Berita Bethel
Penulis: Pram (28/11/2015)

Radikalisasi dan De-radikalisasi


Workshop [Lokakarya] Internasional bertemakan "Radikalisasi dan Deradikalisasi" Membandingkan Pengalaman di Jerman, Indonesia dan Lainnya" digelar di Goethe-Institut Kedutaan Besar Jerman, Jakarta (Kamis, 26/11).



Kegiatan ini merupakan kerja-sama dengan PUSAD Paramida, Konrad Adenauer Stiftung, Jerman dan EKONID. Pembukaan dan penutupan acara dilakukan Dr. Thorsten Hutter (Wakil Duta Besar Jerman) di Jakarta.



Para nara sumber yaitu Sidney Jones (Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict/IPAC), Dr. Thorsten Gerald Schneiders (Editor Deutschlandfunk) dan Kapolda Metro Jaya (Irjend Pol. Drs. M. Tito Karnavian, MA, PhD).



Latar belakang diadakannya lokakarya ini adalah Pemerintah yang beragam di dunia sedang menghadapi tantangan yang sama dalam upaya menemukan metode untuk membatasi pergerakan kelompok radikal yang akan menjadi calon teroris dan berperan untuk menangani orang-orang yang kembali [dari kawasan konflik di negara tertentu, Red].



Di luar tindakan pembatasan yang mungkin diterapkan Pemerintah, terdapat isu radikalisasi yang lebih luas pada generasi muda. Mencegah radikalisasi pada satu sisi dan membuka jalan untuk keluar dari sebuah lingkungan radikal. Di sisi lainnya adalah upaya yang terkait di luar lingkup Pemerintah.



Membuka presentasinya, Kapolda mengatakan aksi terorisme merupakan ancaman terhadap (rakyat) sipil dengan menggunakan tenaga kecil, namun menimbulkan dampak yang luas. Jelas hal ini melanggar norma karena menyerang sasaran sipil. Terorisme menurutnya bukan hanya melakukan tindakan pembunuhan tetapi juga kekerasan politik yang didasari ideologi.



Tentang metode rekrutmen, Kapolda menambahkan kelompok radikal melakukannya dengan cara "menjual" ideologi tertentu. Lebih lanjut ia menambahkan, radikalisasi bisa ditangkal dengan de-radikalisasi seperti metode pendekatan keagamaan, psikologi, ekonomi.



Namun, ia mengingatkan tiap metode pendekatan tersebut belum tentu sesuai (cocok) dengan situasi radikalisme di wilayah tertentu. Untuk memahami radikalisasi, perlu pemahaman terhadap proses bagaimana terjadinya readikalisasi tersebut.



Proses rekrutmen anggota-anggota radikalis, kata Kapolda melalui beberapa jenjang yaitu para pencari pengikut (recruiter) mencari calon anggota baik perorangan atau kelompok. Tahap ini dilakukan face to face (tatap muka langsung).



Setelah itu dipaparkan tentang isu ideologi jenis radikalisme. Penyebaran paham radikalisme dilakukan melalui media seperti selebaran, pamflet, media sosial. Jangkauan akhir kelompok radikalime ialah mendapatkan anggota yang potensial diantara masyarakat.



Selanjutnya Sidney Jones mengatakan sekitar lebih dari 100-an warga Indonesia yang telah kembali dari wilayah konflik di luar negeri, perlu dilakukan pendataan guna keperluan program de-radikalisasi.



Mereka perlu di kelompokkan berdasarkan usia, jenis jender (laki-laki / wanita). Setelah itu dibuatkan program berjenjang (jangka pendek-jangka panjang, Red). "Pikirkan (susun) kebijakan yang bisa diterapkan terhadap mereka yaitu warga Indonesia yang kembali ke tanah air dari wilayah konflik di luar negeri. Acara dilanjutkan dengan tanya-jawab dengan para peserta.