  Hal lain yang harus mendapat perhatian katanya ialah peningkatan hubungan dengan pemeluk-pemeluk agama lain. Nababan menggaris-bawahi bahwa pertemuan ini bukan membicarakan masalah-masalah teologis, namun hal-hal praktis dalam realita kehidupan, termasuk bisa menghasilkan keputusan-keputusan terhadap masalah yang dihadapi gereja-gereja di Asia.



SR ke-14 CCA diadakan di Jakarta, Indonesia menurut Nababan bertujuan untuk menunjukkan ke semua delegasi Asia bahwa di tanah air sistem toleransi masih berjalan dengan baik, meskipun masih juga terjadi peristiwa-peristiwa penutupan gereja di wilayah tertentu dan masih banyak gereja yang belum mendapatkan ijin di tanah air.



Sekum PGI, Pdt. Gomar Gultom. Sekum (Foto-Keempat Kiri) memberikan apresiasi kepada HKBP selaku penyelenggara acara ini, sama seperti pada tahun 1957 (SR CCA I). Tema SR saat ini menurutnya relevan dengan situasi gereja-gereja di Indonesia dan hambatan-hambatan terhadap gereja diakuinya juga terjadi di luar negeri. Sesuai dengan tema tersebut, ia menghimbau agar semua pihak bisa hidup harmonis sebab tema sesuai dengan tema besar PGI yakni "Tuhan itu Baik Bagi Semua Orang". Ia setuju bahwa SR CCA ini menempatkan Indonesia sebagai contoh yang baik dari sisi kerukunan antar agama, walau masih ada masalah-masalah tertentu.



Kerukunan itu, menurutnya tercermin dari pertemuan kaum muda CCA kemarin (Selasa, 19/5) digelar di kawasan Kampung Sawah, Pondok Gede, Bekasi-Jawa Barat. Para peserta dari berbagai negara usai pertemuan tinggal di rumah-rumah warga non Kristiani dan mereka diterima oleh warga disana dengan hangat. Para pejabat setempat (Lurah, Camat) juga menyambut kedatangan mereka dengan baik.



Rekomendasi kepada Pemerintah ?. Redaksi beritabethel.com bertanya kepada Pdt. Lebang dan Nababan, apakah SR ini akan memberikan rekomendasi kepada Pemerintah berkaitan dengan hal-hal yang penting dan mendesak untuk disikapi Pemerintah. Secara diplomatis, Pdt. Lebang menjawab jika ada keputusan SR yang berkaitan tentang hal itu, maka pihak CCA akan menyampaikan kepada Pemerintah Indonesia, bahkan kepada Pemerintah-Pemerintah Asia terkait, khususnya sesuai dengan domisili gereja-gereja anggota CCA. Hal senada ditegaskan oleh Nababan, sekaligus ia menambahkan bahwa pihaknya akan menyampaikan pernyataan kepada PBB bila diperlukan dan jika ada isu-isu penting. Dengan demikian, gereja-gereja anggota CCA merasakan manfaat pembelaan CCA.



Sementara itu, Sekum PGI memberikan tanggapan atas pertanyaan Redaksi yaitu sebaiknya CCA menyampaikan hal-hal apa saja yang sudah dilakukan untuk anggota-anggota di Indonesia maupun luar negeri. Termasuk bagaimana sikap CCA terhadap gelombang pengungsi Rohingya (Myanmar) ke wilayah-wilayah negara Asia serta hukuman mati yang diberlakukan di Indonesia. Selamat Bersidang dan Sukses !.