Berita Bethel
Penulis: Pram (14/07/2015)

Games, Baik Atau Buruk Buat Generasi Muda ?


Kalau bicara soal permainan (games) digital maupun non digital, terbersit dalam pikiran masyarakat secara umum dan jemaat gereja secara khusus memiliki pandangan yang bervariasi. Satu pihak bisa saja menganggap games itu merugikan, namun di lain pihak berpandangan games itu berguna untuk anak-anak (generasi muda) .



Guna menjawab pertanyaan itu, Kelompok Sel atau Community of Love Perum Citra 2, GBI Mal Matahari, Jakarta-Barat (Sabtu, 11/7) pimpinan Pdp. Steven Humara menggelar Seminar dengan tema "Pengaruh Gaming, Musik, Seks Bebas Terhadap Masa Depan Generasi Muda". Peserta terdiri dari para orang-tua, anak-anak remaja dan dewasa muda. Lukito Sutanto tampil sebagai pembicara menyampaikan, tidak semua games jelek atau bahaya  bagi anak-anak (generasi muda). Namun menurut pandangannya ada games yang baik untuk anak-anak dan tentu ada yang tidak.



Ia memaparkan ciri-ciri seorang anak yang ketagihan (terikat) games seperti memiliki keinginan kuat untuk terus main, muncul perasaan gelisah, mudah tersinggung. gemetar, berhalusinasi, menggerakkan jari-jari seperti sedang mengetik sesuatu. Selain itu, seorang anak tidak bisa konsen di kelas (pelajaran), sering bolos sekolah, mudah memberontak (melawan) jika dilarang main, maka anak-anak itu bisa kesal, marah, bahkan mengeluarkan air mata, sampai bengong.



Dampak seorang anak yang kecanduan games, katanya tidak mempunyai waktu untuk berinteraksi dengan dunia luar, hidup dalam khayalan (fantasi), cenderung minim komunikasi dengan orang lain, liar, gemar lakukan kekerasan, bahkan kriminal dan mengalami gangguan motorik.



Jenis-jenis games yang tidak baik bagi anak-anak menurut penilaiannya yaitu mengandung kekerasan, sadistis, pembunuhan, pemberontakan, anjuran seks bebas, konsumsi obat-obatan terlarang, mabuk-mabukan, sihir dan okulteisme. Untuk memperjelas penjelasannya, ia  memutarkan video wajah-wajah anak-anak dan orang muda yang kecanduan games dengan hasil tampilan ekspresi (wajah) yang menyedihkan.



Selanjutnya, ia beralih membahas tentang musik. Menurutnya, musik dengan nada lembut (terutama instrumentalia) bisa memberikan rasa tenang, membantu proses pemulihan kesehatan (orang sakit), membantu proses belajar, bahkan bisa meningkatkan perkembangan otak. Lagu memiliki pengaruh terhadap otak. Jika sebuah atau beberapa lagu diputar berulang-ulang, maka seseorang (anak) atau generasi muda akan terpengaruh dalam hal pikiran dan perasaannya. Sebab, katanya lagu itu membentuk rekaman yang tanpa sadar "tertanam" di bagian otak. Lagu secara umum menurutnya menceritakan tentang cinta, nasionalisme, alam, manusia serta pengagungan nama Tuhan.



Dengan nada prihatin, Lukito menjelaskan kini lagu-lagu berkonten kekerasan, kebencian, kutuk, ajakan seks bebas, tidak membutuhkan Tuhan, bahkan menghujat dan Kristus serta pesan-pesan misterius. Semuanya itu "dikemas" di balik indahnya nada dan lirik suatu lagu. Sebagai perbandingan, ia sempat memutarkan lagu-lagu yang lembut dan berikutnya lagu berirama cadas (keras, rock).



Diakhir paparannya, ia memberikan tips-tips berupa solusi untuk para orang tua dan peserta. Faktor utama adalah peranan orang-tua untuk bisa mengajak anak-anaknya yang kecanduan games, musik yang menyimpang dengan menempatkan diri sebagai teladan dan bersedia terbuka di depan anak-anak. Hal lainnya ialah memberikan pembekalan bagi anak-anak dengan kemampuan mengenali (deteksi dini) hal-hal yang berbahaya dan merusak mental, menanamkan rasa dare to be different pada jiwa anak-anak, para orang tua sebaiknya mempunyai komunitas yang baik dan saling membangun.



Di akhir paparannya, Lukito mengatakan jika ortu sibuk dan waktu berkomunikasi dengan anak terbatas, maka ia menyarankan agar ortu dengan tegas menutup akses internet di rumah dan tidak memberikan smart phone kepada mereka. Cara yang lebih moderat (luwes) dibandingkan cara pertama yaitu mengalihkan pikiran anak-anak terhadap games dengan mengajak mereka melakukan aktifitas fisik, sosial atau macam-macam kegiatan seperti menari, musik dan lain-lain. "Jika menemui seorang anak sudah kecanduan, maka ortu segera bertindak (konsultasi ke pihak-pihak yang berkompetensi tentang penanggulangan games), didukung dengan doa. Jangan putus asa dalam pengharapan," pungkasnya. Acara dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab.