Berita Bethel
Penulis: Pram (27/07/2015)

Konsekuensi Berperkara Dengan Tuhan


“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus,carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah” (Kolose 3:1). Kita sering mendengar pemimpin pujian atas pembicara berkata, “mari kita berperkara dengan Tuhan”.



Ketika kalimat ini dilontarkan, dapat dipastikan bertalian dengan masalah hidup dan kebutuhan hidup hari ini. Berperkara dengan Tuhan tidak berhenti kepada permasalahan hidup, tetapi harus bergerak maju kepada persoalan perubahan watak dan karakter kita. Jika orang beragama mendekati ilahnya dengan maksud supaya digampangkan urusannya, dientengkan jodohnya, dibukakan pintu rezekinya atau segala sesuatu yang bertalian dengan kepentingan dirinya sendiri, maka Kekristenan tidak boleh seperti itu.



Tuhan kita adalah Allah yang hidup dan memiliki perasaan yang sempurna. Dia tahu rancangan yang terbaik bagi anak-anak-Nya yang mengasihi Dia. Permasalahan hidup yang Tuhan ijinkan terjadi kepada setiap manusia, adalah dalam rangka agar mereka mencari Tuhan, dengan demikian Tuhan bisa menggarap karakternya sampai sempurna seperti Bapa. Tuhan lebih mementingkan penyelesaian watak dan karakter dari pada masalah hidup.



Oleh karena itu hendaklah gayung bersambut antara Allah dan manusia. Tetapi jangan kuatir, Tuhan pasti memberi jalan keluar ketika kita mengalami pencobaan (1 Kor. 10:13). Jika berurusan dengan Tuhan hanya untuk hidup hari ini saja maka kita adalah orang yang paling malang dari segala manusia yang ada (1 Kor. 5:19). Oleh karena itu tujuan hidup kita harus diarahkan kepada perkara yang di atas, bukan yang di bumi (Kol. 3:1-4).



Gereja harus menjadi garda terdepan untuk mengambil tanggung jawab mengarahkan umat kepada fokus yang benar, yaitu langit baru dan bumi baru. Setiap pelayan umat harus mengenal injil yang murni, sehingga apa yang disampaikan adalah estafet kebenaran Tuhan yang murni juga. Ketulusan hati pelayan Tuhan harus dibarengi denga kecerdasan Roh, sehingga bisa menangkap gerak Tuhan yang paling lembut sekalipun.



Abraham memang bapak orang beriman, tetapi menjadi orang Kristen tidak otomatis mewarisi iman Abraham secara benar. Jika tanpa diajarkan bagaimana Abraham rela meninggalkan kenyamanan hidupnya, dengan meninggalkan Ur Kasdim, menjadi musafir dan tidak tahu kemana tujuan kota yang dijanjikan oleh Allah, tetapi ia tidak kehilangan fokus akan Yerusalem baru, kota yang dibangun oleh Allah sendiri (Ibr. 11:8-15).



Bagi dia lembah Yordan tidaklah menarik walaupun seperti taman Tuhan, bahkan ketika harus menyembelih Ishak pun tidak menjadi masalah, jika Allah yang menghendakinya. Jadi, apa yang kita perkarakan dengan Tuhan hari ini? . Masalah atau watak kita ?. [Pdt. Dr. Erastus Sabdono, MTh-R.A.B/Foto:Istimewa].



I Kor. 10:13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.