Berita Bethel
Penulis: Pram (20/08/2015)

Mustahil Untuk Digantikan ( II )


“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu”. (Ulangan 6:4-5).



Perjalanan waktu membuktikan bahwa iman Israel yang percaya kepada Allah yang esa bergeser kepada “allah yang banyak” (allah disini menunjukkan kepada dewa yang dipresentasikan dalam wujud patung), satu Allah menjadi banyak allah. Allah yang satu “kalah pamor” dengan Allah yang banyak. Israel sudah “mengeluarkan” Allah dalam hidup mereka dan digantikan oleh allah asing.



Akibat ketidaktaatan orang Israel pada Allah, maka mereka merasakan penderitaan panjang dalam kehidupan mereka. Sungguh ironis, Israel sebagai umat Allah harus kehilangan Allah yang sudah memberikan kehidupan kepada mereka. Seharusnya dengan pengakuan iman mereka, tertanam dalam hati mereka bahwa “ Allah mustahil untuk digantikan”.



Allah tidak berdiam diri melihat kondisi Israel, melainkan mengirimkan seorang nabi di tengah-tengah umat-Nya. Para nabi diutus Allah untuk mengingatkan orang Israel untuk kembali ke jalan yang benar. Nabi Amos memberikan teguran keras kepada orang Israel untuk mencari Allah dan bukan menyembah ilah di tempat ibadah mereka.



Tekanannya adalah dengan mencari Allah maka mereka akan menemukan hidup dan pada saat mereka kehilangan Allah sama artinya dengan kehilangan hidup (Amos 5:4-6 "Sebab beginilah firman TUHAN kepada kaum Israel: "Carilah Aku, maka kamu akan hidup!. 5:5 Janganlah kamu mencari Betel, janganlah pergi ke Gilgal dan janganlah menyeberang ke Bersyeba, sebab Gilgal pasti masuk ke dalam pembuangan dan Betel akan lenyap."5:6 Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup, supaya jangan Ia memasuki keturunan Yusuf bagaikan api, yang memakannya habis dengan tidak ada yang memadamkan bagi Betel".



Pesan Amos dipertegas dengan munculnya nabi Hosea yang hidup sezaman dengannya. Nabi Hosea menyerukan kasih setia Allah kepada Israel yang sudah tidak setia kepada Allah. Kasih setia Allah diwujudkan dengan dimintanya Hosea untuk mengawini Gomer, sebagai gambaran dari hubungan Allah dengan Israel yang tidak akan terputus (Hosea 1:2 bnd 3:1-5).



Tekanannya adalah kasih setia Allah itu konsisten dan tidak dikondisikan karena kejahatan umatNya. Allah mau menunjukkan kepada Israel bahwa kasih setia Allah tidak akan “memudar” oleh karena “pengkhianatan” mereka dengan berpaling dari Allah. Teguran Allah melalui para nabi-Nya dengan satu maksud supaya Allah “diberikan” tempat di hati Israel, umat Allah. Allah tidak mau “tempatNya” digeser dengan digantikan oleh ilah lain.



Perjalanan hidup keimanan orang Israel menggelitik hati saya, are we doing the same with God? Kristus yang sudah meninggalkan “tempat-Nya” datang mengunjungi hidup kita dengan satu tujuan supaya kita memberikan “tempat”.



Adakah tempat yang layak untuk menempatkan Kristus di tempat yang seharusnya ? atau “tempatNya” sudah bergeser karena sudah “digantikan” ?. Saat ini, mungkin kita tidak sedang menyembah berhala sebagaimana yang dilakukan Israel pada waktu itu. Tetapi wujud penyembahan berhala dapat berupa hidup yang tertuju kepada hal-hal seperti materialisme, sekularisme, kapitalisme, hedonisme ,popularitas yang menjadi fokus dan sandaran hidup kita yang menggantikan Tuhan.



Tanpa kita sadari bahwa kita sedang membangun “penyembahan berhala modern” dan menjadikannya sebagai sumber yang berharga. Untuk itu semua kita rela melakukan apapun, mengorbankan apapun, bahkan melakukan yang jahat sekalipun, untuk bisa mendapatkannya.



Kenyataannya adalah we can not replace irreplaceable. Kristus tiada akhirnya, berkuasa, penuh kasih dan memberikan kehidupan kepada kita. Kiranya Tuhan selalu memberikan kepada kita kepekaan rohani dan ingatan, agar jangan sampai kita jatuh dalam penyembahan berhala, yaitu menggantikan Tuhan dengan hal lainnya sebagai yang segala-galanya dalam hidup kita. [Pdt. Muryati Setianto, MTh-R.A.B/Foto : Istimewa].



“ Tempatkan Tuhan di Hatimu”