Berita Bethel
Penulis: Pram (31/05/2015)

Rekomendasi SR ke-14 CCA


CCA (Christian Conference of Asia) telah selesai mengadakan Sidang Raya ke-14 di Ancol, Jakarta-Utara (20-26/5). SR dihadiri 437 peserta dari 28 negara se-Asia dengan tema "Living Together in The Household of God (Hidup Bersama di Rumah Tuhan). Hal itu disampaikan Pdt. Hendriette Hutabarat Lebang selaku Sek Jend CCA 2010-2015 dan Ketua Umum PGI dihadapan wartawan media Kristiani dan media umum di Ancol (Rabu, 27/5).Hadir pada sesi ini yaitu Matthew John, Sek Jend CCA (Pdt. Lebang), Pdt. WTP Simarmata (moderator CCA), Dr. Rokhaya (Nepal), Rayanand Siguru (Nepal-Sek Jend Dewan Gereja-Gereja)dan Bendahara (Nepal-Dewan Gereja-Gereja) dan Pdt. Gomar Gultom (Sekum PGI).



Diakhir pertemuan, SR CCA merekomendasikan beberapa poin penting agar Persekutuan Gereja-gereja Kristen se Asia memberikan prioritas masalah perdagangan manusia, pengembangan program pendidikan, mendorong penerapan kebijakan perdagangan secara adil, perlawanan terhadap kekerasan dengan sasaran orang Asia dengan cara mendapatkan nama dan alamat instrusi negative force, peningkatan peran aktif gereja dalam menghilangkan kekerasan terhadap wanita, orang muda, anak-anak dan lingkungan sosial.



Berkaitan dengan kondisi keamanan dan perdamaian di Asia Pasifik, CCA merekomendasikan agar Persekutuan Gereja-Gereja di Asia meminta AS menghentikan pembangunan pangkalan militer di kawasan semenanjung Korea dan Jepang, berdoa bersama bagi penyatuan kembali dua Korea (Selatan dan Utara), menyatakan solidaritas dan kepedulian terhadap saudara-saudara yang mengalami situasi peningkatan fundamentalisme agama. Termasuk di Indonesia muncul kekuatiran terhadap radikalisme dan perlunya jaminan kebebasan beragama.



Perubahan iklim disikapi CCA dengan mendorong gereja-gereja di Asia untuk ikut menangani penurunan kualitas lingkungan dengan memperhatikan kebijakan lokal, melanjutkan studi dampak perubahan iklim bekerja-sama dengan Gereja-Gereja se Dunia dalam rangka mempersiapkan konferensi perubahan iklim di Perancis 2015.



SR ini menghadirkan para nara sumber lintas agama seperti Prof. Dr. Musdah Mulia (ICRP)dan dosen Universitas Islam Negeri, Ciputat, Tangerang-Selatan, Banagala Upatissa (Sri Lanka-Budha), Swami Isa (Hindu-India, Dr. Tong Wingsze (Hongkong). Kesimpulan diskusi tersebut yaitu untuk membangun dialog antar umat beragama terdiri dari prinsip-prinsip kemanusiaan, kekeluargaan, demokrasi, dan kemajemukan agama.Dengan demikian sebagai seorang individu, ia harus sadar bahwa dirinya menjadi bagian dari kesatuan dunia.



Akhir SR menghasilkan terpilihnya Ketua CCA periode 5 tahun yaitu Ephorus HKBP (Pdt. WTP Simarmata, STh). Ia mengatakan guna membantu beban pengungsi Rohingnya, 3.500 gereja-gereja HKBP mengadakan kolekte khusus. "SR memperhatikan dengan serius tiga krisis yang sedang terjadi saat ini yakni makanan, energi, dan iklim," ujarnya. Sementara itu, menurut keterangan Pdt. Gomar Gultom, Ultah PGI secara khusus memberikan persembahan untuk korban gempa bumi Nepal, juga pada saat penutupan SR CCA peserta memberikan persembahan dengan tujuan yang sama.



Selanjutnya, Dr. Rokhaya menyampaikan pandangannya bahwa gereja-gereja di Nepal perlu jejaring dengan Media. Hal itu bertujuan untuk menghilangkan salah komunikasi dengan gereja. Ia menyuarakan juga perihal besarnya kerusakan dan korban jiwa akibat gempa di negaranya. Sekitar 600 ribu orang meninggal, hidup dalam kekuatiran dan banyak yang bunuh diri.



Redaksi beritabethel.com menginfokan kepada Dr. Rokhaya perihal dua orang dokter dari PDGBI Departemen Pelmas BPH GBI yang pergi ke sana sebagai relawan kesehatan dibawah naungan Disaster Relief Responder. Menurut Sek Jend CCA, pihaknya akan menyampaikan rekomendasi kepada Pemerintah masing-masing dimana gereja-gereja menjadi anggota CCA, dengan mekanisme melalui gereja tersebut.