Berita Bethel
Penulis: Pram (07/12/2015)

Dep.Teologia : Keselamatan Bisa Hilang ?


Seminar Sosialisasi Theologia Keselamatan dan Biblical Grace digelar Departemen Teologia BPH GBI, Litbang BPD DKI Jakarta dan INISEL di GBI Damai Sejahtera, Jakarta Pusat (7/12).



Nara sumber acara ini yaitu Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham (Ketua Teologia dan Pendidikan). Hadir pula Pdt. Paul R.Wijaya (Sekum BPH GBI), Pdt. Hengky So, MTh (Ketua Departemen Teologia), Pdt. Dr. Purum Marbun , MTh (Ketua Dep. Diklat BPH GBI) dan para hamba Tuhan di DKI Jakarta dan sekitarnya.



Makna Keselamatan. Sesi pertama, Pdt. Rubin Adi mengawali pemaparannya dengan menjelaskan makna keselamatan (soteriologi) yang bermakna pembebasan, keselamatan dan kelepasan. Ia menegaskan mulai Kejadian 3 - Wahyu 20 menuliskan tentang dosa manusia dan intervensi Allah dalam menyediakan keselamatan.



Setan membawa dosa masuk ke kehidupan manusia (Yesaya 14 dan Yehezkiel 28). Sementara itu, kasih Allah sangat besar, sehingga Ia menyediakan Anugerah-Nya yang lebih besar dari pada dosa.



Bagaimana Supaya Selamat?. Sesuai dengan nats I Yoh 5:10-13, Yoh 3:16; 6:47, ia mengatakan setiap orang yang percaya kepada Yesus pasti selamat atas dasar nats-nats itu, namun dengan syarat seseorang tinggal di dalam Tuhan.



Keselamatan itu menurutnya berdasarkan Alkitab dari nats Efesus 2:8-10 yaitu anugerah dari Allah yang diterima melalui iman, hasil kelahiran baru oleh karya Roh Kudus (Titus 3-4-8, Yoh 3:5-8) dalam kehidupan orang percaya.



Selanjutnya, hal itu akan menghasilkan kekudusan sebagai buah iman (Yohanes 3:8,10). Bila seseorang jatuh ke dalam dosa, maka ia perlu mengaku dosa untuk mendapatkan pengampunan dan pembaharuan dari Allah (I Yoh 1:9, 2:1-2, Mazmur 32:3-5). Dengan demikian, Tuhan memulihkan persekutuan yang rusak dengan-Nya serta mengembalikan suka-cita keselamatan itu (Maz 51:14).



Keselamatan Bisa Hilang atau Tidak ?. Pdt. Rubin memberikan komparasi (perbandingan) antara pendapat kaum Calvinis (kaum Injili/Reformed meyakini pandangan ini) dan kaum Armenian (kaum Pentakosta meyakini hal ini). Calvinis berpandangan Allah memanggil dan menentukan (keselamatan), dengan demikian Allah sanggup memelihara dan menjaga apa yang sesuai dengan kehendak-Nya.



Maka orang yang dipanggil tidak mungkin kehilangan keselamatannya. Pandangan ini menggunakan nats (Yoh 10:28-29, Roma 8:38-39, Filipi 1:6, II Timotius 1:12, I Petrus 1:5).



Sebaliknya, kaum Armenian berpandangan eternal security (hidup kekal, Red) akan dicapai jika orang percaya tetap di dalam Yesus. Pandangan mereka berdasarkan Yoh15:1-8, Ibr 6:4-6; 10:26-27. Artinya, ketentuan (keselamatan) Allah atas dasar respon manusia (usaha manusia) ditambah dengan kuasa Allah.



Selanjutnya, Pdt. Rubin Adi menjabarkan lima perbedaan Calvinisme dan Armenianisme yaitu terbagi menjadi unsur dosa, kedaulatan Allah, konsep penebusan, anugerah keselamatan dan pemeliharaan kekal.



Calvinisme : 1. Dosa adalah kerusakan total manusia. Manusia tidak berdaya meresponi panggilan Allah. 2. Allah berdaulat menentukan orang yang dipilih-Nya, tanpa syarat.3. Penebusan terbatas. Kristus mati hanya untuk menyelamatkan orang pilihan-Nya. 4. Anugerah keselamatan tidak dapat ditolak oleh orang yang ditetapkan-Nya. 5. Pemeliharaan kekal. Sekali selamat tetap selamat.



Armenianisme : 1. Walaupun manusia sudah berdosa, manusia oleh anugerah-Nya masih bisa meresponi panggilan Allah (percaya). Nats Yes 55:1, Matius 11:28. 2. Allah memilih karena Ia tahu siapa yang akan meresponi panggilan-Nya.3. Penebusan Kristus tak terbatas bagi orang yang mau menerima-Nya. 4. Manusia mempunyai kebebasan untuk menerima atau menolak anugerah Allah.5. Orang yang sudah selamat, masih ada kemungkinan kehilangan keselamatan.



Dari dua pandangan diatas, Pdt. Rubin menyimpulkan Calvin menekankan kedaulatan Allah dan mengecilkan kehendak bebas manusia. Sebaliknya, Armenianisme menekankan kehendak bebas manusia dan mengecilkan unsur kedaulatan Allah dan kerusakan manusia.



Menjaga Keseimbangan. Hal terbaik menurutnya adalah menjaga keseimbangan antara kedua pandangan itu. "Jika hal itu tidak dipertahankan, bisa menjadi ekstrem, "ujarnya. Pdt. Rubin menambahkan Allah tidak dibatasi waktu. Saat Ia memilih siapa yang diselamatkan karena kedaulatan-Nya.



Saat itu juga Allah sudah tahu siapa saja (manusia) yang akan menggunakan kehendak bebasnya untuk responi panggilan-Nya."Ikuti ajaran GBI kalau masih berada di dalam GBI, termasuk menerima pengakuan iman GBI," tegasnya.Silahkan klik Pernyataan Departemen Teologia BPH GBI  tentang Karunia yang Alkitabiah (Biblical Grace). Baca : Tidak ada Keselamatan Pasca Kematian.