Berita Bethel
Penulis: Pram (22/12/2015)

Ketum BPH : Hamba Tuhan, Terang di Tengah Bangsa-Bangsa


"Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa sehingga keselamatan sampai ke ujung bumi" (Yesaya 49:6b) adalah tema Natal BPH GBI yang diadakan di Graha Bethel, Jakarta (Senen, 21/12).



Hadir Ketua MP BPH GBI beserta sebagian anggota MP, Ketua-Ketua Departemen dan Ka. Biro Departemen, staf dan karyawan BPH serta keluarga. Acara ini dimeriahkan dengan pujian dari paduan suara karyawan BPH GBI dan salah satu puteri karyawan. Sebelum sesi Firman Tuhan, Ketum BPH menyalakan lilin, disusul Pdt. Soehandoko Wirhaspati (Ketua MP BPH GBI), Pdt. Paul R. Widjaya dan perwakilan karyawan BPH GBI (Dr. Rini Rhode dan Pdt. Didimus, MTh).



Firman Tuhan disampaikan Pdt. Japarlin Marbun (Ketua Umum BPH GBI) dengan mengutip nats diatas dan mengambil tema "Hamba Tuhan Sebagai Terang di Tengah Bangsa-Bangsa".



Selanjutnya, Ketum mendefinisikan hamba Tuhan yang dinubuatkan di atas yaitu Pertama, sesuai dengan konteks Perjanjian Lama ialah Yesaya sendiri. Ia dipilih Tuhan sejak dari dalam kandungan. Kedua, nubuatan itu bermakna Yesus yang akan menerangi dunia.Ketiga, Gereja Tuhan menjadi terang bagi bangsa bangsa.



Hal itu, menurut pandangannya sesuai dengan tema HUT GBI ke-45 pada tanggal 6 Oktober 2015 lalu (GBI For The Nations). “Tuhan akan membuat GBI menjadi terang bagi bangsa-bangsa, Tema HUT GBI bukan menjadi hiasan “ ujarnya. Ia menambahkan saat ini GBI telah ada di beberapa manca negara dan terlalu kecil bagi GBI menjadi terang bagi Indonesia saja, melainkan harus menjadi terang bagi bangsa-bangsa.



Pelayanan ke Bangsa-Bangsa. Ketum BPH menegaskan saat ini adalah waktu bagi GBI untuk mempersiapkan dan mengutus misionaris ke berbagai belahan dunia (bangsa-bangsa). Artinya, GBI tidak hanya hanya fokus ke dalam negeri saja, supaya keselamatan dari Tuhan sampai ke ujung bumi.



Tafsir ujung bumi tambahnya, bermakna banyak lokasi, terutama ke bangsa-bangasa yang belum dijangkau di lokasi yang jauh. Untuk membuktikan pernyataannya, Ketum memberikan contoh perihal keberadaan GBI di Eropa, salah satunya GBI Yunani. Gereja tersebut akan membuka gereja di Tesalonika.



Mempersiapkan Diri. “Kita harus siap untuk dipakai Tuhan agar bangsa-!angsa bisa dijangkau. BPH GBI sebagai pusat GBI harus jadi center of excellent bagi GBI. Mari kita melihat diri sendiri supaya dipakai Tuhan membawa keselamatan sampai ke ujung-ujung bumi,” tegasnya.



Hasilkanlah Buah. Pdt. Japarlin bicara tentang panggilan pelayanan bagi staf dan karyawan BPH GBI. Ia mengutip nats Yohanes 15:16 “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu”.



Berdasarkan nats diatas, ia menafsirkan Tuhan memanggil orang percaya dengan target yang jelas dan bertujuan untuk menghasilkan buah. “ Menjadi hamba Tuhan, orang Kristen itu dipilih Tuhan. Bahkan menjadi karyawan BPH pun, itu adalah pilihan Tuhan. Tapi jangan berhenti disitu. Tuhan telah tetapkan kita supaya pergi dan menghasilkan buah.,” katanya.



Makna kata buah. Pdt. Japarlin menjabarkan makna kata buah yaitu Pertama, pertobatan, perubahan hidup yang mendasar dan radikal. Kedua , memenangkan jiwa bagi Tuhan. Sesuai dengan Amanat Agung. Ini target Tuhan dalam hidup bagi orang percaya. Selanjutnya, Tuhan memanggil kita untuk memberdayakan hamba Tuhan dan jemaat. “Mari kembangkan GBI Mantap, jadi gereja sehat, kuat, bertumbuh, dan berdampak,” ajaknya.



Langkah Strategis Agar Berbuah. Namun, Pdt. Japarlin menambahkan untuk bisa mencapai hal diatas, ada langkah strategis yang harus dilakukan yaitu 1. Jangan lelah (bekerja dan melayani) agar tema Natal BPH ini menjadi kenyataan. 2. Sebelum terang sampai ke bangsa-bangsa, terang itu harus menerangi diri sendiri.



3. Saling mendorong, memotivasi, menerangi sebagai karyawan BPH supaya bisa mencapai tujuan dan sasaran yang telah Tuhan tetapkan. “Kita terangi tetangga, kota, bangsa, bangsa-bangsa. Supaya bisa menerangi sekitar kita, kita harus menjadi teladan bagi teman-teman. Kita dipanggil untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa.



Kota di atas gunung tidak mungkin mungkin tersembunyi. Kita harus jadi tontonan, selanjutnya tuntunan. Kota yang dibangun diatas gunung tidak mungkin tersembunyi. Pancarkan terang yang positif supaya terang itu sampai kepada bangsa-bangsa,” katanya.



Ketum mengutip nats Matius 5:13 ".......Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.5:15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."



Gereja Sesuaikan Dengan Perubahan Zaman. Berkaitan dengan perkembangan zaman, Pdt. Japarlin berpesan agar pola pelayanan gereja harus tampil beda. Sebab, kini gereja ada di era dunia maya (serba digital), dengan demikian tantangan pelayanan juga berubah.



Ia menilai gereja adalah publik servis. Orang akan datang jika kebutuhan rohaninya terpenuhi. “Beritakanlah Injil agar menjadi kesaksian bagi segala bangsa, sehingga Tuhan (segera) datang kembali untuk memberikan upah (bagi orang percaya). Natal mendorong dan memotivasi kita agar semakin giat dan sungguh-sungguh (dalam bekerja dan pelayanan),” pungkasnya.



Sebelum berakhir, Panitia mengumumkan final seleksi karyawan terbaik (OB Soetomo alias Tomo) dan Sukarni (karyawan terlama). Mereka menerima piala dan sejumlah uang tunai atas pengabdian mereka selama melayani di BPH.



Tidak ketinggalan ada pengundian door prize. Doa penutup dan berkat oleh Sekum BPH GBI, Pdt. Paul R. Widjaya. Perjamuan makan malam menjadi acara pamungkas perayaan Natal BPH GBI tahun 2015. Selamat Natal 2015 dan Tahun Baru 2016.