Berita Bethel
Penulis: Pram (20/03/2016)

Hatiku Gelisah


“Mazmur Asaf. Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya,bagi mereka yang bersih hatinya” (Mazmur 73:1). Dalam kehidupan kita ada begitu banyak peristiwa yang menimbulkan pertanyaan mengapa, selalu berusaha untuk mencari jawabannya.



Pencarian ini sering menimbulkan kegelisan hati yang tak kunjung berakhir. Kegelisaan ini dialami oleh Asaf, ia diposisikan hidup diantara iman dan realita, seringkali tidak berjalan selaras, melainkan terkesan paradoks.



Ada orang yang tulus hati, hidup dalam kebenaran Tuhan namun diliputi kesesakan dan penderitaan. Sementara disisi lain, ada orang yang hidup dalam kefasikan namun hidupnya penuh kesenangan dan jauh dari kesesakan. Terkesan Tuhan menutup mata dan membiarkan hal itu terjadi.



Sulit rasanya untuk bisa menerima kenyataan, bahwa orang benar hidupnya lebih menderita ketimbang orang fasik. Hal ini akan terus menjadi pertanyaan dan menimbulkan kegelisahan hati.



Pemazmur memiliki keyakinan yang kuat bahwa Allah itu baik kepada mereka yang tulus hati/bersih hatinya (Maz. 73:1), ini merupakan satu keyakinan yang bersifat universal bagi semua orang percaya. Dengan kata lain Allah tidak akan belaku “jahat” kepada mereka yang tulus hati/bersih hatinya.



Ini menjadi keyakinan yang beredar secara umum di Perjanjian Lama yang disebut dengan “prinsip pembalasan/retribusi” orang fasik/jahat, dihukum dan akan hidup menderita dan orang benar diberkati dan akan hidup makmur (Ayb. 21:7-15; Yer.12:1-4; Pkh. 8:10-17).



Merupakan suatu kewajaran atau pantas bila orang benar itu diberkati Allah dan dijauhkan dari penderitaan. Mengukur kebaikan Allah dari sisi pemberian-Nya dalam bentuk berkat secara jasmani.



Keyakinan pemazmur mulai runtuh disebabkan ia cemburu kepada orang-orang fasik yang hidupnya tampak memancarkan kebaikan Tuhan. Orang fasik hidup dalam kemujuran (kemujuran=shalom diartikan damai sejahtera ayat 3b bnd. Yes 48:22); tidak ada sakit penyakit yang menimpa mereka dengan kata lain diberikan tubuh yang sehat (ay. 4); hidup tanpa penderitaan dan tanpa tulah (ay. 5), dijauhkan dari kesulitan hidup.



Mereka merasakan kenyaman hidup dan mendapatkan hal-hal yang baik yang biasanya hanya diberikan Allah pada orang benar. Bagi Asaf ini merupakan bentuk ketidakadilan Allah, Allah dianggap salah dalam memberikan kebaikanNya. Pemazmur merasa hidupnya tidak sebaik orang fasik (ay. 14) dan merasa sia-sia memper tahankan keyakinannya (ay. 13).



Di tengah-tengah situasi seperti ini, pemazmur akhirnya mendapatkan jawaban dari kegelisan hatinya.Pelajaran berharga yang diberikan Allah kepadanya menjadi jawaban kegelisahan hatinya. Allah mengajarkan bahwa yang paling penting dimiliki itu adalah Allah dan bukan pemberian-Nya.



Kebaikan Allah tidak diukur dari sekedar apa yang diberikan-Nya melainkan Allah tetap baik bagi orang benar, karena Allah telah berkenan untuk ”dimiliki” oleh mereka. Sekarang bagi Asaf Allah adalah yang paling penting (ay. 25).



Dengan paradigma berpikir seperti ini Asaf bahkan berani mengungkapkan bahwa sekalipun dia tidak memiliki apapun dalam hidupnya (ay. 26a), cukup baginya tetaplah Allah selama-lamanya (ay. 26b).



Jadi, Asaf mengatakan di akhir pergumulannya, “Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan Allah, supaya dapat menceriterakan segala pekerjaan-Nya.” (ay. 28) Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya.



Sekarang pemazmur mengerti apa yang benar-benar baik yaitu dekat dengan Tuhan. [Sumber : R.A.B - Pdt. Muryati Setianto, Th.M/Foto : Istimewa].



Memiliki Allah akan menjauhi kegelisaan hati kita