Berita Bethel
Penulis: Pram (31/05/2015)
Mengembangkan Kurikulum Jemaat Lokal


Makna Sebuah Kurikulum. Salah satu tantangan yang dihadapi gereja-gereja pada zaman ini adalah mempersiapkan kurikulum dalam jemaat lokal. Kurikulum secara sederhana dapat dimaknai sebagai rencana pembelajaran (pengajaran) di gereja lokal. Pengajaran disampaikan melalui berbagai bentuk antara lain khotbah, seminar, pelatihan dan diskusi, dan lain-lain. Sejatinya tugas dan panggilan gereja haruslah mengajar, sebab merujuk kepada Injil Matius 28:19-20 :” Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Kalimat ini sangat kontras dapat dibaca dan dipahami tugas gereja yakni “mengajar segala bangsa”.



Kurikulum Kotbah. Mengajar hanya dapat dilakukan dengan baik jika dalam sebuah gereja ditemukan kelengakapan yang memadai, salah satu diantaranya ialah kurikulum (rencana pelajaran). Banyak gereja tidak memiliki rencana pengajaran yang sistematis, hal ini bisa saja diakibatkan oleh ketidakmampuan atau ketidaktahuan para pendeta atau gembala dalam mendesainnya. Tidak jarang kita melihat para pendeta dan pelayan mimbar, sering mengkhotbahkan hal-hal yang sama bahkan cenderung berulang tahun demi tahun, ini disebabkan belum mampunya mereka membuat kurikulum pengajaran atau jika mau kita sebutkan kurikulum khotbah (pengajaran).



Kurikulum dan Globalisasi. Kemajuan zaman menuntut gereja-gereja untuk mengupgrade diri dalam hal kurikulum pengajaran. Era dimana kita ada disebut dengan era globalisasi yang ditandai dengan kemajuan cepat serta mendunia di bidang informasi dan teknologi dalam dua dasawasa terakhir telah berpengaruh pada peradaban manusia melebihi jangkauan pemikiran sebelumnya. Pengaruh ini terlihat pada pergeseran tatanan sosial, ekonomi dan politik bahkan juga dalam bidang keagamaan atau religious.Tantangan zaman ini memerlukan kesiapan gereja-gereja untuk menyelenggarakan pendidikan warga jemaat melaui mimbar dengan sajian pengajaran yang terinci, tersistem dan juga terencana. Pada hakekatnya kurikulum pengajaran di gereja, akan memberikan dampak yang positif dan baik jika, didesain sesuai dengan kebutuhan jemaat.Gereja harus mengimbangi perkembangan zaman dan teknologi, dimana setiap saat menyuguhkan perubahan-perubahan yang sangat cepat.



Kurikulum Gereja. Dalam hal tugas gereja mengajar maka hal yang sangat prinsip dan hakiki dipegang ialah bagaimana kurikulum pengajaran yang diberikan kepada jemaat mampu menolong jemaat-jemaat bertumbuh dan dewasa secara berkelanjutan. Untuk hal ini salah satu pembenahan yang harus dilakukan ialah “kurikulum gereja” harus mumpuni dan memberikan jawaban atas pergumulan dari jemaat-jemaat yang dilayani.Jika membandingkan antara gereja dengan sekolah-sekolah (institusi pendidikan formal), maka di negeri kita sekolah dan pendidikan telah mengalami perubahan kurikulum sekian kali, ini disebabkan adanya animo memperbaiki kurikulum dan pengajaran di sekolah, selain dari tuntutan perkembangan zaman dan juga undang-undang mensyaratkan demikian. Tujuan perubahan kurikulum tersebut ialah untuk meningkatka kualitas dan layanan pendidikan baik yang menyangkut pada aspek input, proses dan output.



Hubungan Kurikulum-Visi-Misi. Hal serupa juga hendaknya menjadi landasan dan dasar bagi penyusunan serta pengembangan kurikulum gereja lokal. Didasarkan pada kerinduan dan hasrat untuk mengembangkan kualitas jemaat-jemaat, maka pengajaran dan kurikulum pelajaran jemaat (baik melalui khotbah, ibadah raya, komsel) seharusnya mendapat tanggapan untuk perubahan. Dengan demikian akan terjadi perbaikan yang secara terus menerus dalam layanan “kualitas” pengajaran gereja.Dalam rangka mewujudkan pengembangan kurikulum dalam gereja lokal, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain: Pertama, perhatikanlah visi dan misi gereja. Visi dan misi gereja akan mewarnai kurikulum gereja. Misalnya saja jika visis gereja :”Menjadi Seperti Yesus”, maka dalam tata laksana pengajaran di gereja, para pemimpin gereja atau pendeta harus mampu melahirkan berbagai topik pengajaran berdasarkan visi tersebut.



Belum lagi tugas para gembala untuk mendesain berapa lama visi tersebut akan digarap, maka sesuai dengan jangka waktu itulah kurikulum pengajaran dibentuk. Kedua, perhatikan nilai-nilai yang dibangun dalam gereja, biasanya hal ini merujuk kepada motto pelayanan yang dikembangkan. Maka seyogianya bangunan pengajaran dan pembinaan di gereja, harus diarahkan kepada nilai-nilai tersebut, juga diarahkan kepada pencapaianya.



Kategori Kurikulum : Jangka Pendek-Menengah-Panjang. Nilai-nilai yang dibangun dalam gereja, harus terealisasi melalui bahan pengajaran yang bentuk dan modelnya disesuaikan dengan kebutuhan jemaat lokal. Ketiga, perhatikan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga gereja tersebut. Hal ini tidak bisa terlepas dari tata gereja secara sinodal. Berdasarkan hal ini maka kita akan mampu membentuk kurikulum yang komprehensif dan mumpuni dalam mengembangkan gereja lokal. Keempat, perhatikan doktrin gereja, berdasarkan doktrin gereja maka kita akan lebih mudah memahami sampai dimana ajaran-ajaran yang akan kita sampaikan kepada jemaat.Biasanya pokok pengajaran yang berupa doktrin menjadi patokan dan juga norma pengembangan kurikulum di gereja lokal.Untuk memudahkan gereja dalam mengembangkan kurikulum jemaat lokal, maka ada baiknya jika kita membangunnya dalam kategori kurikulum jangka pendek, menengah dan panjang.



Ada yang sifatnya pengajaran jangka pendek, dimulai dengan hal-hal yang praktis, dimana para pendeta atau gembala bisa mengkhotbahkannya serta mengajarkannya dalam kurun waktu yang relative singkat. Biasanya hal ini bersifat praktis, mungkin juga bisa disebut khotbah-khotbah tematik yang sekali diajarkan selesai. Untuk kurikulum jangka menengah hal ini harus dilakukan berdasarkan kebutuhan lanjutan dari jangka pendek, hal ini berarti diperlukan karena kurikulum jangka pendek tidak mampu menampung dan mneyelesaikannya, karena itu dibutuhkan lanjutan pengajaran atau khotbah yang serial.



Langkah Praktis Menyusun Kurikulum. Kurikulum jangka panjang ini merujuk kepada kelanjutan yang kontiniu secara terus menerus dalam waktu yang relatif lebih lama. Biasanya kurikulum dalam hal ini sifatnya doktrin yang secara terus menerus dan dalma jangka waktu lama bisa diajarkan kepada jemaat-jemaat.Dalam rangka mengembangkan kurikulum jemaat lokal, maka beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan antara lain:



1. Rumuskan tujuan. Merumuskan tujuan, dalam hal ini menyangkut kepada rencana pengajaran yang akan digarap, baik yang sifatnya jangka pendek, menengah dan juga panjang. Hal ini menjadi penting sebab akan menolong para gembala atau pendeta dalam menyusun kerangka kurikulum yang akan disajikan. Tujuan akan mempengaruhi kerangka outline dari pengajaran yang akan disampaikan di gereja, baik yang sifatnya pengajaran praktis dan doktrinal. Lebih lanjut juga akan menolong pembuatan urutan-urutan dari materi yang sistematik.



2. Klasifikasikan pengajaran di gereja lokal. Hal yang kedua ini akan memberikan gambaran bahwa di gereja lokal banyak komisi-komisi pelayanan sehingga memungkinkan gereja mengerjakan pembuatan kurikulum pengajaran yang diklasisfikasikan seturut komisi yang ada. Dengan demikian akan memudahkan pembentukan kurikulum pengajaran; lebih lanjut hal ini akan menolong secara spesifik pembentukan rencana pengajaran tersebut sesuai kebutuhan tiap komisi pelayanan.Jika pengajaran yang dibuat untuk anak anak, tentu akan berbeda dengan remaja dan pemuda, demikian juga dengan kebutuhan jemaat secara umum, pasti akan berbeda. Tidak hanya klasifikasi komisi pelayanan yang penting diperhatikan, melainkan juga klasifikasi jenis kurikulum pengajaran, apakah yang sifatnya praktis atau dogma, ini harus mendapat perhatian secara ekstra.



3. Buatlah modul pengajaran yang sistematik.Modul pengajaran yang dibuatkan harus berdasarkan klasifikasi di atas, hasil ini akan memudahkan bagi gereja atau para pendeta yang akan menggunakan kurikulum (rencana pengajaran). Modul yang dibuatkan bisa berdasarkan tematik sesuai dengan rencana khotbah atau pengajaran mimbar, namun dapat juga berdasarkan sajian yang mengikuti waktu dan kalender pelayanan gerejawi.



Benefit Memiliki Kurikulum. Keuntungan gereja memiliki kurikulum di jemaat lokal, gereja akan tertata secara baik dan sistematik dalam hal pengajaran, lebih lanjut dengan hal ini akan lebih mudah dilakukan evaluasi tentang pemahaman dan pengetahuan jemaat terhadap ajaran-ajaran di gereja tersebut. Bagi para hamba Tuhan, dengan adanya kurikulum di jemaat lokal adalah lebih mudah melaksanakan khotbah-khotbah dan pengajaran, baik yang sifatnya umum maupun klasikal. Harapannya bahwa para pendeta akan mampu memberikan pengajaran yang sistematis dan menyentuh kebutuhan jemaat; sehingga jemaat-jemaat bertumbuh dengan baik.[Pdt. Dr. Purim Marbun - Ka Dep Diklat BPH GBI  dan Puket I STT Bethel Indonesia Jakarta/Foto : Ilustrasi].