Berita Bethel
Penulis: Pram (04/10/2015)

Menghargai Korban Tuhan Yesus Kristus


Filipi 2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.



Tahukah kita, bahwa satu-satunya takdir kita adalah binasa kekal. Arah dari segala perbuatan manusia adalah jahat di mata Allah, dan menuju kebinasaan kekal. Keadaan ini membuat Bapa “nyesek” dan pilu hatinya (Kej. 6:6). Tuhan Yesus adalah logos atau firman yang telah menciptakan langit dan bumi serta sang penguasa yang telah memerintah sejak jaman purbakala dengan segala kemuliaan-Nya (Yoh. 1:1-4, Mikha 5:1-2).



Kepiluan hati Bapa telah menjadi “passion”- Nya dan telah mendorong diri-Nya untuk meninggalkan segala kemuliaan yang Ia miliki. Kebinasaan manusia adalah kepiluan hati Allah Bapa.Allah Anak telah memilih mengosongkan diri-Nya demi kepuasan hati Bapa. Proses pengosongan diri-Nya bukanlah sebuah adegan sandiwara yang telah diatur sedemikian rupa sehingga bisa ditebak ke mana arah akhir ceritanya.



Dalam menjalankan misi-Nya, Tuhan Yesus sangat berkemungkinan untuk gagal. Ada dua akibat besar yang terjadi jika Tuhan Yesus gagal; yang pertama, manusia akan meluncur bebas masuk dalam kebinasaan kekal tanpa halangan, kedua, Tuhan Yesus tidak akan pernah mendapatkan kembali kemuliaan yang telah Ia tinggalkan.



Dalam hal ini pemahaman kita tidak boleh salah, karena jika salah maka penempatan diri kita di hadapan Allah pun juga salah. Kebinasaan manusia jangan disejajarkan dengan masalah hidup yang bersifat sementara. Jika hal ini kita lakukan sama artinya merendahkan pertarungan Tuhan Yesus untuk memperoleh kembali kemuliaan yang telah Ia tinggalkan.



Tak terkatakan betapa hancurnya tatanan jagat raya ini jika Allah Anak tidak lagi memiliki kemuliaan. Tetapi terpujilah Tuhan kita Yesus Kristus yang telah menang atas semua ini. Bukankah manusia juga telah kehilangan kemuliaan Allah? Jika Tuhan Yesus saja mempertaruhkan nyawa untuk kemuliaan-Nya, lalu siapakah kita ini sehingga berani berkata “aku anak Allah” sementara perilaku kita tidak seperti Kristus.



Jika melihat perbuatan kita maka tidak pantaslah menyebut diri kita sebagai anak-anak Allah. Perbuatan kita mencerminkan penghargaan kita terhadap pengorbanan Tuhan Yesus Kristus.Lagi-lagi gereja tidak boleh salah mengajar umat dengan menggantikan kesulitan hidup sebagai pokok pergumulan umat. Ajarkan bagaimana Kristus berjuang dalam ketaatan-Nya, bahkan sampai pada kematian-Nya di kayu salib.



Ketaatan bukan untuk meraih berkat materi, tetapi untuk kepuasan hati Bapa sehingga kita layak dimuliakan bersama dengan Kristus. Allah bertanggungjawab dengan ciptaan-Nya, Ia memberikan matahari kepada orang jahat dan orang baik (Mat. 5:45). Sumber : R.A.B - Pdt. Dr. Erastus Sabdono, M.Th/Foto : Ilustrasi]



“Perbuatan kita mencerminkan penghargaan kita terhadap pengorbanan Tuhan Yesus Kristus”