Berita Bethel
Penulis: Pram (26/01/2015)
Gembala adalah Teladan


Kebenaran dan keteladanan adalah prinsip utama dalam gereja, sesuai dengan nats Yohanes 13:14-15 “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu”.



Jika gereja tidak memiliki dua hal ini, maka ia melakukan penipuan dan penyesatan.Gereja adalah tempat jemaat digembalakan untuk menjadi manusia Allah yang layak masuk ke dalam Kerajaan Surga sebagai anggota Keluarga Allah. Artinya, setelah seorang jemaat berjemaat di suatu gereja dalam periode tertentu, maka ia mengalami perubahan kehidupan, tidak menjadi sama dengan dunia, mengalami keselamatan yang berarti kembali ke rancangan Allah semula.Nats-nats lainnya tentang keteladanan tertulis seperti I Timotius 4:12 “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu”. Filipi 3:17 “Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu”.Berkaitan dengan gaya hidup seorang Gembala, ia harus menjadi teladan bagi jemaatnya dengan cara memiliki kehidupan rohani kerohanian yang kuat di dalam Yesus Kristus.



Keteladan itu tercermin dari cara-cara seperti berpakaian, makan, minum, pengaturan waktu, duduk, penggunaan uang, menjaga kesehatan, pola makan, bekerja, mengatur dan memenuhi janji, kehidupan iman, memperlakukan orang lain, dan lain-lain.Gembala harus bisa memberikan contoh yang positif bagi keluarganya dan kondisi ini akan mempengaruhi jiwa jemaatnya. Artinya, keteladanan ini akan menjadi sarana pendidikan yang efektif bagi kehidupan kerohanian jemaat. Selain itu, keteladanan akan membentuk citra gereja yang positif di mata masyarakat. Nats-nats I Korintus 4:6; Filipi 3:17; 2 Tesalonika 3:7,9; I Timotius 4:12.



Sebelum membangun kerohanian jemaat agar menjadi dewasa, seorang gembala harus mampu membangun dirinya sendiri terlebih dahulu.Jika hal ini dilakukannya, maka ia akan bisa membangun hubungan yang erat dengan para jemaatnya. Bahkan, ia juga bisa mendorong jemaat untuk belajar kebenaran Firman Tuhan, mengenal kebenaran dan melakukannya dengan baik. Dorongan dan pendampingan Gembala untuk jemaatnya harus dilakukan dalam kondisi konsistensi yang kuat dan berkelanjutan.



(Pdt. Dr. Erastus Sabdono/Pram)