Berita Bethel
Penulis: Pram (19/02/2015)
Kepemimpinan Transformasional


Sebagai seorang pemimpin yang berkarakter Kristus, sudah semestinya kita bukan hanya menjadi pemimpin yang mau melayani, tetapi juga mampu menjadi pemimpin yang dapat mengubah kondisi yang tidak baik menjadi baik. Bahkan, dapat mengubah cara berperilaku dan berpikir orang-orang yang kita pimpin. Itulah yang kita sebut kepemimpinan transformasional.



Untuk menjadi pemimpinyang transformasional, kita perlu banyak membaca dan belajar. Pastikan bahwa Anda termasuk pemimpin transformasional yang berkualitas.Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. (Yohanes 13:15) Gagasan mengenai pemimpin yang membawa perubahan atau pemimpin transformasional sudah mendengung sejak beberapa tahun yang lalu. Berbagai definisi pun muncul mengenai pemimpin transformasional. Satu dari sekian definisi mengatakan bahwa kepemimpinan transformasional adalah suatu proses di mana pemimpin dan yang dipimpin saling menolong untuk mengembangkan diri menuju level moral dan motivasi yang lebih tinggi (James MacGregor Burns, pakar kepemimpinan dan penulis yang pertama kali memunculkan konsep kepemimpinan transformasional pada tahun 1978).



Secara implisit, definisi ini menunjukkan bahwa transformasi/perubahan yang diharapkan tidak terjadi hanya pada bawahan/pengikut saja, tetapi juga pada pemimpin itu sendiri. Pemikiran yang sering kali salah dalam diri pemimpin adalah dia mengharapkan pengikutnya berubah, tanpa dia sendiri berubah.Kunci perubahan yang pemimpin harapkan terjadi sebenarnya terletak pada kepemimpinannya itu sendiri. Saat ini, ada banyak model kepemimpinan yang dikembangkan di seluruh dunia. Namun, sebenarnya kita, sebagai pemimpin Kristen, telah memiliki teladan kepemimpinan yang sempurna dalam diri Yesus.



Tidak ada pemimpin lain yang memiliki pengaruh sedemikian besar sehingga melebihi pengaruh yang diberikan oleh Yesus Kristus. Dia telah mengubahkan banyak orang, tradisi yang salah, pemikiran yang keliru, dan sebagainya. Oleh karena itu, merupakan langkah yang tepat jika kita menjadikan kepemimpinan Yesus sebagai pola yang perlu kita ikuti untuk menjadi seorang pemimpin yang transformasional. Jelas ada banyak hal yang dikerjakan Yesus dalam kepemimpinan-Nya, tetapi di sini hanya akan diambil tiga poin dasar kepemimpinan-Nya sebagai tip untuk mengembangkan kepemimpinan kita untuk menjadi pemimpin yang transformasional.

1. Mengetahui Visi

Secara sederhana, visi dapat didefinisikan sebagai titik akhir yang hendak dituju. Seorang pemimpin harus mengetahui ke arah mana dia akan membawa para pengikutnya. Visi akan menjadi panduan atau petunjuk yang membuat pemimpin tidak keluar dari jalurnya. Ketika Yesus pertama kali membangun tim-Nya (memanggil murid-murid-Nya), Dia menyampaikan visi-Nya kepada mereka: "... Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia" (Matius 4:19).



Yesus dengan jelas mengetahui transformasi/perubahan apa yang Dia inginkan terjadi pada orang-orang yang akan menjadi bagian dalam tim-Nya, yaitu perubahan pola pikir.Sebelum dipanggil Yesus, para murid adalah penjala ikan, yaitu orang-orang yang lebih sering menyibukkan diri untuk memenuhi kebutuhan jasmani daripada hal-hal rohani atau tentang Kerajaan Allah. Sehari-hari, mungkin mereka lebih banyak berpikir tentang apakah cuaca hari ini bagus untuk melaut atau tidak, apakah jala yang mereka punya masih baik atau sudah koyak, apakah perahu mereka perlu diperbaiki atau tidak. Semua pemikiran itu lebih tertuju kepada diri mereka sendiri. Namun, ketika Yesus mengatakan bahwa Ia akan menjadikan mereka penjala manusia, detik itu menjadi awal dari proses perubahan yang akan mereka alami. Pada akhirnya, Yesus membawa mereka menjadi orang-orang yang hidup untuk Kerajaan Allah. Yesus mentransformasi para pengikut-Nya menuju visi yang sudah diberitahukan-Nya kepada mereka. Ingat, pemimpin yang buruk adalah pemimpin yang tidak memiliki visi.

2. Mengetahui Jalan Menuju Perubahan. Dalam suatu perjalanan, para murid memperdebatkan tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Tampaknya, para murid mulai menyadari perubahan yang mereka alami sejak mengikut Yesus. Mereka mungkin sudah memprediksi bahwa mereka akan menjadi orang yang lebih "hebat" daripada sebelumnya. Masalah muncul ketika mereka berpikir siapa dari kedua belas murid itu yang akan menjadi "yang terbesar". Meski sudah mengikut Yesus, para murid rupanya belum mengetahui jalan yang tepat menuju puncak perubahan itu. Yesus menunjukkan jalan menuju perubahan itu dengan berkata, "... Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu," (Markus 10:43). Pada kesempatan lain, Yesus menjelaskan dengan, "Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga" (Matius 18:4).

Pada banyak jenis kepemimpinan sekuler, "rendah hati" hampir tidak pernah menjadi bagian dari sebuah kepemimpinan. Rendah hati tidak dilihat sebagai nilai yang dapat menghasilkan pengaruh dan perubahan dalam sebuah kepemimpinan. "Saya ingin memiliki pengaruh yang besar dalam kepemimpinan. Bagaimana mungkin Anda menyuruh saya "membasuh kaki" para pengikut saya?". Mungkin seperti itu tanggapan yang sering kita jumpai dari para pemimpin. Namun, Yesus berpendapat lain. Ia berpendapat bahwa "rendah hati" adalah fondasi utama menuju kepemimpinan yang transformasional.

Kata kunci dalam definisi kepemimpinan transformasional tadi adalah "saling". Pemimpin dan yang dipimpin saling menolong menuju suatu level yang lebih tinggi. Tahukah Anda bahwa kita tidak akan dapat "saling" tanpa memiliki kerendahan hati? Kita akan dengan mudah menerima pujian, penghargaan, dan kata-kata positif lain yang ditujukan kepada kita.



Namun, tidak demikian dengan kritik, masukan, saran, ide dari orang lain. Anda akan membutuhkan "kerendahan hati" untuk bisa menerima semua itu, terutama saat kritik, saran, masukan, dan ide itu datang dari orang-orang yang kita anggap "lebih rendah" dari kita. Yesus dengan jelas mengetahui fondasi utama yang dibutuhkan para pemimpin untuk menciptakan transformasi. Ingat, perubahan selalu dimulai dari diri sendiri. Dan, pemimpin tidak akan berubah atau membawa perubahan apa pun dalam kepemimpinannya tanpa kerendahan hati. Kerendahanhatilah yang memberi Anda ruang untuk mengubah hidup, cara berpikir, dan kepemimpinan Anda.

3. Jiwa Penatalayan, Bukan Pemilik.Menawarkan opsi kepemilikan saham, baik sebagian ataupun seluruhnya, sudah banyak dilakukan oleh para pemimpin perusahaan dalam membangun tim dalam perusahaan tersebut. Tujuannya jelas adalah supaya setiap orang yang membeli saham yang ditawarkan merasa "memiliki" perusahaan tersebut. Ini merupakan suatu gambaran nyata betapa dunia membiasakan kita untuk mempunyai jiwa "memiliki".

Kebiasaan inilah yang pada akhirnya mengaburkan kita dari prinsip penatalayan yang Yesus ajarkan dalam Matius 25:14-30. Kita merasa bahwa semua yang ada pada kita adalah milik kita sehingga kita merasa keberatan jika kekayaan kita, baik kekayaan intelektual, moral, ataupun material, digunakan bahkan untuk pelayanan.



Betapa banyaknya pemimpin yang enggan "mentransfer ilmu" mereka ke bawahan ataupun sesama pemimpin, tetapi mengharapkan transformasi/perubahan terjadi dalam kepemimpinannya.Yesus memandang penatalayan sebagai sikap dasar yang harus dipelajari pemimpin transformasional. Penatalayan adalah orang yang dipercaya mengelola dan memelihara milik orang lain. Inilah perintah yang sejak awal disampaikan Allah kepada manusia (Kejadian 2:15).



Artinya, seorang penatalayan memiliki kewajiban untuk bertanggung jawab kepada pemilik yang memberikan kepercayaan kepadanya. Pola pikir inilah yang akan mengubahkan seorang pemimpin Kristen untuk mau dibentuk, berbagi, dan merelakan semuanya untuk kebesaran sang pemilik harta yang sesungguhnya, yaitu Tuhan. Dunia mungkin mengajarkan bahwa seorang pemimpin transformasional haruslah kreatif,inovatif, memiliki banyak ide, berpengetahuan luas, memiliki banyak pengalaman, dsb., tetapi tanpa jiwa penatalayan, semua itu tidak akan dikembangkan, baik dalam diri sendiri ataupun dalam tim.



Hamba yang menerima satu talenta dalam Matius 25 adalah contoh orang seperti itu. Ia dipercaya dengan satu talenta, tetapi ia memilih untuk memendamnya, tidak mengembangkannya. Seorang pemimpin tidak akan mengubah apa pun ketika dia hanya "memendam" apa yang dipercayakan oleh Tuhan kepadanya.



Coretlah jabatan apa pun yang terdapat dalam kartu nama Anda dan gantilah itu dengan "penatalayan", kemudian perhatikan perubahan apa yang akan terjadi dalam kepemimpinan Anda. Aplikasikan ini juga pada tim Anda, maka tim Anda akan meningkatkan tanggung jawab bukan hanya kepada Anda, melainkan juga kepada Tuhan.Menarik untuk diperhatikan bahwa dalam perumpamaan tentang talenta tersebut, ketiga hamba tidak diceritakan melakukan apa pun sebelumnya yang menentukan banyaknya jumlah talenta yang dipercayakan kepada mereka.



Sang pemilik memercayakan talentanya bukan berdasarkan apa yang dilakukan para hamba itu. Artinya, para hamba tersebut menerima karunia "kepercayaan" dari tuan mereka secara cuma-cuma. Inilah yang kemudian mendorong hamba yang menerima dua dan lima talenta untuk mengembalikan seluruh pengembangan yang mereka hasilkan kepada sang pemilik.



Sekali lagi, jiwa seorang penatalayan yang baik tidak akan menggunakankeuntungan/pengembangan yang telah mereka lakukan untuk kepentingan mereka sendiri, tetapi mengembalikan seluruhnya kepada sang pemilik.Pemimpin mungkin pernah merasa bahwa dialah yang sejak awal telah bekerja keras sehingga tim/perusahaannya berkembang. Perasaan ini membuatnya enggan untuk mengembalikan seluruhkeuntungan kepada pemilik yang sebenarnya. Dan, ketika kita tidak mengembalikannya kepada Tuhan, kita tidak akan dipercaya untuk melakukan hal yang lebih besar. Jika hamba itu tidak mengembalikan semuanya kepada pemiliknya, sang pemilik tidak akan berkata, "... engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar ...." (Matius 25:21).



Jika kita mengklaim bahwa perubahan yang terjadi dalam tim/perusahaan adalah usaha/perjuangan kita sendiri, sehingga kita tidak bersedia mengembalikan hasilnya kepada Tuhan, tanggung jawab yang akan menghasilkan perubahan yang lebih besar tidak akan lagi dipercayakan Tuhan kepada kita. Ingat, penatalayan hanya bertanggung jawab untuk memelihara dan mengembangkan, bukan untuk menghaki yang Tuannya percayakan kepadanya.  (e-Leadership/Berlin B).