Berita Bethel
Penulis: Pram (14/02/2015)

Pemimimpin Musti Berhati Bapa


Temu Gembala GBI se-Jakarta Timur diadakan di GBI Chick’s Music, Jakarta Timur (Jumat, 13/2). Tampil sebagai pembicara tunggal, Pdt. Dr. Pudjo Setoto Abednego (Majelis Pertimbangan BPH GBI).

Judul materi nya ialah “Memaknai Ulang Kepemimpinan Yang Berhati Bapa”.Kegiatan ini adalah agenda bulanan BPD DKI Jakarta, yang diberi istilah baru yakni Pastor Conference.

Menurut pengamatannya, semua jemaat lokal, pelayan dan pejabat GBI merindukan pemimpin yang memiliki hati Bapa. Guna mewujudkan visi umum GBI, Menjadi Seperti Kristus dan tema Sinode yaitu Menuai Bersama dalam Kasih, maka membutuhkan hal yang sama.

Ia mengutip nats I Korintus 4:15 “Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu. 4:16 Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!”.

Definisi Bapa (Abba)

Kata Bapa berasal dari bahasa Ibrani Abba, suatu panggilan mesra untuk bapa atau ayah. Dalam konteks ini ada rasa bahagia, tenteram, pengayoman. Kepemimpinan yang sejati ialah kepemimpinan yang berhati Bapa (sekitar 400-an kata dalam Alkitab PL dan PB). Nats Matius 6:9; Ibrani 1:5; Roma 4:17).

Di dunia sering ditemukan bapa yang memusuhi generasi penerusnya sehingga ia tidak mengayomi tapi memusuhi. Kegagalan menemukan figur bapa akan berakibat seseorang tidak dapat bertumbuh kearah kedewasaan (rohani).

Kepemimpinan Yesus dan Generasi Tanpa Bapa Kini.

Gaya kepemimpinan Yesus adalah berhati Bapa. Ia merekrut, melatih, mengajar, dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari-Nya. Namun, generasi saat ini bisa disebut sebagai generasi tanpa bapa, artinya kehilangan figur yang memiliki hati bapa. Kondisi berakibat fatal yaitu seolah “mewariskan” pertengkaran dan perpecahan kepada generasi muda berikutnya.

Padahal, asal muasalnya para pendiri gereja memulai visi dan misi dengan tekad dan kesatuan api Pentakosta, sehingga gereja bisa bertumbuh dan berkembang. Namun, saat ini Tuhan ingin mencurahkan hati-Nya bagi generasi yatim piatu ini (Roma 8:14-15).

Buku The New Leader karya Myron Rush, Presiden Manajemen Sistem Training menuliskan, “Kekurangan pemimpin di kalangan masyarakat Kristen telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Banyak denominasi utama yang awalnya kuat dan berkembang, saat ini mengalami penurunan jumlah anggota.

Beberapa denominasi terpaksa menutup pintu gerejanya karena kekurangan pelayan”. Yesus sudah menubuatkan hal ini seperti tertulis pada nats Matius 15:14 “Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang."

Ted.W. Eugstrom dan Edward R. Dayton mengatakan kepemimpinan Kristen dimotivasi oleh kasih, ditujukan untuk pelayanan, dikendalikan oleh Kristus dan keteladanan-Nya, tanpa pamrih, teguh hati, berani, tegas, berbelas-kasih, mencerminkan tanda kebapaan (mengayomi) seperti kehendak Tuhan.

Aplikasinya ialah memberikan dukungan kata-kata yang membangun semangat dan bukan melukai perasaan. Alkitab mencatat perpecahan bangsa Israel dipicu oleh Rehabeam minta nasehat kepada kaum muda dan mengabaikan nasehat kaum tua-tua (2 Tawarikh 10:7).

Kepemimpinan Berhati Bapa.

Ciri-ciri pemimpin berhati Bapa seperti tertulis dalam nats-nats Matius 25:14-30 dan Filipi 2:1-11 yakni memiliki pikiran dan perasaan seperti Kristus, menempatkan kehendak Tuhan diatas kehendak sendiri, menghargai orang-orang yang dipimpinnya dari pada unsur uang, peralatan, sarana-sarana lain, rela berkorban, memberikan empati (kepedulian) kepada orang-orang yang merasa rendah diri (I Korintus 12:22-23), dapat diteladani perkataan dan perbuatannya, mempunyai integritas, komitmen tinggi, setia dalam tugas, bekerja profesional dan tepat waktu, bijaksana dan mau dipimpin Roh Kudus, peduli terhadap kesejahteraan orang-orang yang dipimpinnya, rela berkorban dan mengenal domba-dombanya, memberikan pengayoman dan rasa aman bagi orang-orang yang dipimpinnya (I Petrus 5:3). Acara dilanjutkan dengan tanya-jawab.