Berita Bethel
Penulis: Pram (13/02/2016)
Bolehkah Orang Kristen Merayakan Valentine’s Day?


Tanggal 14 Februari adalah sebuah tanggal yang diperingati sebagai Hari Kasih Sayang atau Valentine’s Day. Tanggal 14 Februari merupakan salah satu tanggal yang telah dikenal oleh sebagian besar orang di seluruh dunia, baik di negara-negara Barat maupun di negara-negara Timur, termasuk di Indonesia.



Menurut Wikipedia Indonesia, tanggal yang paling terkenal di seluruh dunia adalah tanggal 25 Desember, yaitu hari Natal atau hari Kelahiran Yesus Kristus. Setelah tanggal 25 Desember, tanggal 14 Februari berada di peringkat kedua, di mana semua orang di seluruh dunia turut merayakan Hari Kasih Sayang ini.



The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan Amerika Serikat) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu milyar kartu Valentine dikirimkan per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa tanggal 14 Februari merupakan tanggal yang dirayakan dan dinanti-nantikan oleh banyak orang.



Pertanyaan yang muncul di benak kita sekarang adalah, bolehkah orang Kristen merayakan Valentine’s Day (Hari Kasih Sayang) ?. Apakah alkitabiah untuk merayakan Valentine’s Day ?.



Artikel ini disusun dengan tujuan untuk memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Dan untuk menjawabnya, kita perlu memahami asal-usul Valentine’s Day.



Asal-Usul Valentine’s Day. Valentine’s Day dipopulerkan oleh orang-orang dari negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat dan Inggris. Khusus di Amerika Serikat, kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847.



Setelah itu peringatan Valentine’s Day terus merebak ke negara-negara lain, termasuk ke negara-negara Timur, berkat banyaknya film-film Hollywood yang mengusung cerita tentang percintaan yang dihubungkan dengan Valentine’s Day.



Apabila melihat kata “Valentine’s Day,” maka kata ini dapat diterjemahkan secara harafiah sebagai “Hari Valentine” atau “Hari Valentinus.” Menurut Ensiklopedi Katolik, Valentinus merujuk kepada tiga tokoh, yaitu seorang pastur di Roma, seorang uskup Interamna (modern Terni), dan seorang martir di provinsi Romawi Africa.



Tetapi ketiga tokoh ini tidak memiliki hubungan dengan tanggal 14 Februari. Walaupun demikian, pada tahun 496, Paus Gelasius I menetapkan tanggal 14 Februari sebagai “Hari Santo Valentinus.”



Lalu timbul pertanyaan dalam benak kita, “Bagaimana hari Raya Santo Valentinus ini bisa menjadi sebuah hari untuk memperingati Hari Kasih Sayang?”. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat sebuah karya sastra dari seorang sastrawan Inggris abad ke-14 yang bernama Geoffrey Chaucer.



Di dalam karyanya, Geoffrey Chaucer menyatakan bahwa pada tanggal 14 Februari adalah hari di mana burung-burung akan mencari pasangan untuk kawin.Di zaman itu juga ada sebuah kebiasaan di mana pada tanggal 14 Februari orang-orang akan memanggil pasangan mereka “Valentine.”



Kemudian pada abad itu banyak bermunculan legenda-legenda mengenai Santo Valentinus, antara lain mengatakan bahwa tanggal 14 Februari merupakan tanggal di mana Santo Valentinus mati sebagai martir dan pada saat sebelum kematiannya, ia menuliskan surat cinta kecil kepada sipir penjaranya dengan salam “Dari Valentinusmu.”



Legenda lainnya juga mengatakan bahwa tanggal 14 Februari adalah tanggal di mana Santo Valentinus secara rahasia menikahkan seorang serdadu Romawi yang dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II.



Di antara sekian banyak cerita-cerita atau legenda-legenda tentang hari Santo Valentinus ini, garis besar dari semua kisahnya adalah bercerita tentang kematian seorang martir.



Selanjutnya pada tahun 1969, hari raya Santo Valentinus dihapus dari kalender gerejawi karena perayaan ini merupakan perayaan untuk memperingati tokoh yang keberadaannya tidak jelas.



Tanggapan Kristiani. Selanjutnya, sebagai orang Kristen timbul pertanyaan di dalam benak kita, “Apakah orang-orang Kristen boleh merayakan Hari Kasih Sayang pada tanggal 14 Februari, sebagaimana dirayakan oleh orang-orang di seluruh dunia?”



Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita mengingat latar belakang munculnya Valentine’s Day.Setelah memahami asal-usul Valentine’s Day atau hari Santo Valentinus, maka dapat dilihat bahwa sesungguhnya pada mulanya Valentine’s Day itu bukanlah suatu perayaan untuk memperingati Hari Kasih Sayang.



Berkat pengaruh sastra Inggris dan Amerika-lah, maka Valentine’s Day berkembang menjadi hari untuk memperingati kasih sayang.Bagi orang Kristen, merayakan Hari Kasih Sayang pada tanggal 14 Februari tidaklah dilarang dan juga bukanlah sebuah keharusan.



Boleh saja kita merayakannya supaya tidak terkesan bahwa orang Kristen gemar menolak segala sesuatu yang tidak tercatat di dalam Alkitab. Dalam koridor Valentine’s Day, kita boleh merayakan Hari Kasih Sayang pada tanggal 14 Februari dengan orang-orang yang kita kasihi, seperti orangtua, kakak dan adik, serta sanak keluarga lainnya.



Tetapi untuk memperingati Valentine’s Day ini, marilah kita semua jangan berfokus kepada harinya saja, yaitu tanggal 14 Februari, tetapi marilah kita berfokus kepada inti dari kehidupan kekristenan itu, yaitu menyebarkan kasih Kristus kepada semua orang.



Aplikasi. Untuk menyebarkan kasih Kristus kepada semua orang tidak harus jatuh pada tanggal 14 Februari saja, tetapi bisa jatuh pada hari dan tanggal kapan saja.



Alkitab mencatat pesan terakhir Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya di saat malam terakhir sebelum Ia disalibkan, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh. 13:34-35).



Dari pesan Tuhan itu dapat dilihat bahwa Ia berpesan kepada murid-murid-Nya untuk saling mengasihi. Tuhan tidak berpesan untuk saling mengasihi pada Valentine’s Day saja, tetapi setiap hari dan setiap waktu.



Kemudian murid-murid juga telah mendapat pengajaran dari Tuhan Yesus untuk mengasihi musuh. Matius 4 ayat 44 dan 45 berkata, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.”



Di sini Yesus berpesan kepada murid-murid-Nya agar mengasihi orang bukan hanya mengasihi orang-orang yang baik saja, tetapi juga harus mengasihi orang-orang yang tidak baik. Dengan kata lain, Yesus memberikan perintah kepada murid-murid-Nya untuk mengasihi semua orang tanpa ada pengecualian.



Pada perayaan Valentine’s Day, semua orang menunjukkan perasaan sayangnya kepada orang-orang yang memiliki hubungan yang khusus, dan tidak menunjukkannya kepada orang-orang lain. Melihat hal ini, bukanlah salah orang Kristen menunjukkan kasihnya kepada orang-orang tertentu, tetapi Tuhan memerintahkan kita bukan untuk melakukan itu saja.



Tuhan memerintahkan kita untuk mengasihi musuh kita dan orang-orang yang menganiaya kita. Bila kita hanya mengasihi orang-orang yang mengasihi kita, maka belum sempurnalah kasih kita kepada orang lain, karena Tuhan menuntut kita untuk mengasihi musuh kita. Oleh sebab itu, marilah kita terus menyebarkan kasih Kristus kepada semua orang tanpa pandang bulu.



Kasih yang benar adalah di mana kita bisa menunjukkannya kepada semua orang di setiap saat. Ada kalanya kasih kita ditentukan oleh perasaan hati (mood) kita saja. Bila perasaan hati kita sedang tidak baik maka kita tidak menunjukkan kasih. Paulus mengatakan kepada jemaat Galatia bahwa kasih itu merupakan bagian dari buah Roh (Gal. 5:22).



Apabila kita hidup di dalam Roh, maka kasih itu adalah suatu hal yang otomatis kita hasilkan dari diri kita kepada orang lain.Oleh sebab itu, sebagai anak-anak Tuhan, marilah kita terus menyebarkan kasih Kristus kepada semua orang, baik kepada saudara-saudara seiman, maupun kepada orang-orang lain.



Sehingga mereka semua tahu bahwa kita adalah murid-murid Tuhan. Apabila kita sudah menghasilkan kasih, maka tidaklah sulit untuk memenangkan jiwa bagi Tuhan, karena orang-orang akan diberkati oleh kasih yang kita pancarkan sehingga merekapun tertarik untuk ikut Tuhan.



Mereka tahu bahwa orang-orang Kristen adalah orang-orang yang penuh kasih. [Pdt. Yohannes Nahuway, M.Th.-DPA BPH GBI/Sumber : Wikipedia Indonesia/Foto : Istimewa].