Berita Bethel
Penulis: Pram (11/12/2015)
Misi : Sharing Pelayanan @ Suku Kombai


Usai tamat STT di Kampen, Belanda pada tahun 1976, hamba Tuhan Jakob P.D. Groen 2 tahun kemudian (1978) terjun melayani suku Kombai di pedalaman Kabupaten Boven Digoel, Papua hingga tahun 1994. Ia hadir dalam diskusi dengan Biro Misi BPH GBI di Graha Bethel, Jakarta (Jumat, 11/12).



Menurut keterangan Pdt. Henoch Budianto selaku Ka Biro Misi Departemen Pelmas BPH GBI kepada Redaksi, kehadiran Groen guna mensharingkan pengalamannya melayani suku Kombai serta diharapkan bisa menjalin kerja-sama untuk melayani di Papua pada masa yang akan datang.



Groen menuturkan kepada Redaksi perihal latar-belakang ketertarikannya untuk terjun melayani di sana karena ia mau memberitakan Injil Kristus. Lokasi pelayanan itu, ia peroleh dari seorang missionaris yang lain. Misionaris itu merupakan anggota gereja dimana Groen berjemaat. Ia sudah melayani di daerah Boven Digoel sebelum Groen.



Presentasinya disertai dengan foto-foto di lokasi pedalaman yang seluruhnya hutan belantara dan terpencil. Untuk mencapai lokasi bisa ditempuh dengan kombinasi jalan kaki, naik perahu dan menggunakan sarana angkutan udara (pesawat kecil). Ia juga menceritakan budaya, kebiasaan, kehidupan dan lain-lain suku Kombai.



Selama melayani di sana, ia dibantu penduduk asli setempat membangun gedung sekolah, rumah-rumah, poli klinik, lapangan udara bagi landasan pesawat kecil. Groen menambahkan, di Wamena ada Kalvari Klinik.



Klinik itu digunakan sebagai tempat untuk perawatan bagi penderita HIV/AIDS. karena klinik itu sangat bagus dalam membantu (perawatan) mereka. "Kalau saya tidak salah, klinik itu didirikan oleh seorang dokter dari Amerika.(Facebook:https://www.facebook.com/ /profile.php?id=100002995865607)," ujarnya. 



Groen menikah dengan seorang wanita senegaranya. Bahkan ia dikarunai 6 anak (3 putri dan 3 putra) dari pernikahan tersebut. Mereka sama-sama tinggal di hutan juga. Hal-hal serius dan penting untuk mendapatkan perhatian bagi gereja menurutnya yaitu peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan (gereja) dan pelayanan kesehatan.



Tidak ketinggalan, ia menceritakan perihal perayaan tertentu seperti Pesta Ulat Sagu. Pada saat even itu, masyarakat (suku-suku) datang beramai-ramai dan melakukan transaksi seperti jual-beli hewan, tukar-menukar anak busur panah, noken dan lain-lain.



Usai rehat makan siang, ia mempresentasikan buku yang berjudul BerTeologi Abad XXI setebal 916 halaman dalam format bahasa Indonesia. Buku tersebut diterbitkan Perkantas bekerja sama dengan LITINDO.