Berita Bethel
Penulis: Pram (03/09/2015)
Papua Terbuka Untuk Pendidikan


Tujuh puluh orang calon guru PETRA Indonesia Cerdas menghadiri pembukaan pelatihan di Graha Bethel, Jakarta (Sabtu, 29/8). Pendidikan tersebut bakal berlangsung selama tujuh minggu di Sentul, Kab. Bogor, Propinsi Jawa-Barat. Mereka adalah alumnus Strata-1 dari berbagai Universitas seperti Univ. Cendana, Kupang, Arta Wacana, Kupang, STT Diakonos, Purwokerto, Jawa-Tengah, Univ. Nomensen, Sumatera-Utara, Univ. Widyamandira, Jambi dan Timor Leste.



Sementara itu, Sekretaris Daerah Kab. Lanny Jaya (Christian Sohilai) mengatakan dalam sambutannya, masyarakat Papua terbuka untuk pendidikan dan saat ini alumnus PETRA Indonesia cerdas tercatat ada 30 orang warga asli Papua di wilayahnya. Ia menyebut Indonesia Cerdas sebagai sekutu pendidikan, bukan sekedar mitra. Ia berpesan agar para guru kelak bisa betah untuk melayani di wilayahnya.



MP PGI (Pdt. Dr. AA. Yewanggoe) dalam sambutannya via video mengatakan ikutilah teladan Yesus mengajar ke tempat-tempat terpencil. Ia mengapresiasi Indonesia Cerdas yang melayani sampai ke lokasi terpencil. Hal senada disampaikan Sekretaris Umum PGI (Pdt. Gomar Gultom, MTh) yang hadir di Graha Bethel. Ia mengatakan gereja harus mendidik, mengajar. Jika tidak maka gereja akan mati, sembari ia mengutip judul buku karya Kunz yaitu “Training to Teach”.



Dirjen PKP Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal (Dr. Johozua M. Yoltuwu-Foto nomor 3 dari kanan) mewakili Menteri Marwan Jafar mengatakan dalam sambutannya, Kementeriannya mempunyai program membangun Indonesia dengan cara memperkuat desa-desa, daerah, pulau-pulau terluar, perbatasan (serambi republik). Pemerintah mengucurkan dana untuk pembangunan desa-desa. Ia mengakui, 78 persen wilayah pedesaan di wilayah bagian timur adalah wilayah tertinggal dan perlu perhatian Pemerintah.



Ia memberikan contoh kalau di kota Fak-Fak adalah sentra pala. Namun, ia menyayangkan kalau di sana tidak ada industri yang mengelola pala. Pala hanya diolah secara sederhana dan dijual di pasar (lokal) dalam bentuk manisan. Hal yang sama juga terjadi di wilayah sentra-sentra ikan, kopi, kakao padahal menurut pengamatannya secara langsung, daerah Waropen, Serui, Biak memiliki sumber daya alam yang luar biasa besar.



Dirjen PKP menambahkan, daerah lain seperti Saburaijua, memiliki potensi alam yaitu pohon aren sebagai bahan baku sopi, gula, cuka, ayaman (tembikar). Menurutnya perlu dibuat Badan Usaha Miliki Bersama, Koperasi, Ekonomi Mikro. Bantuan (dana) Pemerintah bisa disimpan di Badan Usaha Milik Desa dengan difasilitasi Satgas kecil guna mengamati pengelolaannya. Sementara itu, gereja – gereja setempat bisa berfungsi sebagai pihak pendamping dalam usaha tersebut, termasuk para alumnus guru PETRA yang bertugas di wilayah setempat. “Jadilah teladan yang baik bagi masyarakat lokal (setempat) dan milikilah motivasi yang tinggi, perlu pelajari sosial, budaya masyarakat setempat (Papua)” pesannya kepada calon guru PETRA.



Acara ini diisi dengan membuka Pelatihan Pendidik Transformasi (PETRA) Angkatan ke-8 dan penanda-tanganan Pencanangan Kader Pendamping Desa oleh Pdt. Japarlin Marbun, Dirjen PKP, Pdt. Shepard Supit, Majelis Pendidikan Kristen (Arion Hutagalung), Sekretaris Daerah Kab. Lanny Jaya, Papua (Christian Sohilai), Fendy Wijaya (Pembina Indonesia Cerdas) serta Lenis Kogoya, STh. M.Hum (Staf Khusus Presiden Urusan Papua dan Ketua Lembaga Adat Papua). Dipenghujung acara Ketua Umum BPH, para hamba Tuhan yang hadir mendoakan para calon guru PETRA.