Berita Bethel
Penulis: Pram (09/06/2015)

SMD BPD Jakarta : Gembala Membangun Tubuh Kristus


Gembala mempunyai tugas penting yaitu membangun tubuh Kristus untuk kemuliaan-Nya, sesuai dengan nats Efesus 4:11-16 “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus……….”.



Hal itu ditegaskan Ketua Umum BPH GBI, Pdt. Dr. Japarlin Marbun ketika menyampaikan Firman Tuhan pada acara ibadah SMD Khusus Gembala BPD DKI Jakarta di GBI Glow, Jakarta (Selasa, 9/6). Selanjutnya, panggilan-Nya kedua bagi gembala ialah membangun tubuh Kristus dan mendewasakan jemaat agar mereka tidak menjadi jemaat biasa-biasa saja, melainkan bertumbuh rohani menjadi seperti Kristus.



Ditinjau dari sisi organisatoris, gembala memiliki kewajiban untuk menggembalakan jemaat sebab Tuhan telah memilihnya. Ia berpesan agar jemaat dilibatkan secara aktif dalam pelayanan, jadi tidak menjadi penonton. Dirinya prihatin sebab banyak gereja berubah menjadi pertunjukan (show), sehingga jemaat hanya menjadi penonton.



Ketum BPH mengingatkan kembali perserta persidangan tentang tujuh tugas gereja sesuai dengan Roma 6:19 ; Roma 8:29 yaitu marturia, pengajaran, penggembalaan, persekutuan, ibadah, diakonia. Cara pencapaiannya yaitu belajar secara serius dan melayani secara maksimal. Sembari terus melaksanakan Amanat Agung dan meningkatkan persatuan dan kesatuan.



Dibawah kepemimpinannya selama periode 2014-2018, BPH GBI mencanangkan tujuh pokok program yaitu pemberdayaan pejabat dan warga jemaat, PI-Misi-Church Planting, pemberdayaan keluarga dan masyarakat, penguatan organisasi dan kepemimpinan, pengembangan pendidikan dan ajaran, penguatan jemaat lokal, peningkatan peran gereja dan negara. Menurut pengamatannya, akibat sedikitnya keterlibatan gereja (politikus Kristen, Red) dalam negara, maka kebijakan-kebijakan politik (Perda-Perda, Red) di tanah air diputuskan oleh pihak lain.Perkembangan GBI saat ini katanya, menggembirakan sebab berada urutan kedua terbesar setelah HKBP. Jemaat GBI menjapai 3 jutaan jiwa, sementara itu HKPB memiliki jemaat sebanyak 3.5 juta jiwa.



Dalam rangka mewujudkan GBI MANTAP, maka syarat yang harus dipenuhi menurut Ketum BPH yaitu sehat (organisasi, ajaran dan jemaat), kuat dan tertib sehingga GBI bisa berdampak bagi masyarakat. Ia menjelaskan secara singkatan MANTAP yaitu M : maju, A : andalkan Tuhan, N : niat tulus dan kudus, T :t ertib, A : ayomi (pejabat, jemaat secara hukum), P : profesional.



Usai Firman Tuhan, Ketua BPD GBI DKI Jakarta (Pdt. Yonathan Sudarjadi) mengatakan dalam sambutan singkatnya, tema utama SMD ini ialah “Era Baru Menuju GBI Mantap” dan sub tema “ Menerapkan Kepemimpinan GBI Secara Kharismatik Moderen”. Ia mengartikan hal itu sebagai perpaduan antara format kehidupan rohani dan cara kerja pelayanan profesional. Ia secara ringkas melaporkan kinerja BPD selama ini dan rencana ke depan seperti Diklat bagi calon gembala. “Kerjalah dengan sepenuh hati, tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri, “ pesannya.



Bimas Kristen Kemenag DKI Jakarta yang baru ( Lisa Muliyati) mengatakan dalam sambutannya menyampaikan tiga poin penting yaitu : Pertama, Gereja bersikap melayani bukan berkuasa. Sertakanlah pelayanan yang menolong dan layani umat. Undang hadirat Roh Kudus dalam pelayanan. Kesampingkan ambisi-ambisi untuk berkuasa, melainkan gelorakan semangat pelayanan.



Kedua, Gereja menciptakan keteraturan administrasi dan manajemen dalam pelayanan seperti jumlah data jemaat dan tata layanan lainnya. Ketiga, Gereja bertumbuh dalam iman, sehingga menghasilkan buah-buah roh yang bisa dirasakan (manfaatnya) bagi orang-orang di sekitar kita sesuai dengan 2 Petrus 3-7. Ketiga, Gereja sebagai suratan terbuka yang isinya bisa dibaca orang lain (2 Korintus 3:2, Red). Selanjutnya Pdt. Soehandoko Wirhaspati (Ketua MP BPH GBI) memukul gong sebagai tanda dibukanya secara resmi SMD ini. Beliau didampingi Ketum BPH GBI, Bimas Kristen, perwakilan pengurus BPH GBI , dan Ketua BPD setempat.



Sebelum rehat makan siang, sesi dilanjutkan dengan pembekalan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono dengan judul Perubahan Paradigma (Transformasi). Ia menjelaskan, paradigma berarti pengumpulan nilai-nilai yang membentuk pola pikir. Paradigma ini menurutnya dimulai sejak masa kanak-kanak. Sesuai dengan konteks Alkitab, ia mengutip nats Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”, untuk memaknai kata transformasi.



Ia berpandangan, ada dua hal yang harus dimiliki gereja yaitu truth (kebenaran) untuk membangun paradigma dan teladan. Keteladanan gereja untuk jemaat artinya setelah sekian lama jemaat mengikut (berjemaat,Red) di suatu gereja, apakah ia mengalami pertumbuhan rohani ?. Memahami Firman Tuhan harus dilakukan secara benar yaitu logos (nalar teologis). Namun hal ini belum cukup, melainkan harus juga disertai dengan rhema (Firman Tuhan diterjemahkan dalam situasi konkrit).



Ia memberikan contoh, seseorang akan mengerti tentang makna kasih jika dirinya dimusuhi orang lain. “Jika Firman Tuhan masuk ke dalam hati, maka pikiran bisa diubahkan. Misalnya, jika seseorang melihat sebuah rumah yang besar dan bagus, maka ia akan berkata di Rumah Bapaku kondisinya lebih bagus lagi”, ujarnya. Perubahan paradigma sesuai standar Alkitab perlu dimiliki orang percaya agar ia berkenan kepada Tuhan. Selamat Bersidang.