Berita Bethel
Penulis: Pram (30/03/2016)

Pembentukan Karakter : Tugas Hamba Tuhan


Upaya membentuk karakter bukanlah tugas yang sederhana, juga tidak bisa dilimpahkan hanya kepada orang-orang tertentu melainkan tugas semua manusia (setiap pribadi bertanggung jawab) akan hal ini.



Meskipun kita dapat menyebutkan bahwa salah satu tanggung jawab hamba Tuhan dalam pembentukan karakter jemaat-jemaat Tuhan adalah hal yang sangat penting. Tidak bisa ditawar-tawar akan tugas ini, semua mereka yang berlabel hamba Tuhan, apakah pendeta atau bukan pendeta, bertanggung jawab untuk misi yang mulia ini.



Pendidikan kadang-kadang dimaknai sebagai sarana pembentukan karakter, hal ini bisa demikian. Namun tidak semua orang setuju akan hal ini, karena melihat dan mempertimbangkan hasil pendidikan masa kini.



Salah satu tokoh yang menkritisi akan hal ini Craig R Dykstra mengatakan bahwa pembentukan karakter melalui pendidikant tidak boleh hanya bersifat kognitif, ia mengedepankan pendekatan moral dan watak, menurutnya salah satu alat yang ampuh dalam membentuk hal ini ialah peran imajinasi dan wahyu Allah yang sanggup membawa seseorang kepada pembentukan karakter.



Menurutnya manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Imagodei) memiliki potensi yang bensar untuk memahami komunikasi Allah melalui Firman. Manusia dengan roh Allah dapay mengalami transformasi moral, sikap dan perilaku.



Untuk hal yang realistis dan real maka usul Craig Dykstra, agar setiap jemaat-jemaat dapat mengalami pembentukan karakter, paling tidak melakukan tiga hal yang prinsip. Pertama, pertobatan. Dykstra memahami ada banyak teks-teks Alkitab yang berbicara tentang pertobatan, seseorang berpaling kepada Allah dan percaya kepada Yesus sehingga menerima anugerahNya (Markus 1:15; Lukas 13:3,5; Kisah 26:20; Roma 2:4).



Ketika jemaat-jemaat bertobat maka mereka menyadari keberdosaan di hadapan Tuhan, lalu memberi respons kepada anugerah dan kasihNya, sehingga dengan demikian membawa mereka kepada perubahan kehidupan.



Pertobatan pada dasarnya tidak boleh dipisahkan dari pembentukan karakter yang menyenangkan manusia. Kita dapat menyebutkan bahwa tanpa adanya pertobatan maka tidak mungkin ada perubahan perilaku dan pembentukan karakter.



Kedua, doa. Doa merupakan tindakan membuka hati kepada anugerah Tuhan, anugerah itu salah satunya ialah pengampunan dosa. Dalam kegiatan doa ada dua hal yang harus terjadi yakni pertama kita berseru kepada Tuhan akan apa yang hendak kita butuhkan dan perlukan; namun yang kedua jangan dilupakan mendengarkan atau merespon kehendak dan rencana Tuhan.



Bila dua hal ini terjadi atas kita, maka sangat dimungkinkan akan mengalami pembentukan karakter. Kekuatan doa bagi kita orang-orang pentakosta sangatlah besar, kita masih meyakini sampai sekarang bahwa doa yang kita panjatkan dengan iman akan berdampak pada perubahan dan pembentukan karakter yang semakin baik.



Dykstra menjelaskan bahwa doa adalah wadah dimana kita memalingkan diri dari dunia ini dan membawa diri dekat kepada Tuhan. Latihan dan kebiasaan berdoa akan membentuk hal-hal baik dalam diri kita.



Ketiga, pelayanan. Inti dari pelayanan kita adalah kehadiran diri kita bersama-sama dengan orang lain dimana kita akan menjadi berkat bagi mereka. Kebiasaan melayani dengan motivasi yang benar akan membantu kita bertumbuh dalam karakter baik seperti kita akan peduli dengan orang lain, turut bergumul dengan penderitaan sesama, dan juga memberikan diri dipakai oleh Tuhan.



Keterlibatan dalam pelayanan memang tidak bisa disangkal akan menolong pertumbuhan karakter jemaat Tuhan, meskipun tidak bisa disebutkan bahwa semua yang melayani pasti berkembang karakternya. Pilihan merespon anugerah Tuhan dan memberi diri dipakaiNya akan menolong semua kita belajar menundukkan diri kepadaNya.



Tiga komponen di atas pada dasarnya adalah bagian yang dapat dilaksanakan di gereja dan jemaat-jemaat. Ketiga hal ini juga tidak boleh dilepaskan dari faktor lain yakni ibadah dan pemuridan. Untuk tugas ibadah dan pemuridan, hal ini akan menjadi titik tolak yang dikerjakan oleh hamba-hamba Tuhan, dalam rangka membentuk karakter jemaat-jemaat.



Melalui para hamba-hamba Tuhan, maka kegiatan peribadahan dan pemuridan akan menjadi efektif jika direncanakan dengan baik dan juga disusun dalam koridor pembentukan karakter.



Di jemaat lokal para hamba Tuhan (secara khusus gembala atau pimpinan jemaat) bertanggung jawab atas tugas pembinaan karakter. Apa yang mereka perbuat? Dalam program pembinaan jemaat melalui pemuridan maka pembentukan karakter juga dilaksanakan.



Pada dimensi lain para hamba Tuhan juga dapat mengerjakan pembentukan karakter melalui tugas-tugas pastoral misalnya melalui pelayanan konseling dan doa. Upaya ini harus dikerjakan dengan seksama dan terencana sehingga hasil dan target perubahan karakter itu tercapai.



Tugas pembentukan karakter di tengah-tengah jemaat memang tidak mungkin dipisahkan dari panggilan para hamba-hamba Tuhan, namun hal yang mendasar harus diingat ialah bahwa kita tidak boleh hanya berfokus pada usaha dan upaya manusia belaka, semestinya yang utama kita kedepankan ialah peran dan kuasa Roh Kudus yang sanggup membaharui dan memperbaiki serta memulihkan setiap umatNya. [Penulis : Pdt. Dr. Purim Marbun, MTh].