Berita Bethel
Penulis: Pram (25/11/2021)

Buku : Quo Vadis Pendidikan Pasca Pandemi ?

Esensi pendidikan teologi pasca pandemi Covid-19 tak alami perubahan, walaupun terjadi perubahan dari onsite menjadi online. Hal itu dituliskan Ketua Umum BPP GBI, Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham, MTh pada bagian pembuka buku yang berjudul Quo Vadis Pendidikan Pasca Pandemi ?.

Buku diluncurkan pada saat Wisuda STTBI Jakarta [Seminari Bethel] ke-35 dengan penyerahan buku dari perwakilan STTBI kepada Sekretaris Umum BPP GBI [Pdt. dr. Josafat Mesach,MTh] dengan didampingi oleh Ketua Yayasan Bethel Indonesia [Dr. Ir. Pdt. Yonathan Wiryohadi]. Editor buku ialah Dr. Frans Pantan dan Dr. Ferdinand Edu. Tebal buku mencapai 241 halaman.

Lebih lanjut, Ketum BPP GBI menuliskan perihal esensi pendidikan tidak mengalami perubahan yaitu membawa setiap peserta didik mengenal Allah dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam Alkitab, taat dan hidup sesuai dengan Roh Kudus. Tiga aspek penting menurutnya yang harus dilaksanakan yaitu :

1. Pengembangan kompetensi tenaga pendidik. 2. Pengembangan kemandirian peserta didik dalah hal pengembangan inisiatif belajar, berkonsentrasi dan kelola waktu dengan baik. 3. Pengembangan karakter Kristus. Penerapan nilai-nilai Kristus dalam berpikir, bertindak, mengamalkan ilmu dari sekolah dengan baik, memiliki moral dan karakter Kristus.

Ketua Yayasan Bethel Indonesia [Dr. Ir. Pdt. Yonathan Wiryohadi] menuliskan pandangannya bahwa STTBI harus bersedia berubah dan mengadakan perubahan sistem, pengelolaan pendidikan. Serta harus ada ide-ide yang kreatif dan inovatif. Sehingga STTBI siap menghadapi tantangan dan perubahan. 

Terjadinya perubahan budaya dan cara hidup, pola pikir orang, menjadi atensi Pdt. Kiki Rusmin Sadrach, MTh [Ketua Seminari Bethel Jakarta]. Hal itu termasuk pula terjadi pada dunia gereja, pelayanan dan sekolah teologia. Selain itu terjadi juga perubahan kadar iman, cinta dan kepercayaan kepada Tuhan akibat ibadah raya, Komsel, persekutuan melalui online. Terjadi penurunan kadar dan kualitas [iman], tulisnya.

Orang akan menjadi lebih bawa perasaan, sensitif, mudah marah, mudah putus asa, paranoid dan skeptis. Dampak ekonomi yang menurun menimpa gereja, keluarga, sekolah, dan sebagian masyarakat.

Gereja musti siap menghadapi kondisi terburuk, para hamba Tuhan harus membekali para jemaat agar tetap kuat dalam iman dan cinta kepada Yesus Kristus agar jemaat terus menjadi garam dan terang dunia [Matius 5:13] dan menjadi jemaat yang tidak tawar hati [2 Korintus 4:16].