Berita Bethel
Penulis: Pram (06/01/2016)

Ketum BPH : Prinsip Menabur Untuk Menuai


“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”(Galatia 6:9). Perikop dalam Galatia 6:7-10 adalah salah satu kebenaran kekal yang paling jelas dalam Alkitab. Ini merupakan kebenaran universal yang mengatur, baik hal fisik maupun rohani.



“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.



Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”



Setiap petani tahu prinsip ini. Ia tahu bahwa jika ia menabur jagung, ia akan menuai jagung. Jika ia menabur semangka, ia akan menuai semangka. Jika petani menanam jeruk, ia tidak akan mengharapkan untuk menuai lemon – karena dunia fisik diatur oleh hukum menabur dan menuai.



Ilmu pengetahuan menyebut hukum ini hukum sebab-akibat. Setiap ilmuwan tahu bahwa untuk setiap akibat pasti ada penyebabnya. Ahli nutrisi tahu bahwa jika Anda makan makanan yang mengandung lemak dan karbohidrat yang tinggi, Anda akan menuai kelebihan berat badan. Kekasih Anda tahu bahwa jika Anda menabur benih kebaikan, Anda akan menuai respon kebaikan pula.



Langkah kita menuju kedewasaan iman menuntut kita memahami kebenaran ini dan membuat pilihan yang tepat setiap yaitu menabur dalam Roh, dan bukan dalam daging.Ketika Paulus berkata,”…Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.



” Prinsip umum yang sama diajarkan di seluruh Alkitab. Ayub berkata, “Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga.” (Ayub 4:8). Raja Salomo berkata dalam Pengkhotbah 3:2, ”…ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam”.



Tuhan Yesus berkata, “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.” (Matius 7:16-17).



Prinsipnya sudah jelas, “kita menuai apa yang kita tabur,” dan “kita menuai apa yang kita tanam”.Ada 3 bagian dalam prinsip ini : 1.Seseorang tak akan menuai jika dia tidak menabur. Pencuri akan dirampok, penipu akan ditipu, orang yang curang akan dicurangi, dan orang yang suka memberi akan diberi. Ini prinsip menabur dan menuai sejenisnya.



Dan apa yang kita tabur pada masa muda akan kita tuai pada saat tua. Dan apa yang kita tabur pada waktunya akan kita tuai dalam kekekalan. Apakah Anda ingat cerita tentang Yakub dalam Kejadian 27-29? Yakub menipu ayahnya Ishak. Ia memakai kulit kambing berbulu dan berpura-pura menjadi kakaknya Esau. Yakub ingin merebut berkat hak anak sulung milik Esau.



Jadi, ia menipu ayahnya yang sudah rabun tua. Setelah berhasil menipu ayahnya, ia melarikan diri kepada pamannya, Laban. Yakub berpikir bahwa ia sudah terlepas. Ia berpikir ia sudah bebas dan bersih dari dosa penipuan. Kemudian ia jatuh cinta pada anak bungsu Laban yang cantik bernama Rahel. Untuk menikah dengan Rahel, Laban meminta Yakub untuk berkerja selama 7 tahun bagi dia.



Pada hari pernikahan setelah upacara pernikahan selesai dan komitmen dibuat, Yakub membuka tudung mempelainya. Dan di balik tudung adalah kakak Rahel bernama Lea. Si penipu telah tertipu. Saya yakin pada saat bulan madu Yakub menyadari : “Anda menuai apa yang Anda tabur.” Anda tidak menuai sesuatu yang berbeda tetapi Anda menuai sesuai jenisnya. Anda menuai mirip yang Anda tabur.



2.Setiap orang akan menuai apa yang mereka tabur. Seseorang suatu kali berkata, “Apa yang kita tabur pada masa muda, akan kita tuai pada saat tua. Dan apa yang kita tabur pada waktunya, akan kita tuai dalam kekekalan.” Kita mungkin tidak selalu menuai dengan cepat tetapi kita akan selalu menuai. Petani tahu ada waktu untuk menanam dan ada waktu untuk memetik – masing-masing terjadi pada waktu yang berbeda.



Allah selalu menyelesaikan perhitungan-Nya. Hari pembalasan kan datang suatu hari kelak dan setiap orang akan menuai sesuai kerangka waktu Allah. Salah satu pemikir terbesar di dunia telah mengingatkan kita, “Taburlah pikiran maka Anda akan menuai tindakan, taburlah tindakan maka Anda akan menuai kebiasaan, taburlah kebiasaan maka akan menuai karakter, dan taburlah karakter maka Anda akan menuai masa depan.”



3.Agar menuai yang baik maka harus menabur di ladang yang baik.Karena kita semua menuai apa yang kita tabur, kita sangat perlu untuk menabur di ladang yang benar. Dan kita sebagai umat Tuhan hanya punya 2 ladang di mana kita bisa menabur.



Yang pertama yaitu ladang kedagingan. “Sebab barangsiap menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya.” (Galatia 6:8). Daging merujuk pada pola hidup lama kita yang berdosa, pada kebiasaan hidup lama dan cara berpikir serta bertindak yang lama. Ini adalah prinsip hidup yang jahat yang sudah berurat akar yang bertentangan dengan Allah.



Ini adalah bagian diri kita yang menginginkan cara kita sendiri dan ingin melakukan kehendak diri sendiri. Daging adalah tempat tinggal dosa yang masih ada dalam kehidupan orang percaya. Ini adalah hawa nafsu yang menjadi bagian diri anda yang terus-menerus menarik Anda untuk berbuat dosa.



Menabur dalam daging berarti mengijinkan pikiran kita menaruh dendam, menolak untuk mengampuni, memikirkan hal-hal kotor, atau mengasihani diri sendiri, kita menabur dalam daging. Demikian juga keadaannya bila kita berusaha mengontrol situasi atau seseorang dengan memanipulasi rasa bersalah, penolakan, atau seks.



Setiap kali kita berusaha melarikan diri dari kenyataan melalui narkoba dan alkohol, atau kita menyangkal realitas dengan harapan hal itu akan menyingkir begitu saja, atau menyangkal segala sesuatu yang memang salah, kita sedang menabur dalam daging.



Setiap kali kita mengembangkan sikap kritis, menganggap orang lain bodoh, berprasangka atau mengeluh, kita menabur dalam daging. Setiap kali kita melepaskan kemarahan dengan bersikap kasar, dengan kata-kata kita, kita menabur dalam daging.



Setiap kali kita melawan otoritas, bersikap tidak kooperatif, tidak mau diajar, dan suka berdebat, kita menabur dalam daging. Setiap kali kita tidak memiliki belas kasihan, tidak murah hati, dan tidak mau mengerti, kita menabur dalam daging.Ketika kita menabur dalam daging, kita akan menuai “kehancuran”.



Kata ini berarti “membusuk”, dan itulah yang kita lakukan jika kita secara moral dan rohani membusuk. Kita berubah dari hidup menjadi mati. Itulah sebabnya jika seorang umat percaya merangkul pola hidup kedagingan, mereka beralih dari baik menjadi buruk dan dari buruk menjadi buruk sekali, di mana pembusukan mulai berjalan, dan ia mulai mati.



Akhirnya kita tidak pantas digunakan dalam Kerajaan Allah. Itulah sebabnya Rasul Paulus berkata, “…barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah” (Galatia 5:21). Jika kita menabur dalam daging, kita akan menuai kerusakan oleh daging. Hosea 8:7 berkata, “Sebab mereka menabur angin, maka mereka akan menuai puting beliung…” Yakobus 1:15 : “Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.”



Namun ada ladang kedua tempat kita di mana kita bisa menabur. Galatia 6:8b : “…tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” Menabur dalam Roh itu sama dengan “berjalan dalam Roh” (Galatia 5:16-21) dan “menetapkan pikiranmu dalam Roh” (Roma 8:6).



Yang Kedua ialah Menabur dalam Roh berarti mencari Allah dan menetapkan pikiran Anda pada hal-hal yang dari Allah. Itulah yang dikatakan Rasul Paulus dalam Kolose 3:1-2, “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.



Setiap kali kita mengampuni orang-orang yang menyesal, menolak pikiran-pikiran yang kotor, mengatasi sikap mengasihani diri sendiri, meninggalkan perbuatan jahat, mempraktekkan pengendalian diri, kita menabur dalam Roh. Setiap kali kita memilih untuk melakukan hal yang baik dan benar, melakukan apa yang kita tahu menyenangkan hati Tuhan, kita menabur dalam Roh.



Jika kita membuat pilihan setiap hari untuk menabur dalam Roh, kita akan menuai “hidup kekal”. Kata ini merujuk pada kualitas maupun kuantitas hidup. Jika kita menabur dalam Roh, kita akan menuai buah Roh dan hidup kita akan ditandai dengan, “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Galatia 5:22-23).



Dalam ladang mana Anda menabur? .Jika Anda menabur dalam daging, Anda akan menuai kehancuran. Tetapi jika Anda menabur dalam Roh, Anda akan menuai hidup kekal. Karena setiap kita akan menuai apa yang kita tabur, maka Rasul Paulus menasehati kita dan mendorong kita untuk menabur dalam Roh, mendorong kita untuk tidak menjadi lelah dalam berbuat baik dan tidak pernah menyerah – seperti umat-umat Tuhan yang berada di Jemaat Makedonia yang telah menjadi teladan sebagai penatalayan yang rajin berbuat baik, selalu sedia dengan senang hati memberi bagi kepentingan pelayanan pekerjaan Tuhan,- karena Anda akhirnya akan menuai.



Apakah Anda sudah berdoa untuk keselamatan orang-orang yang Anda kasihi dan mereka masih mengeraskan hati? Jangan menyerah. Apakah Anda sudah bersaksi kepada rekan sekerja dan mereka masih belum membuat keputusan? Jangan berhenti bersaksi.



Apakah Anda telah mengajak orang tua Anda ke gereja tapi mereka masih belum mau datang? Jangan jemu karena Anda akan menuai pada waktunya. Frase “pada waktunya” merujuk pada “waktu Tuhan”. Pada waktunya Anda akan menuai. Jadi, jangan menyerah, tetaplah menabur dalam Roh.



Seorang Skotlandia terkesiap hatinya melihat seorang anak laki-laki yang terjatuh dan terperangkap dalam pasir apung yang berbahaya. Anak itu sangat ketakutan dan berteriak-teriak minta tolong karena semakin bergerak, ia semakin tersedot ke dalam lumpur pasir tersebut.



Orang Skotlandia itu cepat bergerak untuk menolong anak yang malang itu walau beresiko bisa kehilangan nyawanya sendiri. Dengan susah payah ia berjuang menyelamatkan anak yang nampak pucat pasi itu dari kematian yang mengancam, dan akhirnya ia berhasil mengeluarkan anak itu dari lumpur pasir itu.



Kemudian badan anak itupun dibersihkan dan anak itu diberinya minum. Lalu anak itu diantarnya pulang ke rumah orang tuanya yang ternyata seorang yang cukup kaya. Betapa berterima kasih ayah anak itu dan ia ingin melakukan sesuatu yang patut untuk orang Skotlandia yang telah berjasa menyelamatkan nyawa anaknya.



Namun orang itu menolak. Ayah anak itu kemudian berkata, ”Jikalau saya tidak dapat memberimu sesuatu hadiah, bolehkah saya melakukan sesuatu untuk keluargamu?” Akhirnya orang Skotlandia itu setuju bahwa ayah anak yang cukup kaya itu bisa membantu membiayai anaknya kuliah, di mana anak orang Skotlandia itu masuk fakultas kedokteran di kampus terbaik dan akhirnya lulus menjadi seorang dokter.



Anak orang Skotlandia itu bernama dr. Alexander Flemming, yang kemudian dikenal karena berjasa menemukan Penisilin.Sedangkan anak orang kaya tersebut suatu ketika dewasa terluka saat terjadi perang, menderita sakit dan hampir mati.



Akhirnya obat baru Penisilin diantar oleh dokter Alexander Flemming kepadanya. Obat itu diminumnya sehingga kondisinya segera membaik dan berangsur menjadi sembuh. Orang muda anak orang kaya yang telah disembuhkan dengan obat Penisilin itu adalah Winston Churchill, yang kelak menjadi Perdana Menteri Inggris.



Betapa indahnya bilamana umat-umat Tuhan dapat menikmati berkat kebahagiaan dalam memberi. Kiranya setiap kita menabur dalam Roh, akan dapat menikmati segala berkat Allah yang melimpah dan berkat kebahagiaan melalui memberi.[Pdt. Dr. Japarlin Marbun, Ketua Umum BPH GBI/Foto: Istimewa].