Berita Bethel
Penulis: Pram (07/11/2015)
Pendidikan Berbasis Nilai Alkitab


Apa yang menjadi tantangan pendidikan pada dasawarsa belakangan ini? Jika kita cermat memahami dan mengerti maka ada banyak hal yang perlu diperhatikan khususnya menyangkut perkembangan IPTEK, maraknya praktek-praktek pendidikan yang tidak berbasis nilai, ada banyak masalah yang muncul ditengah-tengah pengelolaan pendidikan diantaranya munculnya pendidikan “ala instan” tidak mempedulikan norma-norma yang berlaku khususnya pada standart pendidikan, dan hal ini menjadi pemicu banyaknya praktek-praktek negatif dalam pendidikan.



Makna Pendidikan. Pendidikan dapat diartikan sebagai usaha sadar dan terencana membelajarkan individu atau pribadi sehingga mereka mengalami pertumbuhan dan kedewasaan. Pada bagian ini konsep ini sangat ideal da mampu memberikan wawasan yang luas bahwa pendidikan tidak mungkin dikelola secara “gampangan” juga tidak mungkin dilaksanakan dengan “mudah” sebab memerlukan berbagai standar yang harus dikerjakan.



Untuk tujuan pembelajaran yang membawa perubahan dan kedewasaan bagi individu tidak dapat dilakukan hanya sekedar mencapai jenjang pendidikan tertentu dengan memegang ijazah tertentu; oleh karena itulah pendidikan harus ditata berbasis standar yang jelas.



Pendidikan dalam Perrspektif Allah. Pendidikan dalam bingkai dan perspektif Alkitab harusnya mengembalikan pola pendidikan itu dengan cara-cara yang tepat; memenuhi hukum dan aturan main yang berlaku, bahkan lebih lagi harus dilaksanakan untuk tujuan Allah. Alkitab mendorong pendidikan berlangsung dalam keluarga, dikerjakan oleh para orangtua mendidik, mengajar dan juga menuntun anak-anak mereka sehingga dapat bertumbuh dalam pengenalakan anak Dia.



Jika kita membaca Alkitab maka Dia yang adalah Allah sendiri, menjadi tokoh utama pendidik. Dalam diri Yesus Kristus kita mendapatkan bagaimana mengerti tugas-tugas mendidik dan mengajar.



Perjanjian Baru melaporkan bahwa Yesus mengajar para murid, Ia juga mengajar orang banyak, dan bahkan masih banyak lagi pola-pola pengajaran yang dibuat oleh Dia. Dalam konteks ini maka dapat disebutkan bahwa tokoh yang utama dalam pendidikan adalah Yesus Kristus, sebagai tokoh pendidik ia melegitimasi diri sebagai guru bagi para murid-murid. sebutan rabbi dalam teks Perjanjian Baru hendak menerangkan bagaimana Yesus melakukan tugas-tugas pendidikan.



Ini jugalah yang diamanatkanNya kepada para murid-murid (Matius 28:19-20). Dalam tugasnya sebagai guru atau pendidik Ia mengajar para murid-murid 3,5 tahun. Pola pembelajaran yang dilaksanakan Yesus jelas dengan memberikan keteladanan, memberikan pengalaman iman bagi murid-murid dan juga mendorong mereka menjadi pelaku bukan hanya pendengar.



Apa yang dilakukan oleh Yesus Kristus dalam zamanNya, hendaknya ini mengispirasi para pendidik dan orang tua dalam rumah tangga Kristen dalam melakukan tugasnya mendidik generasi ini. Paling tidak kita dapat memberikan beberapa tips sebagai intisari dari pendidikan berbasis Alkitab, antara lain:



Pertama, pendidikan hendaknya dilandasi dengan tujuan kemuliaanNya. Pelaksanaan pendidikan tidak boleh bergeser dari tujuan ini, sebab segala sesuatu harus bermuara pada rencana dan kehendakNya. Jika kita melihat praktek-praktek pendidikan masa kini, agaknya kita harus berpikir ulang tentang tujuan itu.



Sebab disana sini ditemukan berbagai kejanggalan terhadap tujuan pendidikan itu, misalnya pendidikan menjadi alat “kekuasaan” pribadi atau sekelompok orang, belum lagi pendidikan dialamatkan untuk mendongkrak kepentingan-kepentingan tertentu, tentu hal ini jauh dari harapan dan keinginan Tuhan. Bagaimana pun praktek pendidikan, apakah pendidikan formal ataupun informal semua bermuara pada kehendak Tuhan.



Kedua, pendidikan untuk semua golongan dan semua usia. Melihat praktek pendidikan yang dilakukan oleh Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru, demikian juga dengan para murid-murid maka jelas pola pendidikan ini dialamatkan untuk semua golongan. Tidak ada pembeda-bedaan antara pria dan wanita, kelas strata sosial tingggi atau rendah, Yahudi atau non Yahudi, dan lain-lain.



Gereja dan Sekolah sebagai pelaksana pendidikan seharusnya melaksanakan pola-pola pendidikan yang harmonis dengan semua orang, semua golongan, dan juga latarbelakang. Sebagai warga gereja dan juga warga kerajaan Allah, hendaknya kita mengerjakan pendidikan dengan pola yang baik dan benar.



Di lapangan pendidikan gereja, para hamba Tuhan harus memberi porsi yang sama pendidikan kepada mereka yang berpendidikan atau pun tidak; kepada mereka yang berbeda suku, dll. Dengan jalan demikian maka jelas kita temukan bahwa pedidikan akan membawa kesamaan perlakuan terhadap semua umat.



Ketiga, pendidikan harus dikerjakan dalam dimensi hidup masa kini dan yang akan datang bahkan kekekalan. Pada posisi ini jelas kita harus tetapkan rumusan tujuan dan target pendidikan bukan sekedar mempersiapkan anak didik dan jemaat untuk kehidupan masa kini melainkan juga untuk masa yang akan datang.



Pendidikan memang bertugas mempersiapkan setiap individu atau pribadi mampu menghadapi kesulitan-kesulitan masa depan, dengan cara memperlengkapi mereka dengan sejumlah pengetahuan, sikap, spiritual dan ketrampilan-ketrampilan hidup. Dalam rangka mewujudkan pribadi yang mampu bersaing dimasa datang memang pendidikan tidak perlu diragukan lagi, sebab hampir semua pendidikan di segala level akan menuntun peserta didik kearah sana.



Namu lebih lanjut adalah bahwa pendidikan berbasis Alkitab itu harus mempersiapkan naradidik untuk kekekalan. Dalam konsep ini pendidikan diarahkan membentuk manusia-manusia ilahi yang siap melanjutkan kehidupan dalam hidup kekal.



Keempat pendidikan dibangun untuk mempersekutukan manusia dengan Yesus Kristus. Agaknya point ini sangat bernuansa kristiani, memang itu sangat jelas. Bukankah judul tulisan ini pendidikan berbasis nilai Alkitab, maka jelas bagian inilah yang utama bagi pelaksanaan pendidikan dalam sekolah, gereja dan keluarga. Bagaimana pun bentuk dan model pendidikannya, maka harus dipahami bahwa segala upaya itu harus membawa setiap pribadi bersekutu kepada Tuhan dan percaya kepadaNya.



Pendidikan berbasis Alkitab, jelas mengingatkan kita bahwa dalam pendidikan pun harus ditemukan nilai-nilai firman Tuhan. Pendidikan bukan saja urusan lembaga-lembaga seperti sekolah, gereja dan keluarga, namun urusan semua orang percaya. Pendidikan tugas dan tanggung jawab semua umat Tuhan. Karena itu setiap kali kita melakukan “pendidikan” hendaknya dicamkan dengan baik bahwa muaranya harus kepada Tuhan dan kemuliaanNya. [Pdt. Dr. Purim Marbun-Ketua Dep. Diklat BPH GBI]