Berita Bethel
Penulis: Pram (28/01/2015)

Kepemimpinan Mekanikal atau Organik ?


Pembekalan sesi pleno II diisi oleh Pdt. Timotius Arifin (Selasa, 27/01). Ia memulai  dengan kalimat agar Tata Gereja dimasukkan juga Yesus sebagai Raja, bukan hanya sebagai Tuhan, juru selamat saja.Bahkan, Yesus rela mati dibunuh sebab ia mati demi membela domba-dombanya (Yohanes 12:12-28). Yesus tidak  datang sebagai nabi, namun sebagai Allah yang menjelma sebagai manusia. Nats Yohanes 12:24 “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah”. Ia mengartikan nats itu sebagai petunjuk orang percaya untuk mematikan ego.Selanjutnya, ia membahas tentang dua gaya kepemimpinan yaitu jenis mekanikal dan organik dengan rincian :



Gaya mekanikal :1.    Berorientasi kepada kekuasaan, 2. umum, 3. dogmatis, 4. tegas, 5. melakukan sesuatu atas dasar kewajiban (duty), 6. diktaktor, 7. formal, 8. tradisional, 9. orientasi ke arah materi, 10. pengarahan, 11. stabilitas, 12. linear,13. komersial, 14. kerja, 15. prestise, 16. organisasi,17. Sukses, dan lain-lain.



Gaya organik :1.    Berorientasi kepada kreativitas, 2. radikal, 3. fleksibel, 4. hubungan, 5. melakukan sesuatu dengan kasih, 6. kolaborasi, 7. kasual, 8. revolusi, 9. orientasi ke arah rohani, 10. dialog, 11.cair, 12. holistik, 13. imajinatif, 14. santai, 15. keren, 16. komunal, 17. Otentik, dan lain-lain.



Berkaitan dengan gereja, menurut pandangan Pdt. Timotius terdapat dua jenis gereja yaitu Pertama, Gereja Katederal (mementingkan besar dan luasnya bangunan gedung). Kedua, Gereja Institusi (mementingkan keorganisasian).Diakhir paparannya, ia berpesan agar orang percaya melakukan “4M” yaitu mati terhadap dirinya sendiri, membenci nyawanya di dunia, melayani Tuhan dan sesama, bersedia menerima kesalahan orang lain.