Berita Bethel
Penulis: Pram (17/08/2015)
Pendidikan yang Memerdekakan


Bulan Agustus adalah bulan yang penting bagi negri kita; dalam bulan ini diperingati hari kemerdekaan Indonesia. Untuk tahun 2015 ini kita memperingati 70 tahun Indonesia merdeka. Banyak refleksi yang dapat diperhatikan dalam konteks ini, dari berbagai unsur dan juga berbagai elemen mereka mencoba memaknai peringatan ini dari berbagai hal, namun pemerintah menyikapi 70 tahun Indonesia merdeka dengan semangat “Ayo Kerja”.



Slogan yang memberikan dorongan dan juga semangat untuk terus bekerja dan menata Indonesia menuju era yang lebih baik.Bagaimana dalam bidang pendidikan? Baru-baru ini kita melihat potret pendidikan Indonesia dengan berbaga wajah yang cukup menyedihkan, beberapa hal yang membuat hati menjadi miris ialah adanya praktek-praktek negative dalam pendidikan itu sendiri, seperti adanya praktik ijazahpalsu, dengan gampangnya bahkan dengan mudahnya orang mendapatkan gelar, padahal mereka tidak menempuh pendidikan tertentu.



Lebih lanjut adanya institusi pendidikan yang dengan tidak merasa “tabu” atau “tidak merasa berdosa” menyelenggarakan pendidikan dengan cara-cara yang tidak tepat. Bayangkan ijazah dan gelar sarjana bisa ditempuh 9 bulan, magister ditempuh hanya dengan 6 bulan, dan lain-lain.



Dalam bidang lain hal yang membuat hati kita “galau” dengan pendidikan Indonesia misalnya di institusi pendidikan terjadi berbagai praktik yang tidak terpuji seperti kasus pelecehan seksuil kepada anak-anak didik, juga kasus-kasus maraknya anak-anak pelajar yang terjerat dengan pornografi, secara khusus di kalangan anak-anak SMP dan SMA, hal ini membuat potret pendidikan kita menjadi Iebih “buram”.



Bagaimanakah mungkin pendidikan yang seperti ini mampu memberikan manfaat dan juga membawa perubahan bagi bangsa dan negara kita?.Sadar atau tidak pendidikan semestinya menjadi ujung tombak perbaikan dalam banyak hal. Pendidikan bukan berbicara hanya pada level institusi atau sekolah-sekolah secara formal, melainkan juga berbicara tentang informal dan non-formal.



Jika kita mengerti dan memahami bahwa pendidikan secara akurat dilaksanakan dalam segala lini kehidupan, maka akan didapatkan hasil yang “akurat” membentuk kehidupan yang lebih baik.Dalam kerangka mencapai kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak Indonesia, maka pendidikan harus diarahkan untuk “memerdekakan” setiap individu yang belajar.



Dalam konsep ini maka harusnya ditemukan bahwa anak-anak Indonesia yang belajar, atau mereka-mereka yang ada di bangku sekolah (dari TK – PerguruanTinggi), dengan pendidikan yang ditempuh mereka menjadi “pribadi yang merdeka”. Maksudnya bahwa setiap mereka merdeka dalam pemikiran, perilaku, sikap dan ketrampilan.



Dalam banyak hal mereka para pelajar di sekolah harusnya menempuh pendidikan tidakdengan rasa takut, terintimidasi, atau bahkan mengalami trauma yang berkepanjangan, namun pendidikan harus memberikan ketenangan dan juga “fun”.



Pendidikan yang memerdekakan adalah konsep mendidik melalui proses belajardan mengajar, yang membawa siswa-siswi atau peserta didik mengalami pembentukan kepribadian yang utuh. Lebih lanjut pendidikan yang memerdekakan ini menciptakan pribadi yang dewasa dan mampu bertanggung-jawab.



Oleh karena itu dalam praktik pendidikan di institusi mana pun, sekolah harus menciptakan kenyamanan belajar, proporsional, dan mengikuti kaidah-kaidah yang tepat. Ini semua adalah tanggung-jawab bersama, bukan hanya sekolah sebagai pelaksana pendidikan, tetapi juga peserta didiks ebagai individu yang belajar, namun dituntut juga tanggung-jawab orang tua dalam memonitor dan memastikan pelajaran di sekolah dapat diterapkan dalam kehidupan di keluarga.



Pendidikan yang memerdekakan paling tidak dapat dipahami dalam beberapa pemahaman yakni: Pertama,pendidikan yang memerdekakan adalah pola pendidikan yang menanamkan nilai-nilai yang benar dan mengubahkan individu yang belajar. Sekian banyak mata pelajaran atau bidang studi yang diajarkan di kelas belajar, pertanyaannya ialah “apakah semua itu telah menghasilkan perubahan dalam diri anak-anak kita?,apakahjuga hal itu telah mampu membentuk pribadi yang memilik inilai-nilia hidup yang berkenan kepadaTuhan?.



Para praktisi pendidikan harusnya memahami bahwa tugas mendidikan bukan hanya sekedar menyampaikan materiatau memberikan sejumlah kumpulan informasi, melainkan yang utama ialah menolong peserta didik untuk menemukan perubahan melalui pendidikan.



Kedua,pendidikan yang memerdekakan ialah pendidikan yang disajikan dengan mengedepankan nilai harkat dan martabat manusia, karena itu harus dijauhkan praktik-praktik diskriminasi dan klasterisasi bagi peserta didik.



Pendidikan untuk semua, maka implikasi dari hal ini ialah bahwa setiap individu yang belajar berhak mendapatkan perlakuan yang sama, juga berhak menerima ilmu dan pengetahuan yang sama. Meskipun terdapat tingkat perbedaan kecerdasan, perbedaan suku, agama dan juga tingkat ekonomi, maka hal itu tidak boleh dijadikan membuat praktik diskriminasi.



Ketiga,pendidikan yang memerdekakan ialah pendidikan yang merestorasi kehidupan manusia, secara khusus dalam praktek kehidupan. Hal yang paling esensi diharapkan dari pendidikan kita ialah bagaimana pendidikan mampu membawa “restorasi” bagi semua mereka yang belajar.



Hal ini menjadi ujung tombak dari tujuan pendidikan. Bukan hanya sekedar memiliki ilmu, pengetahuan dan ketrampilan, melainkan anak-anak yang belajar memiliki pola hidup yang baik, sesuai dengan tatanan nilai dan juga menyenangkanTuhan. Jadi dalam hal ini sasaran utama pendidikan ialah bagaimana praktik pendidikan dapat dan mampu menolong semua peserta didik untuk mengalami pembaharuan dalam pola pikir, sikap dan tingkah laku. Dengan pendidikan diharapkan bahwa mereka-mereka yang memiliki perilaku yang negative mengalami sentuhan sehingga berubah menjadi positif.



Pendidikan yang memerdekakan akan mengangkat harkat dan martabat kita, dan hal ini akan membawa berbagai perubahan dan peningkatan di segala bidang kehidupan. Untuk hal ini maka para praktisi pendidikan seharusnya dapatdan mampu memiliki konsep dan strategi baru dalam menjalankan pendidikan.



Sebagai institusi pendidikan, utamanya pendidikan di lingkungan gereja harusnya memahami bahwa pendidikan bukan untuk tujuan mencari untung, bukan juga untuk tujuan memperluas area kekuasaan, melainkan melayani sebanyak mungkin orang dan membawa mereka kepada perubahan menuju keserupaan dengan Kristus.Dengan demikian kita akan melihat dan mengalami pembaharuan dalam pendidikan dalam kehidupan ini. [Pdt. Dr. Purim Marbun-Ka.Dep. Diklat BPH GBI/Foto:Istimewa]