Berita Bethel
Penulis: Pram (20/01/2016)
Pasar Properti Diprediksi Tumbuh


Direktur Layanan Perkantoran PT Colliers International Bagus Adikusumo mengatakan industri properti sepanjang 2011 hingga 2014 menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa. Akan tetapi, situasi perekonomian 2015 yang menurun drastis menyebabkan terjadinya kelebihan suplai di pasar.



Oleh karena itu, meskipun terjadi peningkatan permintaan tahun ini, masih sulit diprediksi hal tersebut dapat mengimbangi kelebihan pasokan di pasar. “Kenaikan permintaan di kuartal pertama 2016 paling tidak bisa membantu rental yang sekarang menurun dan membantu terhadap koreksi harga jual properti,” katanya.



Sementara itu, Direktur Utama PT Ciputra Surya Tbk, Harun Hajadi optimistis tahun ini lebih baik dibandingkan 2015. “Jadi kalau rekap sedikit 2013 adalah tahun yang masih baik, lalu 2014 itu paling parah, kira-kira turun sampai 40%. Nah, kalau 2015 turun 20%, saya bisa prediksi tahun ini tumbuh 20%,” katanya.



Harun menambahkan ada beberapa faktor yang mendukung optimisme pertumbuhan pasar properti tahun ini. Pertama, suku bunga yang diprediksi tidak naik karena inflasi masih rendah di bawah 4%. Seharusnya tidak ada tekanan untuk menaikkan suku bunga.



Kedua, diberlakukannya peraturan Bank Indonesia (PBI) No.17/21/PBI/2015 tanggal 26 November 2015 tentang Giro Wajib Minimum (GWM) Bank Umum Dalam Rupiah Dan Valuta Asing Bagi Bank Umum Konvensional. Dengan aturan ini, likuiditas pasar akan bertambah karena provisi bank lebih kecil untuk memberi kredit.



Ketiga, adanya rencana implementasi beleid pengampunan pajak alias tax amnesty dan realisasi belanja pemerintah.Terakhir, loan to value (LTV) yang dinaikkan dari 70% menjadi 80%.



“Masa dengan berbagai paket kebijakan dari pemerintah tersebut enggak bisa mendongkrak menggenjot pertumbuhan ekonomi dan juga properti,” kata Harun.



Senada dengannya, Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi PT Intiland Development Tbk Archied Noto Pradono mengatakan pasar properti pada tahun ini dapat tumbuh 15%--20%. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai kebijakan pemerintah, termasuk penurunan harga BBM yang akan meningkatkan daya beli masyarakat.



Direktur Utama Pengembang Bisnis dan SDM PT Utama Karya, Putut Ariwibowo mengatakan tumbuh tidaknya pasar properti pada tahun ini sangat dipengaruhi oleh ketepatan pengembang memilih segmen.



“Pengembang harus cerdas menyasar segmen yang ramai pada tahun ini yakni menengah ke bawah,” ujar Putut. Tak hanya itu, pembangunan infrastruktur yang sedang digencarkan pemerintah juga turut memengaruhi pertumbuhan pasar properti.



Wilayah penyangga Jakarta dinilai masih menjadi incaran para pengembang. “Pada 2016 ini pemulihan lah, tahun selanjutnya merangkak naik dan 2018 sepertinya menjadi tahun paling bahagia untuk pasar properti.” [Sumber : www.bisnis.com/Foto : Ilustrasi].