Berita Bethel
Penulis: Pram (27/01/2015)
Siap Sambut Perdagangan Bebas ASEAN ?


Banyak pihak ketar-ketir (kuatir) terhadap berlakunya perdagangan bebas ASEAN pada tahun ini. Namun, belum tentu Indonesia bakal menghadapi kesulitan ketika masa ini tiba. Sebab, Indonesia memiliki potensi sumber alam yang mumpuni dan tenaga kerja yang cukup besar, serta penduduk Indonesia berjumlah 40 % dari total penduduk ASEAN.

Menyikapi kondisi demikian, PGLII (Persekutuan Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili) Jakarta mengadakan seminar ekonomi dengan tema “Dampak Perdagangan Bebas ASEAN terhadap Masyarakat dan Gereja Tuhan di Indonesia” di GSPDI Bandengan, Jakarta (Rabu, 21/1) usai perayaan Natal.

Tampil sebagai nara sumber yaitu Ellies Sutrisna, CEO Excellent Group, Firework Trainer, Penulis Buku, Event Organizer, Training dan Coaching.

Guna mengatasi hal itu, Ellies menghimbau agar masyarakat Indonesia menggunakan atau mengkonsumsi produk lokal. Jika tidak, maka masyarakat akan tetap menjadi konsumen produk luar negeri. Sisi positif kondisi perdagangan bebas ialah masyarakat bisa investasi di wilayah 10 negara ASEAN. Ia mengakui bahwa ada kendala yaitu tenaga kerja di sini rata-rata banyak yang alumnus di bawah Strata-1.

Peluang Perdagangan Bebas

Ia memberikan catatan positif bagi peluang perdagangan bebas yaitu memperluas cakupan skala ekonomi, mengurangi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi, meningkatkan daya tarik sebagai tujuan bagi investasi dan wisatawan, pengurangan biaya transaksi perdagangan, perbaiki fasilitas perdagangan dan bisnis. Indonesia masih memiliki kesempatan untuk menaikkan ekspor.

Perlunya Mengembangkan UMKM

Banyaknya makanan khas Indonesia yang di-patenkan bangsa asing seperti ayam penyet (Malaysia), daging rendang (Belanda). “Jangan sampai ketoprak dijual dan dipatenkan juga oleh orang asing,” katanya. Ia mendorong agar masyarakat mengembangkan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) misalnya pembuatan makanan, kerajinan tangan, kursus-kursus dan lain-lain, guna mengantisipasi perdagangan bebas ASEAN. Caranya dengan membuka kelas pelatihan seperti menjahit, modal bisa meminjam ke bank asal surat-surat sah dalam suatu bisnis tersebut, termasuk ada business plan.

Transformasi Individu dan Gereja

Perlunya diadakan transformasi individu dan gereja segera, merupakan pandangan Jerry Rumalatu. Pihak gereja, menurutnya harus memotivasi generasi muda. Ia mengingatkan dampak psikologis bakalan meningkat sebab banyak kaum muda yang terkena PHK. Gereja membutuhkan klinik-klinik konseling. “Jika tidak, maka kekosongan ini bakalan diisi pihak luar (non-gerejawi),” katanya. Bahkan, ia memprediksi gereja-gereja luar negeri akan bisa buka cabang di tanah air. Hal senada disampaikan oleh Simson Pujianto, Ketua PGLII Jakarta.