Berita Bethel
Penulis: Pram (09/02/2016)
Diklat Bagi Pejabat GBI


Upaya memberdayakan pejabat di GBI (pdp, pdm, pdt) adalah hal yang sangat urgen diperhatikan mengingat latarbelakang pejabat yang melayani di gereja lokal sangat beragam.



Mayoritas pejabat di GBI tidak mengecap pendidikan teologi yang menunjang kapasitas dan kemampuan melayani, tentu hal ini hubungannya dengan perspektif teologis dalam tugas-tugas pelayanan seperti pelayanan mimbar, konseling, dan lain-lain.



Menuju GBI Mantap salah satu upaya yang dilakukan dalam periode ini inilah mengenjot pemberdayaan (up grade) para pejabat melalui pendidikan dan latihan, baik yang sifatnya diklat penjenjangan pejabat, maupun pembinaan dan pembekalan yang dilakukan di level daerah dan wilayah masing-masing.



BPH GBI setiap tahunnya secara khusus periode 2014-2018 telah mendesain pokok-pokok materi pembinaan yang akan disajikan kepada para pejabat. Diharapkan bahwa hal ini akan mampu melengkapi setiap pejabat dan juga mumpuni dalam pelayanan.



Pelatihan dan pendididikan sebagai upaya peningkatan kualitas dan mutu pelayanan, merupakan hal yang tidak bisa ditunda-tunda. Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi terkini menuntut para pejabat di GBI (pdp,pdm,pdt) menaruh hati dan juga perhatian yang penuh bagaimana mengembangkan pelayanan yang “connect” (terhubung) dengan kebutuhan jemaat.



Itulah sebabnya sebagai pemimin para pejabat di gereja lokal, Perwil dan Daerah, harus peka dengan kebutuhan lapangan. Kita tidak lagi pada posisi yang penting pelayanan berjalan baik atau gereja dengan programnya berjalan semuanya, namun harus ada sebuah upaya bagaimana meningkatkan kinerja yang makin akurat demi pencapaian pelayanan yang berdampak.



Dalam tahun 2014-2018 strategi dan pelaksanaan pendidikan dan latihan dirancang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dalam periode ini diklat dibedakan atas tiga kategori yakni pertama, diklat penjenjangan pejabat. Diklat ini dilakuan kepada calon-calon pejabat pdp dan pdm.



Isi dan muatan diklatnya 20 sesi tiap jenjang yang di dalamnya berisi 30% pengetahuan teologi, 30% pengetahuan organisasi dan 40% menyajikan pelayanan praktis. Diklat ini akan diselenggarakan pada tahun 2017 dan pengangkatan pejabat tahun 2018.



Kedua, diklat Gembala. Diklat ini khusus didesain bagi pejabat-pejabat yang sudah mengembalakan, diklat ini dilaksanakan terpusat di Jakarta dengen mengetengahkan materi-materi yang dibutuhkan seorang gembala dalam pelayanan pastoral.



Materi dalam diklat ini didesain selama 10 hari dengan jumlah sesi 38-40 sesi. Peserta diklah pada kategori ini bukan hanya menerima teori melainkan praktek sesuai dengan topik-topik yang disajaikan. Ketiga, pembinaan pejabat melalui sidang-sidang Majelis Daerah.



Untuk tahun 2016 materi pembinaan pejabat melalui MD-MD berpusat pada pembaharuan penuai, hal ini didorong oleh semangat ilahi bahwa saatnya gereja-gereja melalui para pejabat menuai jiwa-jiwa.



Pembinaan dalam tahun ini memiliki 4 topik antara lain pembaharuan penuai, tata gereja, spiritualitas hamba Tuhan dan integritas hamba Tuhan. Diharapkan materi ini mampu meningkatkan kemampuan para hamba-hamba Tuhan dalam melayani jemaat-jemaat.



Upaya lain meningkatkan kualitas dan kemampuan pejabat GBI dapat dilaksanakan dengan mengembangkan pendidikan pejabat yang berkolaborasi dengan lembaga pendidikan di lingkungan GBI, misalnya setiap daerah di Indonesia (Badan Pekerja Daerah) dapat mengadakan perjanjian kerja sama dalam hal ini dengan STT milik Sinode GBI.



Dengan cara ini para pejabat akan dapat meningkatkan kualitas pelayanan.Meningkatkan kualitas pejabat GBI di seluruh Indonesia bukanlah pekerjaan instan, karena itu perlu dipikirkan dan dibuat strategi yang “akurat” sehingga dalam kurun waktu tertentu semua pejabat mendapatkan pendidikan dan latihan yang terstandart dan mampu meningkatkan kinerja pelayanan.



Implementasi di lapangan khususnya di daerah-daerah yang memiliki kekhususan dapat merancang muatan lokal (sesuai kebutuhan daerah).



Pendidikan dan latihan diharapkan mampu menolong pengembangan para pejabat (bukan saja hanya konsep dan pemahaman) tetapi juga aspek skill dan kompetensi dalam pelayanan.



Para pejabat harus sadar bahwa zaman semakin canggih, maka tidak ada pilihan lain selain “mengembangkan diri”. Change or die, mungkin kalimat ini menjadi kata penutup dalam tulisan ini, yang mendorong para pejabat merenungkan urgensi pendidikan dan latihan.[Pdt. Dr. Purim Marbun].