Berita Bethel
Penulis: Pram (24/02/2016)
Plastik Ramah Lingkungan dari Limbah Sisik Ikan


Menyambut kebijakan kantong plastik berbayar yang berlaku sejak 21 Februari lalu, lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta membuat terobosan jitu.Mereka berhasil menciptakan plastik yang mudah terurai secara alami dan aman bagi lingkungan.



Kelima mahasiswa Jurusan Teknik Kimia UGM itu ialah Ivone Marselina Nugraha, Cesaria Riza Asyifa, Machlery Agung Pangestu, Palupi Hanggarani, dan Rifani Amanda.Mereka membuat plastik biodegradable dari bahan terbarukan, di antaranya sisik ikan.



Menurut mereka, bahan-bahan yang bisa digunakan untuk membuat plastik biodegradable itu senyawa yang terdapat pada hewan sepertin kitin, kasein, dan kitosan.Pada tanaman bentuknya seperti pati dan selulosa.



"Selama ini sisik ikan belum banyak dimanfaatkan, dibuang begitu saja. Padahal, dalam limbah sisik ikan terdapat kitin dan kitosan dan ini bisa menjadi bahan untuk membuat plastik," jelas Ivone baru-baru ini.



Ivone menyampaikan saat ini sebenarnya telah banyak dikembangkan plastik biodegradable dengan memanfaatkan bahan terbarukan yang berasal dari kitosan, udang, kepiting, serta pati singkong.



"Kami menggunakan kitosan dari sisik gurami dan kakap yang memungkinkan untuk digunakan sebagai plastik biodegradable dalam penelitian ini," tuturnya.Sisik gurami dan kakap yang didapat dari sejumlah rumah makan di Yogyakarta tersebut selanjutnya mereka teliti.



Limbah sisik kedua jenis ikan tersebut dibersihkan terlebih dahulu kemudian dijemur dan dilakukan pemisahan protein dari kitosan (deproteinasi).Setelah dilakukan deproteinasi, dilakukan demineralisaisi untuk memisahkan mineral dari sisik ikan sehingga diperoleh senyawa kitin.



Selanjutnya kitosan dimasukkan ke larutan asam asetat dengan tambahan gliserol.Setelah itu, dioven sehingga diperoleh plastik yang diinginkan."Hasil penelitian menunjukkan limbah sisik ikan kakap dan ikan gurami berpotensi untuk digunakan dalam pembuatan plastik," papar Ivone.



Meskipun kedua jenis sisik ikan itu berpotensi sebagai bahan plastik biodegradable, imbuh Ivone, kelak masih perlu penelitian lanjutan.Kitin dan kitosan hasil ekstraksi kedua jenis sisik ikan itu belum memenuhi standar komersial.



Plastik yang dihasilkan masih getas (mudah patah atau robek) dan berwana keruh."Kandungan abu dalam kitin masih tinggi. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengurangi kadar abu dari kitin dan kitosan ekstrak sisik ikan untuk mendapatkan plastik dengan kualitas yang lebih baik," terangnya. [Sumber : www.mediaindonesia.com].