Berita Bethel
Penulis: Pram (10/05/2016)
Perekonomian Asean+6 Diproyeksi Capai US$23 Triliun


Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) antara negara-negara Asia Tenggara dinilai akan berperan penting terhadap perdagagan internasional dan mendorong pertumbuhan di Asia.Paul Skelton, Head of Commercial Banking HSBC Asia Pacific, menuturkan RCEP akan mengkolaborasikan 10 negara Asean dengan enam kekuatan ekonomi di sekitar kawasan tersebut, yakni Australia, Tiongkok, India, Jepang, Selandia Baru, dan Korea Selatan.



"Para ekonom HSBC memperkirakan bahwa kesepakatan RCEP akan menghasilkan manfaat ekonomi sekitar US$600 miliar atau 1,8% dari PDB para anggotanya," tuturnya dalam keterangan tertulis, Senin (9/5).



Secara keseluruhan, lanjutnya, perekonomian RCEP menyumbang sekitar 27% dari perdagangan dunia dan memiliki PDB gabungan sekitar US$23 triliun."Kesepakatan RCEP akan menjadi katalis/pendorong utama bagi pertumbuhan perdagangan di Asia dan di wilayah yang lebih luas lagi," ujar Skelton.



RCEP dinilai dapat mendorong pengurangan hambatan perdagangan dan birokrasi bagi dunia bisnis di Asean+6.Deregulasi tersebut, imbuhnya, menjadi arti penting bagi perusahaan yang sedang mencari pasar baru dan ingin bertumbuh.



Pembahasan RCEP terus diperdalam. Pada Juni 2016, negara-negara Asean+6 akan menggelar pertemuan di Selandia Baru.Pertemuan di Auckland itu akan menjadi ajang pembicaraan kerangkan RCEP ke-13.Pertemuan tersebut menjadi jembatan menjelang pertemuan puncak yang dijadwalkan akan diadakan di Laos pada September 2016.[Sumber : kabar24.bisnis.com/Foto : Istimewa].