Berita Bethel
Penulis: Pram (17/02/2015)

Membangun Mezbah, Mematikan "Daging"


GBI Macquarie Park, NSW, Australia dengan gembala Ps. Jonathan Darma mengadakan Konferensi dengan tema Strategic Prayer and Healing (7-8/2). Redaksi mempublikasikan ringkasan Konferensi tersebut. Tuhan memberkati Abraham, Ishak dan Yakub (Israel), sebab Ia melihat gaya hidup mereka bisa memikat hati Tuhan. Sehingga mereka diberkati Tuhan.

Hal yang sama bisa terjadi bagi kita sebagai orang percaya, seperti tertulis pada nats Kejadian 12:7-9 "Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu." Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. 12:8 Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel.

Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN. 12:9 Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb".

Makna korban di Mezbah Tuhan dalam konteks saat ini adalah mematikan kedagingan dan kita harus berani untuk menyangkal diri, memikul salib. Artinya, hal-hal yang tidak disukai Tuhan Yesus dalam kehidupan ini, haruslah diletakkan di atas Mezbah (dibuang/ditinggalkan,Red). Asap Mezbah tersebut harus naik ke hadirat Tuhan, sebab jika tidak maka korban itu akan menjadi api asing. Demikian halnya jika doa tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka doa itu hanya akan menjadi sebuah kegiatan (rutinitas) belaka.

Orang percaya yang suka membangun Mezbah itu adalah orang yang memiliki kekhususan dihadapan Tuhan, sebab ia menyerahkan tubuhnya sebagai persembahan yang hidup (Roma 12:1-2). Sebaliknya, jika ia mengalami kegagalan dalam hal Mezbah (doa), maka ia akan mengalami kelabilan jiwa.

Kejadian 17:1-8 menuliskan berkat yaitu Allah berjanji untuk memberkati Abraham : "Aku akan.......", dapat dijumpai sebanyak delapan kali. Kejadian 22:6-14 menyebutkan ketaatan Ishak ketika Abraham mengajaknya pergi ke suatu lokasi. Aplikasi dalam kehidupan ini ialah sebagai orang percaya, kita harus berjalan beriringan dan seirama dengan Kristus.

Meskipun belum ada jawaban doa yang terkabulkan, walau harus melalui kesulitan-kesulitan seolah berjalan menuju ke "ladang pembantaian". Sama seperti Ishak yang tidak jadi menjadi korban buat Tuhan, sebab Ia sudah mengganti dan mempersiapkan korban itu berupa seekor domba, kita juga akan diloloskan dari ladang itu. Untuk menjadi seorang ahli waris Kerajaan Allah, maka seseorang harus rela berkorban, mematikan keinginan daging.

Yesus Kristus juga melakukan hal yang sama yakni ketika Ia mati disalibkan di Bukit Golgota (Bukit Tengkorak). Kebangkitan Yesus diawali dengan kematian-Nya di kayu salib. Orang percaya akan mengalami kebangkitan (hidup baru), menanggalkan hidup lama, setelah ia mau "mematikan" keinginan daging. Setelah itu, ia bisa bertemu dengan Yesus Kristus secara pribadi, salah satunya melalui kehidupan doa.

Tahap selanjutnya, kehidupan orang itu akan mengalami perubahan ke arah yang baik. Hal-hal yang menjadi "musuh" terbesar untuk mengalami perubahan gaya hidup itu adalah diri sendiri yang suka berdiam di zona nyaman. Ishak tidak letih berjalan bersama Abraham, artinya ia sudah terlatih, terbiasa, tidak mengeluh, walau menanggung beban berat.

Keterangan Foto : Kiri bawah : Ps. Jonathan Darma, Ev.Marijana Clark dan Ev. Steve Clark. Kanan bawah : Mendoakan orang sakit.