Berita Bethel
Penulis: Pram (03/11/2015)

LPDS - ICRC : Mengenali Tiga Sumber Konflik


Menurut pengamatan Ichsan Malik (Institut Titian Perdamaian), terdapat tiga sumber konflik di Indonesia yaitu diskriminasi (agama dan suku), ketidak-adilan, korupsi. Jika konflik dibiarkan maka akan naik menjadi radikalisme, sebagai akibat dari aspek ideologi.



Peristiwa konflik mula-mula diawali oleh pemicu (trigger : api), akselerasi (diibaratkan fungsi kipas angin, mengipasi rumput kering alias kelompok rentan), menghasilkan faktor (ledakan). Perlunya mewaspadai kelompok-kelompok rentan (rumput kering) di masyarakat, sehingga kondisi demikian mudah "dikompori" provokator. Namun, Ichsan tidak menjelaskan secara gamblang siapa sebenarnya si-provokator ini dan mengapa sampai sekarang tidak pernah terungkap.



Hal itu dibahas Ichsan dalam sesi yang bertemakan "Keterbatasan Peliputan Pers Indonesia tentang Konflik Sosial dan Agama"  dengan sub-tema "Intractable Conflict"  (Konflik yang Tidak Pernah Terselesaikan) pada acara Lokakarya dengan tema "Peliputan Isu-Isu Kemanusiaan" . Acara ini diselenggarakan ICRC (Komite Internasional Palang Merah) dan Lembaga Pers Dr. Soetomo, Jakarta (3/11).



Tema tersebut bermakna konflik identitas yang berakar dari sejarah dan berlarut-larut,dan sulit diselesaikan, Konflik ini bernuansa agama dan etnis. Karakteristik konflik, Ichsan membagi menjadi dua mengutip pandangan Coleman yaitu Pertama : totalitas, melibatkan seluruh level ke dalam konflik. Kedua : berkaitan dengan isu ekonomi, politik, budaya. Proses konflik bersifat sangat emosional, penuh kekerasan dan penghinaan.



Sementara itu, berdasarkan pengalamannya di lapangan untuk melakukan mediatasi pihak-pihak yang pernah bertikai seperti Maluku, ada dua pendekatan dalam strategi penyelesaian konflik, masing-masing : pendekatan top down (penggunaan pendekatan penegakan hukum, pendekatan ekonomi, politik keamanan).



Pihak yang dilibatkan terdiri dari elit Pemerintah, politik, tokoh agama,tokoh adat dan elit pimpiman organisasi masyarakat. Pendekatan bottom down (melibatkan partisipasi masyarakat akar rumput, atau kelompok menengah). Pelaku dan korban langsung atau tidak langsung. Pemanfaatan kearifan lokal, seperti penyelesaian konflik Maluku dengan Pela Gandong.



Ichsan menyampaikan fokus-fokus liputan ketika terjun meliput di wilayah konflik yaitu bisa memberitakan secara berimbang antara pihak pelaku dan korban. Dalam banyak hal, banyak pelaku yang mengaku sebagai korban. Penggunaan kata (labelling) seperti ekstrimis, separatis, fundamentalis bisa menambah panjang masa konflik. Soal menang-kalah dalam konflik, empati vs obyektifitas.



Diakhir paparannya, Ichsan memberikan konklusi untuk mnyelesaikan "Intractable Conflict" dengan fokus kepada manusia, kemanusiaan yang berbasis kebenaran. Setelah itu baru bicara soal keadilan dan permohonan maaf. Kearifan lokal adalah penting dan esensial. Konflik bisa diselesaikan dengan kepala dingin, tidak dengan marah atau diam saja.