Berita Bethel
Penulis: Pram (31/07/2015)
Relasi Pendidikan Masa PL-Kehidupan Masa Kini


Esensi pendidikan dalam kitab Perjanjian Lama sangat banyak kita temukan, bagi orang Israel pendidikan adalah merupakan tugas dan tanggung jawab yang langsung diberikan oleh Tuhan kepada mereka. Allah yang langsung berbicara bagaimana mereka harus mengerjakan pendidikan yang dimaksud. Bagi orang Israel, pendidikan khususnya pendidikan rohani merupakan bagian integral dari perjanjian antara Allah dengan umat-Nya.



Masa Perjanjian Lama. Ulangan 6:4 memuat "Shema", yaitu doa yang diucapkan dua kali sehari, setiap pagi dan petang dalam ibadah di sinagoge. Ayat ini amat penting karena merupakan pengakuan iman yang sangat tegas akan Tuhan (Yahweh) sebagai satu-satunya Allah yang layak disembah: "Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!" (Ulangan 6:4).



Pernyataan ini kemudian langsung dilanjutkan dengan perintah rangkap untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan mereka (ayat 5), menaruh perintah itu dalam hati (ayat 6), mengajarkannya kepada anak-anak mereka secara berulang-ulang (ayat 7), mengikatkannya sebagai tanda pada tangan dan dahi (ayat 8), dan menuliskannya di pintu rumah dan gerbang (ayat 9).



Keluarga = Tempat Pendidikan Level Pertama Jelas sekali ditemukan dalam ayat-ayat tersebut bahwa perintah Allah agar para keluarga Israel melakukan tugas pendidikan, dan terutama hal ini dilakukan dalam lingkungan keluarga. Dapat dimaknai bahwa tempat pertama untuk pendidikan ialah keluarga.



Oleh karena pendidikan itu sangat penting dalam teks Ulangan 6:4-9, disebutkan bahwa itu harus dilakasanakan setiap waktu, ketika berjalan, berbaring, duduk, dan lain-lain. Belum lagi bahwa tugas itu gak boleh meleset, karena itu harus dikalungkan dileher, dan dikenakan pada dahi, sebuah ungkapan yang hendak menjelaskan bahwa pendidikan bukan sekedar dilaksanakan namun memiliki “esensi” yang paling dalam.



Orang Israel menafsirkan perintah-perintah tersebut secara harafiah dengan membuat "tali sembahyang" yang diikatkan di dahi atau lengan dan berisi empat naskah, salah satunya adalah Ulangan 6:4-9 di atas. Ketiga naskah lainnya diambil dari Keluaran 13:1-10, Keluaran 13:11-16, dan Ulangan 11:18-21. Di dalam keempat naskah tersebut, kewajiban untuk mengajarkan hukum dan pengetahuan tentang Allah kepada anak-anak mendapat penekanan yang besar. Hal ini menunjukkan besarnya hubungan antara pendidikan rohani dalam rumah tangga dengan ketaatan kepada Allah.



Aplikasi Masa Kini. Menerapkan pendidikan pada Ulangan 6:4-9 dalam hidup masa kini, Bagi kita mungkin ada kesulitan menerapkan pola pendidikan dalam Ulangan 6:4-9, sebab konteks dan situasi kita sudah berubah. Kita bukan lagi seperti zaman Perjanjian Lama, melainkan telah hidup didunia modern dengan kecanggihan berbagai teknologi dan alat komunikasi, termasuk juga dalam media pendidikan.



Era ini ditandai dengan makin munculnya kemandirian masing-masing individu untuk belajar. Era modern mengubah cara pandang para pendidik Kristen dalam mendidik anak. Toleransi tinggi dan keleluasaan tidak terbatas cenderung menjadi gaya pendidikan saat ini. Sebenarnya justru dalam era modern sekarang, pendidik Kristen harus menerapkan beberapa prinsip dalam Perjanjian Lama yang lebih disiplin dalam hal pendidikan anak.



Beberapa hal yang menjadi pemikiran dan juga langkah-langkah yang dapat dilakukan sehubungan dengan kaidah dan aturan Perjanjian Lama tentang pendidikan, sebagai berikut:



1.Tanggung jawab pendidikan Kristen.  Pertama-tama dan terutama terletak pada orang tua, yaitu ayah dan ibu (Amsal 1:8). Ini juga senada dengan Ulangan 6:4-9, dimana para orang tua yang adalah kepala keluarga, diberi tanggung jawab yang istimewa dan juga “wajib” dalam mendidik anak-anak.



Memang seharusnyalah itu menjadi tugas para orang tua, sebab dalam sistem kehidupan keluarga bapa dan ibu adalah mereka yang lebih tua, dalam hal pengalaman, iman dan juga kehidupan, seyogianya menjadi guru bagi anak-anak mereka.Kenyataan hari-hati ini, banyak keluarga Kristen masa kini yang menyerahkan pendidikan rohani anak mereka sepenuhnya pada gereja atau sekolah minggu. Mereka beranggapan bahwa gereja atau sekolah minggu tentunya memiliki "staf profesional" yang lebih handal dalam menangani pendidikan rohani anak mereka.



Namun, mereka lupa bahwa lama waktu perjumpaan antara anak mereka dengan pendeta, pastor, gembala, guru sekolah minggu, atau pembimbing rohani anak yang hanya beberapa jam dalam seminggu, yang tentunya terlalu singkat untuk mengajarkan betapa luas dan dalamnya pengetahuan tentang Allah.



Satu hal lain yang terpenting adalah Allah sendiri telah meletakkan tugas untuk merawat, mengasuh, dan mendidik anak-anak ke dalam tangan orang tua. Merekalah yang harus mempersiapkan anak-anak mereka agar hidup berkenan kepada Allah. Gereja dan sekolah minggu hanya membantu dalam proses pendidikan tersebut. Karena itu para orang tua haru mengingat, bahwa sehebat apapun kita membiayai dan menyekolahkan anak-anak kita, maka tidak boleh melupakan tugas dalam membimbing mereka.



2.Tujuan utama pendidikan Kristen. Tujuannua  adalah untuk mengajar anak-anak takut akan Tuhan, hidup menurut jalan-Nya, mengasihi-Nya, dan melayani-Nya dengan segenap hati dan jiwa mereka (Ulangan 10:12). Berbeda dengan pendidikan dunia yang bertujuan untuk menciptakan generasi muda yang penuh ambisi untuk sukses, mandiri, dan percaya pada kekuatan diri sendiri, pendidikan Kristen mendidik anak-anak untuk memiliki sikap mementingkan Tuhan di atas segala-galanya, taat pada Tuhan, dan bergantung pada kekuatan Tuhan untuk terus berkarya.



Nilai-nilai penting dalam pendidikan Kristen. Nilai terdiri dari kasih, ketaatan, kerendahan hati, dan kesediaan untuk ditegur. Para orang tua harus mengerti dengan baik bahwa nilai rohani harus menjadi yang utama dalam kehidupan anak-anak mereka; sebab nilai ini akan mendorong mereka menemukan jati diri yang sebenarnya. Lebih lanjut maka para orang tua harus memahami bahwa jikalau pun nilai kecerdasan dan ketrampilan secara ilmu dunia ini diperlukan, namun harus seimbang dalam koridor kehendak Tuhan.



3.Orang tua yang baik mendidik anaknya. Caranya yaitu dengan teguran dan hajaran dalam kasih (Amsal 6:23). Ada teori pendidikan modern yang menyarankan agar orang tua jangan pernah menyakiti anak-anak mereka, baik secara fisik maupun secara verbal, atau melalui kata-kata karena hal tersebut dapat menimbulkan kebencian dan dendam pada orang tua dalam diri anak-anak. Teori ini menganjurkan orang tua untuk membangun anak-anaknya hanya melalui pujian dan dorongan.



Hal ini bertentangan dengan kebenaran Alkitab yang mengatakan bahwa teguran dan hajaran juga dapat mendidik anak sama efektifnya dengan pujian dan dorongan, selama semuanya dilakukan dalam kasih. Keseimbangan antara toleransi dan dispilin dalam mendidik anak-anak sebenarnya harus merupakan kajian yang mendalam bagi para orang tua. Mereka bukan berarti dengan “bebas” memberi kesempatan apa saja bagi anak-anak mereka tanpa mementingkan aturan, norma dan juga kaidah-kaidah dalam hidup ini.



4.Pendidikan Kristen harus dilakukan secara terus-menerus. Bentuknya  melalui kata-kata, sikap, dan perbuatan (Ulangan 6:7). Kata bahasa Ibrani yang dipakai dalam ayat ini adalah "shinnantam", yang berasal dari akar kata "shanan" yang berarti mengasah atau menajamkan, biasanya pedang atau anak panah.



Kata ini dipakai sebagai simbol untuk menggambarkan kegiatan yang dilakukan berulang-ulang seperti orang mengasah sesuatu dengan tujuan untuk menajamkannya. Orang tua tidak dapat hanya mengandalkan khotbah atau pelajaran Alkitab setiap hari Minggu untuk memberi "makanan rohani" bagi anak-anak mereka. Orang tua harus secara rutin dan dalam segala kesempatan menyampaikan kebenaran firman Tuhan kepada anak-anak mereka. Lebih jauh lagi, orang tua harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anak mereka, bukan hanya melalui perkataan, tapi juga perbuatan.



Tanggung jawab pendidikan Kristen memang bukan tugas yang mudah, baik bagi bangsa Israel pada zaman Perjanjian Lama maupun bagi kita pada zaman sekarang. Setiap zaman memiliki kesulitan dan pergumulan masing-masing, namun prinsip-prinsip dasar pendidikan Kristen yang Alkitabiah tetap bertahan di tengah berbagai teori pendidikan baru yang muncul.



Jika orang Israel menafsirkan Keluaran 13:9 atau Ulangan 6:8 secara harafiah dengan mengikatkan tali sembahyang pada lengan dan dahi mereka, : “Hal itu bagimu harus menjadi tanda pada tanganmu dan menjadi peringatan di dahimu, supaya hukum TUHAN ada di bibirmu;" (Keluaran 13:9a) .



Peranan Roh Kudus. Maka saat ini kita yang sudah mengerti makna sesungguhnya dari perintah ini harus senantiasa merenungkannya dalam pemikiran kita, mengatakannya setiap hari, dan melakukannya dengan segenap kemampuan tangan kita. Tugas dan tanggung jawab mendidik anak-anak harus dilaksanakan dalam bimbingan dan tuntunan Roh Kudus; kita tidak cukup mampu mengerjakan hal ini dengan kekuatan dan ketrampilan diri sendiri.



Karena itu salah satu kesadaran yang perlu dibangun oleh para orang tua mintalah bimbingan Tuhan, selain itu bermitralah dengan para hamba Tuhan, baik di gereja maupun di keluarga dalam membina dan membimbing anak-anak yang dipercayakan Tuhan dalam kehidupan mereka.[Pdt. Dr.Purim Marbun-Ketua Departemen Pendidikan dan Latihan BPH GBI/Foto Istimewa].