Berita Bethel
Penulis: Pram (30/09/2020)

Perlu Multi Darurat Perlindungan Anak !

Tepat pada tanggal 14 Maret 2017, GRA [Gereja Ramah Anak] diluncurkan di Graha Bethel, Jakarta oleh Team Gerakan Ramah Anak, Perwakilan 7 Aras Gereja Nasional, Lembaga Kristiani, Kementerian PPPA dan Kementerian Sosial RI. Hal ini disampaikan oleh Haryati  [Ketua Pengurus Jaringan Peduli Anak Bangsa Nasional], Beliau berbicara sebagai nara sumber ketiga pada acara Launching Gerakan GBI Sehati : Melindungi Keluarga, Anak dan Remaja, via Zoom dan Youtube Channel : Sinode GBI Official [Selasa, 22/9].

Sebelumnya, Dr. dr. Hasto Wardoyo, Sp. OG (K)  [Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional] atau Ka BKKBN menjadi nara sumber kedua usai presentasi I Gusti Ayu Bintang Darmawati,SE, M.Si [Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia] sebagai pembicara pertama.

"GRA bukan membentuk gereja baru, bukan menyatakan bahwa gereja tidak ramah terhadap anak, namun lebih mengarah kepada penyamaan nomenklatur Pemerintah untuk berkontribusi dalam layanan keluarga", ujarnya.

Lebih lanjut, ia memaparkan perihal UU Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Saat ini menurut data yang ia peroleh, 79,5 juta anak ada di Indonesia [30,1 %] dari seluruh total penduduk Indonesia. Sementara itu, jumlah keluarga di Indonesia mencapai 81,2 juta keluarga.

Sekali lagi, Ketua Pengurus Jaringan Peduli Anak Bangsa Nasional menyampaikan bahwa GRA adalah suatu gerakan, sistem perlindungan anak yang ideal dengan mengedepankan pencegahan, intervensi awal, pelayanan perlindungan, penanganan case [kasus] oleh lembaga. Soal generasi, ia menyatakan saat ini generasi yang kerab dikenal dengan generasi digital menghadapi multi tantangan seperti konvergensi media dan teknologi, relativisme, kebenaran, filosofi dan moralitas baru. 

Seiring dengan perkembangan zaman, menurutnya kini anak memasuki multi darurat perlindungan anak sebab banyak kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak, narkoba, pornografi anak, kasus paedofilia. "Semua itu beresiko buat anak-anak dan mereka butuh perlindungan," tegasnya.

Empat prinsip GRA masing-masing :1. Mengasihi tanpa diskriminasi. 2. Mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak.3. Berikan kesempatan anak-anak untuk bisa mengambil suatu keputusan. 4. Memenuhi hak anak sebab mereka adalah bermartabat, berharga, dan berpotensi. Sisi penting lainnya, menurutnya adalah perlu pengasuhan anak yang holistik di gereja. Namun anggaran pelayanan buat anak-anak hanya 20 % saja dari total seluruh anggaran pelayanan gereja.

Di akhir sesi pemaparannya, ia menyampaikan tahapan menuju GRA yaitu : 1. Membentuk Team GRA. 2. Melengkapi kapasitas team.3. Pengembangan strategi. Diharapkan GRA bisa memberikan dampak perubahan perilaku terhadap anak untuk memenuhi hak anak-anak.

Pembicara berikutnya Prof. Dr. Thomas Pentury, M. Si [Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementrian Agama Republik Indonesia].Pdt. Hengky So, M.Th [Ketua IV BPH GBI - Bidang Pembinaan Keluarga].Acara ini terselenggara atas kerja-sama :  1. Departemen Pembinaan Keluarga  BPH GBI. 2. Departemen  Pemuda & Anak BPH GBI. 3. Departemen Wanita Bethel Indonesia BPH GBI.