Berita Bethel
Penulis: Pram (17/05/2016)

Perpustakaan Umum di Era Digital


Ketika membahas keputusan Mahkamah Agung Amerika baru-baru ini untuk menolak meninjau ulang gugatan sekelompok penulis yang merasa dirugikan oleh perpustakaan digital Google, seorang pendengar acara America Now bertanya tentang keberadaan perpustakaan di komunitas Amerika.



Apakah perpustakaan juga berubah sejalan dengan perkembangan teknologi digital?. Seperti dilaporkan berbagai media Amerika minggu ini, para hakim Mahkamah Agung mengukuhkan putusan pengadilan yang lebih rendah dan membatalkan klaim lembaga tertua dan terbesar yang menaungi para penulis, Authors Guild, bahwa digitalisasi yang dilakukan Google terhadap 20 juta lebih buku pada tahun 2004 sama saja dengan “pelanggaran hak cipta dalam skala besar” dan menghalangi kemampuan mereka menjual buku.





Google menciptakan cara baru untuk memudahkan pencarian buku berkat kerja sama dengan sejumlah mitra, termasuk perpustakaan-perpustakaan besar milik universitas, seperti Harvard, Columbia, dan Cornell. Dalam mesin pencari data yang disebut Google Books ini, buku-buku yang masih dilindungi hak cipta tidak akan ditampilkan seluruhnya, hanya indeks dan ringkasan untuk memudahkan pencarian atau pembelian buku, baik buku elektronik maupun buku biasa, tetapi buku yang sudah berada dalam ranah publik dapat diunduh sepenuhnya.



Perpustakaan-perpustakaan yang menjadi mitra Google telah diuntungkan dalam hal pengadaan buku-buku digital yang kemudian dirasakan juga oleh masyarakat. Jadi rasanya sah-sah saja bahwa MA itu menyatakan Google tidak menyalahi aturan ‘penggunaan yang adil’ seperti yang ditetapkan undang-undang di Amerika Serikat.



Bagaimana dengan perpustakaan umum di berbagai komunitas Amerika?. Sebelumnya memang ada kecemasan bahwa penjualan buku akan merosot dengan tersedianya buku-buku digital di perpustakaan umum, bahwa perpustakaan akan membeli satu buku elektronik atau e-book dan kemudian buku itu disirkulasikan kepada semua orang di Amerika.



Tapi dengan teknologi yang semakin canggih, kekawatiran itu bisa diatasi. Sekarang lima perusahaan penerbitan terbesar di Amerika telah bekerja sama dengan perpustakaan, termasuk dalam pemasaran buku, sementara bagi sebagian besar penerbitan kecil dan independen, perpustakaan menjadi pasar terbesar mereka.



Perpustakaan banyak yang sudah memperluas dukungannya bagi penerbit kecil di tingkat komunitas sebagai cara untuk membantu individu berbagi karya kreatif mereka, sejalan dengan semakin mudahnya menerbitkan dan mendistribusikan buku digital.



Dengan menjamurnya pembaca buku eletronik dan download digital, mudah membayangkan bahwa pembaca buku cetak perlahan akan lenyap. Tapi prediksi itu sepertinya meleset, kata Jeffrey Schnapp dan Matthew Battles, penulis buku “The Library Beyond the Book.” Rak buku pada masa depan tidak akan sepenuhnya virtual, dan perpustakaan akan berkembang dengan berbagai bentuk sosial, budaya, dan arsitektur yang baru.



Selain itu, masih banyak orang yang memilih buku cetak dengan alasan kesehatan mata, kenikmatan tersendiri membuka lembaran buku dan menulis cacatan kecil langsung di halaman itu sehingga ada keterdekatan khusus, atau bahkan ada yang mengatakan suka dengan bau buku baru.



Survei terbaru oleh Pew Research Center, yang dirilis 7 April lalu dalam konferensi tahunan Public Library Association di Denver, menunjukkan semakin sedikit orang Amerika mengunjungi perpustakaan, yang artinya banyak orang kehilangan kesempatan untuk menikmati perubahan yang ditawarkan institusi tersebut sejalan dengan perubahan zaman.



Menurut survei itu, banyak orang tidak tahu bahwa perpustakaan di komunitas mereka menawarkan berbagai program dan layanan baru seperti buku digital yang bisa bisa dipinjam secara online, bantuan untuk ujian persamaan SMA, dan “makerspace” atau bengkel kreatif, di mana orang dapat berbagi proses pembuatan satu produk, mencari inspirasi, dan berhubungan dengan orang-orang dengan minat yang sama.



Information Policy and Access Center di University of Maryland, menyebut 90 persen perpustakaan umum di Amerika memiliki program peminjaman buku digital atau e-book.Memang selama ini perpustakaan tidak mengalokasikan dana yang cukup untuk bidang humas dan itu harus diubah, kata sejumlah pustakawan yang menghadiri konferensi Public Library Association tersebut.



Denver City Library, misalnya menaikkan anggaran sampai 30% untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang layanan-layanan baru yang ditawarkan.



Masa depan perpustakaan, kata Matthew Battles, bukan ditentukan oleh para peneliti, pembuat kebijakan atau pustakawan yang ingin menyelamatkan pekerjaan mereka, tetapi ditentukan oleh dialognya dengan masyarakat. Apakah lembaga ini masih menjawab kebutuhan komunitasnya.



Perpustakaan, kata pakar sosiologi Ray Oldenburg adalah “tempat ketiga,” selain ruang kerja dan rumah, yang secara universal dapat menjadi tempat berkumpul dan bergaul dengan bebas tanpa merasa seperti orang yang luntang-lantung atau pengangguran.



Penulis Inggris Caitlin Moran yang meratapi penutupan perpustakaan umum di negaranya, menyebut perpustakaan di tengah-tengah masyarakat adalah bait untuk pikiran; rumah sakit untuk jiwa; taman imajinasi. Di pulau yang dingin hujan dan sering hujan, ujarnya, perpustakaan adalah satu-satunya ruang publik yang terlindung di mana Anda hanya sebagai warga negara bukan konsumen kedai dan toko, mal-mal di mana uang Anda membuat orang kaya semakin kaya.



Peran perpustakaan umum di Amerika sudah berkembang dari sekedar ruang untuk menyimpan dan meminjamkan bahan pustaka, menjadi pusat kegiatan komunitas yang menawarkan ruang pertemuan, laboratorium media digital, pusat sumber daya masyarakat, ruang seni, bengkel kreativitas dan lain-lain.



Fungsi-fungsi yang mengikuti kemajuan teknologi tersebut dapat dilihat dari desain-desain perpustakaan modern yang baru, seperti perpustakaan James B. Hunt, Jr. Library di kampus North Carolina State University yang tampak seperti museum.



Tren sebagai “makerspace”, inkubator untuk usaha kecil, dan program-program untuk mendukung pengusaha dan tenaga kerja baru sekarang biasa didapati di perpustakaan konvensional di Amerika.Dengan fokus yang lebih besar pada pengguna, perpustakaan juga bereksperimen dengan cara-cara baru untuk mengatur dan menampilkan koleksi dan menata kembali misi American Library Association untuk meningkatkan pembelajaran dan menjamin akses informasi bagi semua kalangan.



Menjembatani kesenjangan digital merupakan aspek yang penting dalam pemberdayaan masyarakat. Di AS, 15 persen penduduk masih belum memiliki akses ke Internet; 25 persen lainnya tidak memiliki akses ke komputer.



Perpustakaan modern sangat penting bagi komunitas yang kekurangan, sebagai tempat di mana semua orang disambut untuk berkumpul, bekerja, meminjam bahan pustaka atau hanya untuk mengisi waktu luang.[Sumber : www.voaindonesia.com/Foto : Ilustrasi].