Berita Bethel
Penulis: Pram (28/04/2016)
Apa Penyebab LGBT ?


Banyak orang masih bertanya-tanya, mengapa ada seorang secara fisik adalah laki-laki, namun berperilaku, berjalan dan lain-lain [mirip] seperti seorang perempuan. Demikian pula bisa terjadi yang sebaliknya. Kondisi ini termasuk cara berjalan, berpakaian, merias diri dan lain-lain.



Ketua Pembinaan Keluarga BPH GBI [Pdt. Dr. dr. Dwidjo Saputro, SpKJ) menyampaikan perihal penyebab LGBT. Menurutnya, gereja dan keluarga saling mendukung. Tujuannya, bersama-sama menumbuhkan iman dalam kehidupan.



Apakah LGBT dan Transgender itu ?. Sederet pertanyaan yang bisa dilontarkan masyakarat antara lain apakah dia kena penyakit ? atau penyimpangan illegal ? atau dosa? atau gaya hidup akhir zaman?. LGBT secara fisik laki-laki namun dia selalu berpikir dirinya adalah seorang perempuan.



"Apakah dengan kondisi ini, seseorang LGBT musti di-bully, dikucilkan, tidak boleh ibadah ?. Jadi bulan-bulanan. Dia lahir tidak ingin jadi seperti itu", ujar Pdt. Dwidjo. Selanjutnya, ia menegaskan LGBT bukan suatu penyakit. Namun LGBT adalah T [Transgender] atau dysphoria.



Transgender termasuk golongan mental disorder yaitu transgender dysphoria dan gangguan seksual [sexual disfunction]. Hal dikutip Pdt. Dwidjo dari buku yang berjudul "Diagnostical and Statistical Manual 5th Edition". Dengan demikian, transgender adalah sumber dari lesbian dan biseksual.



Transgender dysphoria adalah seorang pria tidak bisa menerima kondisi dirinya sebagai seorang pria, melainkan merasa dirinya sebagai seorang perempuan. Demikian sebaliknya, seorang perempuan tidak bisa menerima dirinya sebagai perempuan melainkan berpikir dirinya adalah seorang laki-laki. Hal ini memicu stres dan depresi.



Pdt. Dwidjo mendefinisikan transgender sebagai suatu istilah klinis yang ditujukan terhadap perbedaan antara apa yang dirasakan diri orang tersebut sebagai laki-laki atau perempuan dengan apa yang nampak kasat mata di tubuhnya.



Kasat mata artinya seseorang secara fisik (tubuh) adalah laki-laki, namun bagian dalamnya dia merasa sebagai seorang perempuan.Istilah singkatnya yaitu Male to Female (Laki-laki yang merasa dirinya perempuan) atau Female to Male (Perempuan yang merasa dirinya laki-laki). Kondisi ini terjadi seiring dengan pertumbuhan [perkembangan] fisiknya, sehingga ia merasa berbeda.



Tiga Golongan LGBT. LGBT terbagi menjadi tiga golongan. Golongan pertama yaitu BEHAVIOUR [perilaku]. Termasuk golongan ini yakni para gay dan lesbian. Mereka nyata-nyata berperilaku [menghidupi] berpacaran atau menikah dengan sesama jenis. Mulai remaja dia tertarik, jatuh cinta dengan sesama jenis. Setelah dewasa tertarik untuk berhubungan seks dengan sesama jenis.



Sebenarnya, sejak kecil tipe ini sudah bisa terdeteksi seperti anak perempuan yang seharusnya bermain boneka, malah bermain pedang-pedangan, panjat pohon, panjat genteng, main pistol-pistolan alias dia menyukai mainan lawan jenisnya [laki-laki]. Demikian juga bisa sebaliknya, anak laki-laki yang suka mainan seperti boneka dan lain-lain.



Golongan kedua ialah ORIENTASI. Seseorang sadar jika dirinya senang dengan sesama jenis, tetapi ia masih bisa menahan diri. Golongan ini tahu bahwa orang yang normal akan menikah dengan lawan jenisnya, bukan sesama jenis. Ada kesaksian, seorang ibu yang sejak kecil seorang lesbi namun bertobat dan menerima mujizat sehingga ia kini menikah dengan seorang pria dan mempunyai anak.



Golongan ketiga yakni LATEN. Golongan ini diibaratkan hanya tinggal menunggu waktu saja. Ada faktor pencetus sehingga ia bisa menjadi lesbi atau gay. Faktor itu bisa disebabkan pergaulan, teman-teman di sekelilingnya. Mereka harus dibimbing agar ketika berada pada tahap orientasi, tidak naik status ke arah laten.



Hasil Riset dan Penyebab LGBT. Ketua Pembinaan Keluarga BPH GBI ini selanjutnya mengutip suatu riset yang menemukan hasil 100 bayi twin (satu telur, kembar) diteliti kelak menghasilkan 30 anak M To F (Male To Female), artinya secara fisik laki-laki namun kepribadiannya perempuan.



Sebaliknya 100 bayi twin, 22 % kelak menghasilkan F To M (Female To Male). Artinya secara fisik perempuan namun secara kepribadiannya adalah pria. Sementara itu, riset bayi yang bukan twin (kembar) hanya 2% saja.



Dari hasil riset tersebut, munculnya LGBT dipicu oleh faktor genetika. Genetika ini menentukan identitas seks. XX adalah perempuan dan XY adalah laki-laki. Sementara itu, ada gen lain yang berhubungan dengan fungsi otak. Gen itu berkaitan dengan produksi hormon.



Mengutip ahli biologi, pada bayi perempuan, hormon estrogen tidak bisa aktif, sehingga ketika ia lahir dan bertumbuh menjadi kepribadian laki-laki. Sebaliknya terjadi pada bayi laki-laki.



Gender Dysphoria [GID] dan Enam Karakteristik . Jenis ini secara kuat dan terus menerus menunjukkan identifikasi jenis jender yang berlawanan dengan dirinya [cross gender identification]. Pada anak, sejak kecil gangguan ini mempunyai ciri enam karakteristik yaitu :



Pertama, berulang-kali seseorang menyatakan keinginannya terus menerus ingin menjadi jenis kelamin lawan jenis : Male To Female atau Female To Male. Pada anak laki-laki, ia suka pakaian perempuan atau berambisi menjadi perempuan. Sebaliknya, anak perempuan suka pakaian anak laki-laki. Ada kasus anak perempuan dipaksa berpakaian seperti anak laki-laki [lingkungan].



Ia tidak suka permainan atau alat bermain yang sesuai dengan jenis jendernya. Untuk anak perempuan, ketika remaja kemudian muncul payu dara, ia tidak suka dan tidak nyaman. Ia juga suka berpakaian dan berpenampilan seperti anak perempuan. Saat remaja dan menuju dewasa, ia ingin merubah jenis kelaminya menjadi lawan jenisnya melalui cara operasi. Intinya, ia tidak nyaman dengan jati diri seksnya sendiri.



Jika seseorang bisa menjalankan peran kehidupannya secara baik dan berfungsi, maka seseorang tidak akan mengalami stres atau depresi. Pdt. Dwidjo memberikan contoh profesi-profesi yang biasa dijalankan wanita, namun bisa juga kini dilakukan para pria misalnya koki masak, penata rambut, disainer pakaian.



Kedua, seseorang anak tidak mendapatkan apa yang diharapkannya dari orang-tuanya. Ketiga, timbulnya relasi yang tidak efektif. Misalnya seorang ibu yang menuntut atau memaksa anaknya, over protective. Keempat, Ayah yang tidak stabil, anak laki-laki yang dikelilingi saudarinya perempuan, cara mengasuh anak laki-laki seperti anak perempuan, anak tertolak, orang-tua terlalu memanjakan anak.



Kelima, pengalaman [buruk] masa kecil, seperti alami pelecehan seks. Keenam, rasa takut. Penolakan oleh lawan jenis, alami pengalaman traumatik dengan lawan jenis. Kelima, pihak dirinya sendiri atau disengaja. Atas dasar fakta-fakta diatas, Pdt. Dwidjo mengatakan faktor penyebab munculnya LGBT adalah pola asuh orang tua terhadap anak yang kurang tepat dan genetika.



Solusi. Guna mengatasi masalah-masalah LGBT, Pdt. Dwidjo merekomendasikan agar para konselor Kristen bisa memberikan : 1. Pemahaman yang realistik kepada mereka. Artinya, LGBT bisa dihentikan [disembuhkan] dengan pertolongan dari Tuhan Yesus Kristus.



2. Membangun hubungan terpeutik dengan empati yang dalam antara pihak konselor dengan klien. 3. Memberikan dukungan bagi perubahan perilaku yang telah dicapai misalnya seorang klien dihimbau untuk menghindari kontak lagi dengan LGBT dan terus diingatkan tentang Yesus Kristus.



4. Membangun sistem keluarga yang sehat. 5. Memberikan pendidikan seks secara benar, jelas kepada anak. 6. Membangun konsep diri yang sehat, sehingga manusia bisa serupa dan segambar dengan Allah.



Visionary Parenting dan BSK. BPH GBI melalui Pembinaan Keluarga akan mensosialisasikan Visionary Parenting guna mempersiapkan orang tua yang bervisi. Pelatihan ini akan diadakan secara berjenjang yakni BPH GBI ke BPD-BPD, lanjut ke Perwil-Perwil dan gereja-gereja lokal GBI. Ada juga program BSK [Bapa Sepanjang Kehidupan], sembari Pdt. Dwidjo menutup presentasinya.



Materi diatas dikutip dari presentasi Pdt. Dr. dr. Dwidjo Saputro, SpKJ ketika menyampaikan presentasinya  pada acara Seminar Akademik LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual, dan Transgender) di Graha Bethel, Jakarta (Selasa, 12/4). Kegiatan ini digelar COF (Community of Faith), sebuah Komunitas Mahasiswa Pasca Sarjana dan Doktoral STT Bethel Indonesia Jakarta (Seminari Bethel) bekerja-sama dengan BPH GBI dan BPD GBI DKI Jakarta.