Berita Bethel
Penulis: Pram (02/07/2024)

DIBALIK SIKAP TEGAS PGI MENOLAK TAMBANG & ANCAMAN TERBELAH

Wawancara Prof. Rhenald Kasali dalam laman youtubenya dengan Pdt. Gomar Gultom selaku Ketua PGI mengenai Sikap Tegas PGI mengenai izin tambang yang ditawarkan oleh pemerintah. Pdt. Gomar Gultom adalah Ketua Umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) sekarang membawahi 97 sinode ada gereja Protestan, Reform, Lutheran, Metodis, Menonite, Pentekosta, Injili. Sinodenya yang besar itu HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) termasuk GBI (Gereja Bethel Indonesia). GMIM (Gereja Masehi Injili Minahasa) GPM (Gereja Protestan Maluku), Gereja Kristen Indonesia di tanah Papua dan beberapa sinode gereja yang lainnya.

RK (Rhenald Kasali) : Pak Pendeta Gomar Gultom, hari ini kita tidak ngomong soal gereja, kita ngomong tentang sikap PGI yang masyarakat tentu ingin tahu, karena di akhir pemerintahan Pak Jokowi kemudian ormas-ormas keagamaan termasuk PGI juga mendapat tawaran untuk mendapatkan tambang. Ini menggiurkan tentu. Tambang yang menarik sekali ya. Hampir semua kawan-kawan saya yang kaya raya itu yang rumahnya luar biasa itu rata-rata adalah pengusaha tambang. Tambang sedang jadi primadona sekali. Jadi banyak anak-anak muda yang tanya pada saya, Pak, bisnis tambang tuh bagaimana sih, kelihatannya menarik begitu ya. Semuanya bicara tambang, tawaran yang menggiurkan.

GG (Gomar Gultom) : Yes saya mengunjungi beberapa daerah misalnya ke Bontang ke Sangata itu kita hanya biasa ke sana kalau menggunakan pesawatnya perusahaan tambang, perusahaan tambang yang punya, mereka punya landasan sendiri. Perusahaan penerbangan umum belum ada.

RK : Jadi bisa dibayangkan betapa kayanya dan perlu modal besar untuk usaha tambang itu.

GG : Saya kira Prof. lebih tahu. Saya itu mendalami soal permodalan yang saya tahu pasti hasilnya luar biasa.

RK : Kalau tidak tahu berarti tidak menguasaikan?

GG : Ya itu salah satu menjadi poin kami. Memang kami sama sekali tidak menguasai.

RK : Oleh karena itu sikap PGI yang resmi sebetulnya yang mana? apa sudah ada? seperti yang kami baca di sebaran-sebaran di media atau sudah dibicarakan, bagaimana?

GG : Secara spontan memang yang bicara baru saya ke media dan poinnya adalah ini bukan ranah pelayanan PGI, mandat kami tidak di situ dan serta-merta saya katakan apresiasi kepada pemerintahan Jokowi yang memberi kesempatan kepada lembaga keagamaan, tetapi itu bukan berarti bahwa PGI ikut di dalamnya saya dengan tegas mengatakan kami mau fokus untuk pembinaan umat, jadi PGI tidak ikut. Nah terkait pertanyaan Prof. Apakah ini sudah sikap resmi waktu saya bicara itu, belum, karena kami masih baru membentuk tim pengkajian untuk mendalami, karena bukan bidang kami. Kami bentuk tim pengkaji yang terdiri dari akademisi, praktisi bisnis, ahli hukum, ahli ekonomi, ahli permodalan, teolog dan mereka bekerja hasilnya sudah ada dan kami sudah sampai kepada sikap final dan sikap final PGI adalah PGI tidak akan mengajukan diri untuk meminta, untuk menggunakan kesempatan ini. Dan kalau PGI ditawari oleh pemerintah, PGI juga akan menolak. Tentu kita berterima kasih tapi kita akan menolak untuk ikUt terlibat.

RK : Apa landasan utamanya dalam penolakan itu, kan gereja juga masih banyak yang miskin yang memerlukan bantuan dan gereja punya pelayanan untuk melayani orang yang miskin.

GG : Juga butuh duit juga semua, dan gereja juga berbisnis. Kami juga PGI ada bisnis untuk menggerakkan rumah sakit misalnya, tapi bisnis kan selalu ada untung ada rugi. Kalau bisnis rumah sakit kita rugi, enggak apa-apa karena itu bagian dari pelayanan PGI, tapi tambang itu bisnis. Ini uang PGI itu kan datangnya dari persembahan janda-janda miskin ini, dari ketulusan hati yang tidak berpunya. Kami hidup dari situ. Kalau memasuki dunia bisnis pertama, ada kemungkinan untung, ada kemungkinan rugi. Kalau rugi kita korbankan mereka. Tapi mungkin untung besar, cuma kan kita tahu iklim usaha di Indonesia ini kan belum seindah yang kita bayangkan, masih terlalu banyak peraturan regulasi yang abu-abu yang siap untuk dilanggar, terutama di dunia tambang. Kita enggak punya kemampuan mengontrol itu. Ada teman bilang dan kami juga dikerubutin oleh warga gereja yang terlibat dalam dunia tambang, kan PGI akan angkat nanti mitra usaha biar yang profesional yang nanganin. Katakan oke yang profesional yang menangani, tapi kan kita juga enggak punya kemampuan mengontrol ini, kita enggak punya kemampuan. Dunia usaha ini akan dikontrol oleh mekanisme pasar. Kalau dia lakukan yang betul-betul seturut dengan regulasi, berkeadilan, pro lingkungan hidup, dia akan rugi, dia akan kalah bersaing dengan penambang-penambang yang lain. Jadi kita katakan enggak punya kemampuan untuk itu, tetapi jangan dipahami bahwa PGI anti tambang. Tidak! Kami realistis, saya menggunakan HP tanpa produk tambang HP enggak akan ada. Listrik, kamera segala macam ini. Kita tentu menghormati mereka yang terlibat dalam dunia ini, maka seperti saya katakan di media kami juga menghormati dan menghargai lembaga keagamaan lain yang menerima tawaran ini. Tapi itu kan mereka, kami tidak, ada mandat teologis yang kami pegang teguh, alam ini anugerah Tuhan. Kerusakan alam udah luar biasa karena kita memperlakukan alam melebihi maksud-maksud ketika alam ini diciptakan Tuhan. Dan kita enggak mau terlibat di dalamnya. Tambang menurut hemat saya masih kita perlukan, tapi diperlukan sikap seluruh masyarakat dan pemerintah untuk berhati-hati dalam mengelola tambang ini, dan nampaknya kita belum sampai ke sana.

RK : Saya menyaksikan film dokumenter yang dibuat oleh seorang ahli biologi terkenal ya dari yang saya sering lihat di BBC itu ya di situ. Diceritakan bahwa ketika manusia memulai kehidupan pertamanya dalam arti mulai melakukan settlement atau kehidupan yang bermukim tetap, tadinya kan berpindah-pindah, kemudian bermukim tetap, alam itu penuh dengan kehidupan begitu ya penuh kehidupan binatang-binatang buasnya cukup banyak, tapi predatornya juga ada dan binatang-binatang yang indah, aneka burung, aneka satwa luar biasa tanaman luar biasa. Ada penyakit di dalam kehidupan, tapi ada obatnya juga ada di alam begitu. Tapi sekarang memang terasa sekali terjadi kerusakan-kerusakan sehingga sangat mengganggu ke keseimbangan ekosistem kita, ya kita rasakan. Jadi ada pertimbangan teologis?

GG : Ada pertimbangan teologisnya. Kami merasa pandemi lalu itu juga peringatan kepada kita, bahwa kekerasan terhadap alam bagaimanapun harus dihentikan. Karena pandemi itu kan akibat mutasi genetika yang tidak bisa dipungkiri adalah akibat dari pemanasan global, perubahan iklim yang mengakibatkan mutasi genetika muncul virus-virus yang kita tidak kenal sebelumnya. Apa ini masih kita biarkan terus?

RK : Apakah signal-signal ini kita tidak baca?

GG : Mestinya ada pertobatan ekologis. Pemanasan global itu enggak teoritis menurut saya, walaupun orang sering menganggap itu terlalu jauh dari kehidupan kita. Tapi para petani sekarang juga kan sudah sulit menentukan kapan musim tanam tiba akibat anomali cuaca. Tapi sekali lagi seperti pandemi itu itu nyata memporak-perandakan kehidupan kita. Kita ini diambang kiamat ekologis, maka dibutuhkan pertobatan ekologis. Nah, gereja-gereja di Indonesia mengatakan dalam persidangan-persidangan kami, ini semua terjadi akibat kerakusan. Kerakusanlah yang mengakibatkan ini semua, maka gereja harus pada garda terdepan mengedepankan anti terhadap kerakusan ini. Apa itu? Itu adlah sikap hidup yang berakar pada spiritualitas keugaharian (pengendalian diri). Keugaharian ini kan dari filsafat Plato sebetulnya, tapi juga berdasar pada Injil, Yesus katakan berikanlah kami makanan secukupnya, secukupnya, Jadi tidak berlebih. Ada cukup banyak contoh dalam Alkitab, ketika orang mengambil yang berlebih, yang berlebih itu jadi ulat. Saya bayangkan kehidupan kita sehari-harilah. Terlalu banyak mengkonsumsi gula, dia akan menumpuk, jadi ulat diabetes, terlalu banyak makan lemak numpuk jadi ulat kolesterol. Nah, oleh karena itu harus ada keberanian mengatakan cukup. Should be enough, enough is enough. Sebetulnya berkali-kali katakan itu cukup tapi kan kita tidak pernah berkata cukup. Nah, kami merasa spiritualitas keugaharian ini mengajak kita menata dunia ini lagi dengan kecukupan. Hanya dengan demikian hidup berkelimpahan akan terjadi kepada semua orang, tidak hanya sebagian orang. Nah, tawaran ini juga bagi kami harus kami katakan cukup, ini bukan bidang kami. Bidang kami adalah membina dan memberdayakan umat. Kita di situ, yang lain ini cukuplah. Tuhan enggak mungkin biarkan kita berkekurangan, selama kita mengerjakan tugas kita.

RK : Bagaimana logikanya ini bagi awam perlu kita jelaskan? Kalau cara berpikir materialisme itu kan kita berpikir ya hidup berkelimpahan punya banyak ya, more is better than less kata teori ekonomi begitu ya. Tapi saya suka berkata kalau sampah masa more is better than saya bilang begitu ya. Kita kalau bisa less is better than more gitu ya.

GG : Ada dua. Yang pertama, enggak ada pernah cukupnya, enggak pernah pernah puas manusia itu, selalu ingin lebih, go to the next level istilahnya. Orang-orang Betawi bilang kalau udah bisa naik Damri pengin naik Camri, selalu naik terus jadi tetap aja enggak akan selesai. Tapi dengan kecukupan ini dia menjadi masalah kalau dia sikap pasif, hanya merasa cukup untuk dirinya. Realitasnya banyak orang yang tidak memenuhi kecukupannya, maka spiritualitas keugaharian yang kami maksud itu, keberanian mengatakan cukup itu baru dimensi pertama. Dimensi kedua adalah kita harus berbagi.

RK : Itu orang kaya ya, yang bisa berbagi itu orang kaya kan, artinya dia lebih kaya daripada yang tidak berbagi sama sekali begitu.

GG : Dari pengalaman sih, orang sederhana yang banyak berbagi.

RK : Tapi artinya mereka kaya di hadapan Tuhan.

GG : ya kaya di hadapan Tuhan. Saya perhatikan di tepi jalan itu ya pak, yang paling banyak membantu pengemis itu sopir-sopir loh pak. Saya sudah saksikan bukan yang naik… sorry, bukan yang naik mobil mewah.

RK : Yang mempunyai solidaritas sosial sama orang lain, itu adalah mereka yang berkekurangan.

GG : Jadi kalau saya naik mobil, sopir saya yang paling rajin. Saya kadang-kadang menilai, saya lebih berpunya dari dia, tapi kalau dia, merasa lebih tergerak berbagi. Jadi berbagi itu punya kenikmatan tersendiri. Orang Batak bilang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, jauh lebih sakit ditolak ketika kita meminta, daripada ditolak ketika kita memberi. Kalau kita memberi tapi ditolak pemberian kita, itu menyakitkan, karena memberi itu sesungguhnya sebuah sikap dasariah manusia kita. Jadi kita diajak oleh Tuhan untuk hidup bersama, artinya itu berbagi. Jadi pertama, keberanian mengatakan cukup, kedua berbagi karena banyak orang yang tidak mengalami kecukupan. Tapi tidak cukup sampai di sana, karena ternyata ada sistem yang diciptakan di dunia ini yang tidak memungkinkan orang lain memenuhi kecukupannya. Mekanisme struktural yang membuat orang yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Oleh karena itu fase ketiga harus ada kesediaan kita berjuang bersama untuk menciptakan sistem agar semua orang mampu mengakses memenuhi kecukupan. Nah, kalau PGI terlibat dengan dunia tambang ada aspek lain yang cukup merisaukan, selama ini kita mendampingi masyarakat korban-korban pembangunan dan yang terbanyak di antara korban-korban pembangunan ini dari pengalaman kami bertahun-tahun adalah korban tambang. Nah kalau kami terlibat dalam ini, potensial kami akan berhadapan dengan diri kami sendiri. Berhadapan dengan diri sendiri dan akhirnya pasti terbelah dan ini ini yang saya maksud, kita tidak lagi memiliki legitimasi moral untuk memperjuangkan sistem dan mekanisme yang memungkinkan semua orang mendapat kecukupan itu.

RK : Jadi akan dianggap oleh masyarakat sebagai sama aja dong. Saya baru saja menerima kiriman-kiriman dari kelompok-kelompok masyarakat adat di Papua, mereka salah satunya mengatakan Pak Renald tolong ingatkan gereja, ini berbahaya, tambang ini berbahaya, karena nanti akan diberikan kepada pendetanya. Nah, pendeta itu dalam masyarakat adat itu terbagi-bagi, ada yang gerejanya di sini, ada gereja di sini, ini berbahaya, akan terjadi perpecahan dan akan terjadi keributan.

GG : Kita juga terima pesan itu dari teman-teman di Papua karena memang pengalaman Papua, di luar tambang ini ya juga cukup menarik buat gereja-gereja di Papua, karena dana otonomi daerah itu besar sekali dan sebagian juga dibagikan ke gereja-gereja. Kalau sudah menerima dana otonomi khusus, akan membuat gereja itu sungkan untuk membicarakan sesuatu yang harus mengkritik pemberi dana dalam hal ini Pemerintah provinsi. Ini juga menjadi problem nanti, mampukah kami PGI kalau menerima ini tugas sesudah berlimpah. Mampukah PGI masih kritis terhadap semua yang terjadi di dunia kita ini. Itu juga pertanyaan saya, tidak bermaksud menghakimi.

RK : Tapi ini menjadi pertanyaan sangat menarik karena semakin hari kekuatan politik semakin mengkristal dan pemerintahan juga semakin kuat semakin hari oposisinya semakin sedikit, tentu saja perlu ada, apalagi gerakan kampus sekarang agak melempem ya agak melempem muncul hanya keributan-keributan protes hanya ada di grup-grup WhatsApp begitu ya percakapan-percakapan yang tidak tampak di publik karena satu dan lain hal sehingga harapannya ini tentu saja pada ormas-ormas keagamaan. Kemudian ini kan adalah persekutuan gereja-gereja di Indonesia, tadi disebutkan ada 97.

GG : Kalau di Katolisism itu kalau vertikal, Uskup sudah katakan semua ikut. Di Protestan itu kalau ketua umum bilang A, gereja anggota bilang eh siapa lu? Kami kan berhubungan langsung sama Tuhan. Jadi di Protestan itu setiap sinode punya punya pemerintahan sendiri, punya tradisi sendiri, punya mekanisme, pengambilan keputusan sendiri, otonom. PGI ini hanya semacam forum bersama bukan atasan gereja-gereja Jadi kami bukan apa ya? Gereja-gereja itu bukan underbow PGI dan hanya anggota, jadi semacam perserikatan perserikatan, perkumpulan. Jadi walaupun PGI katakan kami tidak akan ikut dalam proses tambang ini, tapi tidak tertutup kemungkinan ada sinode yang menerima. Bisa saja, bisa saja terjadi. Sejauh ini saya melihat diskusi-diskusi ringan di antara warga sangat menekankan supaya ambil ini, nah saya tidak tahu sekuat apa tekanan warga ini kepada pimpinan sinodenya, karena ada juga satu dua gereja yang keputusan pimpinan sinode itu sangat dipengaruhi oleh orang-orang kuat tertentu yang dalam tanda petik punya uang di gereja itu.

RK : Jadi ada oligarkinya juga ya.

GG : Loh Pak, gereja itu juga bias orang kaya, ini yang kami katakan keugahharian itu ngapain sih kita bangun gedung gereja besar-besar yang membutuhkan biaya besar,

RK : Sementara banyak umat yang masih kekurangan.

GG : Untuk membangun ini kita butuh uang dan karena yang bisa menyumbang orang kaya, akhirnya ya ada ketergantungan, maka saya katakan gereja juga bisa, orang kaya itu bisa saja Prof. tapi saya berharap sih para pimpinan gereja cukup bijak dan kalaupun mengambil, saran saya jangan lupa tugasnya membina warga, jangan hilang nilai-nilai kritis dari gereja ada prinsip-prinsip yang harus dijalankan dan yang terutama ya belajar yang banyaklah dan bertangung jawab. Bertanggung jawab terhadap alam semesta.

RK : Belakangan ini dan saya sempat mengungkapkan dalam salah satu podcast kami bahwa ancaman berikutnya dari flexing (pamer). Itu flexing di antara tokoh-tokoh agama. Flexing ini dilakukan oleh anak-anak muda untuk mencari keuntungan dan akhirnya pura-pura kaya, dan kemudian menipu orang. tapi sekarang kita menyaksikan juga ada banyak sekali orang yang mungkin tertular oleh apa yang dikatakan dalam film PK (Peekey-2014), ini film yang dibuat orang mengatakan ada dua Tuhan pertama adalah Tuhan yang menciptakan kita semua, yang menciptakan manusia, dan yang kedua adalah Tuhan yang dibuat oleh manusia dan di situ lihat bahwa agama pun bisa dipakai untuk mencari uang. Itu terjadi di India, terjadi di barat, terjadi di sini dan kita sangat khawatir terus terang melihat sejumlah pendeta yang hidupnya kaya raya padahal, nabi yang diyakininya, yang jadi pengayomnya yang disembahnya, adalah seorang nabi yang memiskinkan diri, seorang yang dilahirkan di kandang domba, bahkan tidak mendapat tempat penginapan di mana-mana begitu ya. Nah, Yesus itu seperti itu kami mendengarnya dan kami memakluminya begitu dan kemudian sekarang kita melihat betapa banyak pendeta yang ngomongnya perpuluhan-perpuluhan punya perpuluhan banyak ini adalah pemilik pabrik, ya pemilik usaha besar, bicaranya teologi kemakmuran dan akhirnya kemudian pamer, mereka juga senang dengan kekayaan dan sebagainya, bahkan untuk pemberkatan pun dia minta tarif begitu ya.

GG : Iya saya jadi malu ini Prof.

RK : Tapi ini terjadi fenomena. Fenomena yang terjadi di mana-mana dan ini terjadi kan bisa juga mereka sangat tergiur. padahal tambang ini tidak mudah perlu investasi besar, dan biasanya di situ diperlukan juga dukungan. Amerika saja untuk mendapatkan tambang emas di Papua itu perlu politik dan beberapa studi menyebutkan Kennedy itu jangan-jangan juga dibunuh hubungannya dengan upah yang tidak diberikan oleh Indonesia ketika Kennedy (Presiden AS ke-35) mendukung Indonesia mendapatkan Irian Barat begitu dan kemudian untuk bisa masuk ke Indonesia kembali maka diperlukan dukungan geopolitik, kekuatan yang sangat besar begitu. Jadi memang tidak mudah ini, biaya keamanannya besar dan kericuhannya besar. Apa yang ada di pikiran pendeta Gomar Gultom?

GG : Ketakutan kami yang paling besar juga salah satunya ini, kerusakan alam itu di satu sisi, tapi kerusakan di dalam gereja itu bahaya yang mengancam, kalau ini dimasuki. Hal-hal kecil aja misalnya perebutan siapa yang akan ditunjuk menjadi komisaris, siapa yang akan ditunjuk menjadi direktur? Itu saja sudah bisa menimbulkan pertempuran. Dan kalau sudah berjalan lancar pertempuran berikut masih ada, komisaris, direksi dan semua eksekutif ini punya kepentingan jangka panjang kemimpinan gereja 5 tahun nanti yang paling mempengaruhi siapa yang memimpin gereja ke depan, bukan lagi struktur gereja tapi mereka ini. Makanya saya katakan kepada teman-teman saran kepada lembaga keagamaan yang akan mengambil ini hati-hatilah. Harus wise mengambil keputusan ini. Nah Ditambah lagi dengan fenomena konsumtivisme yang luar biasa, itu yang juga merasuki kami para pendeta. Saya ini kadang-kadang kalau diundang ke daerah oleh gereja-gereja, pertanyaan yang sering ditanyakan kepada staf saya, Pak Gomar akan kasih honor berapa? Dan selalu dikatakan asal kalian bayar transportasinya itu bagi kami sudah cukup. Kalau ada di luar itu engak ada masalah, dan banyak yang enggak percaya. begitu sangat tidak percaya,

RK : Karena ada mekanisme pasarnya.

GG : Mereka sudah biasa rupanya, sudah terbiasa gitu, dan ya memang betul ada pendeta-pendeta yang pasang tarif, dan tarifnya itu luar biasa.

RK : Sudah menjadi artis begitu.

GG : Ya seperti artis gitu. Jadi teman-teman, makanya saya katakan, saya sangat malu, karena teman-teman saya pendeta juga harga jam tangannya, Aduh….! Saya bilang saya ini sejak ada handphone Prof., enggak pernah lagi pakai jam tangan.

RK : Karena sudah cukup dengan handphone itu ada jamnya.

GG : Saya menyeberang dari Kalimantan Barat ke Kalimantan Timur ke Kalimantan Tengah enggak perlu otak-atik jam lagi, iya otomatis gitu. Tapi sekali lagi saya menghargai mereka yang pakai jam. Prof. juga pakai jam, asal ya enggak usahlah mesti yang apa Ro… apa gitu ya mereknya.

RK : Sebetulnya kita tidak perlu lagi pakai jam tangan memang. Karena kebiasaan lihat begini ya dan saya kadang-kadang jam saya juga sudah mati tapi karena harus ada hiasan sedikit ini, jam murah ada di tangan saya, dan saya pernah ditanya jamnya mereknya apa itu? Mereka berpikir ini jam mahal begitu. Begitu mereka tahu jam saya mereka ketawa.

GG : Tapi itulah, banyak sekarang ini kami para pendeta yang diharapkan menjadi tuntunan, tapi jadi tontonan.

RK : Terakhir Pak Pendeta Gomar tentu kalau seorang presiden yang baik hati sudah menawarkan dengan ketulusan dan akhirnya bertanya sebetulnya yang Pak Pendeta dan gereja butuhkan, PGI butuhkan itu izin apa sih? Kalau tambang dikasi yang bernilai ini tidak mau. Apakah mau perkebunan atau perlu izin yang lain, ini sudah jadi perbincangan di kaum muda, sudah menjadi diskusi-diskusi seru di kaum muda. Apa yang dibutuhkan oleh Gereja hari ini?

GG : Saya sangat menghargai niat baik presiden terus terang sangat. Tapi timbul juga pertanyaan kenapa harus tambang? Saya kebetulan bersama LBHI, Imparsial, Kontras dan lain-lain menandatangani surat ke presiden yang isinya meminta supaya ada Kepres tentang pendanaan organisasi masyarakat.

RK : Pendanaan organisasi masyarakat masyarakat?

GG : Katakanlah LBHI, Imparsial ini mengerjakan pekerjaan negara dan itu proses demokratisasi. Wajar dong mereka dapat anggaran. Di zaman Ali Sadikin (Gubernur DKI Jakarta masa itu)  ini semua dibiayai. Kenapa tidak negara? itu usul kami kepada Presiden, yang kedua juga kalau harus Lembaga Keagamaan ini berusaha, Kenapa sih musti perusahaan yang rumit begini. yang kontroversial begini. Kenapa bukan jenis usaha yang nilai kemanusiaannya tinggi, yang tidak complicated gitu. Nah, Jikalau ditanya apa yang dibutuhkan oleh PGI, ya yang idealnya kebutuhan kami sebetulnya penegakan hukum, jalannya keadilan, keadilan ditegakkan, izin rumah ibadah tidak serumit seperti sekarang, ketimbang izin tambang, tentu kita butuhkan,  kita juga tidak mau sembarang membangun gereja, ya membangun gereja tidak memperhatikan lingkungan, tidak memperhatikan amdal. Tapi ‘mbok’ ya izin mendirikan rumah ibadah itu faktornya adalah layak pakai, ya amdal, ya bukan soal persetujuan sekian orang yang di luar agama itu.

RK : Gitu ya ya ya, seperti sekarang, gereja akhirnya sembunyi di mall.

GG : Yang terbanyak akhirnya di mall, ruko. Di mall ya banyak. dan itu kan membuat gereja menjadi sangat konsumtif

RK : Ya betul, pulang gereja langsung belanja-belanja dan sekalian shopping begitu ya bergaya hidup di sana ya.

GG : Dan hanya gereja kaya yang mampu begitu.

RK : Pak Pendeta Gomar Gultom. Terima kasih banyak, masyarakat telah mendapatkan satu perspektif yang jelas bagaimana sikap Pak Pendeta Gomar Gultom dan PGI yang tentu saja tadi sudah dengar bagaimana para sinode-sinode di bawahnya yang tentu juga seperti apa kita sudah dengarkan. Tapi tentu saja “intrique” tidak hanya membahas tentang politik tetapi juga membahas tentang hal-hal yang perlu kita cegah sebelum terjadi suatu musibah bagi diri kita dan tentu saja hal seperti ini tidak kita inginkan. Hal baik tentu saja harus ditimbang dan harus disyukuri tapi lebih dari itu adalah kita juga harus bisa mengendalikan diri, saya kira ini pesan pendeta dan kita jug sudah membaca hal yang perlu kita pahami bersama. Semoga ini dapat dipahami.


Di transkripsikan dari youtube : https://youtu.be/FIKvXkkLixA

Prof. Reinald Kasali #Intrique RK (Premiered 20 Juni 2024)